Pengamat Soroti Perombakan Kabinet Metro Bahagia: Enam Bulan Tidak Ada Progres, Evaluasi
Pengamat kebijakan publik Universitas Dharma Wacana Metro, Dr. (Cand) Ari Gusnita. Foto: Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Metro - Perombakan besar-besaran terhadap
belasan pejabat tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Kota Metro menuai
sorotan dari kalangan akademisi. Rolling jabatan yang disebut-sebut sebagai
bagian dari konsolidasi Kabinet Metro Bahagia itu dinilai bukan sekadar rotasi
rutin birokrasi, melainkan momen krusial yang akan menguji konsistensi
kepemimpinan Wali Kota Bambang Iman Santoso.
Pengamat kebijakan publik Universitas Dharma Wacana Metro, Dr.
(Cand) Ari Gusnita, menegaskan bahwa mutasi pejabat eselon II harus dibaca
sebagai langkah strategis, bukan administratif semata.
“Rolling jabatan belasan pejabat tinggi di Kota Metro ini adalah
momentum penting. Ini bukan sekadar memindahkan orang dari satu kursi ke kursi
lain, tetapi tentang bagaimana wali kota menempatkan pembantunya secara tepat
untuk memastikan pelayanan publik berjalan maksimal,” ujar Ari saat dimintai
tanggapannya, Rabu (25/2/2026).
Menurut Ari, pernyataan tegas wali kota dalam pelantikan yang
menekankan tidak adanya jual beli jabatan serta ancaman sanksi keras bagi yang
bermain-main dengan posisi, menjadi standar moral yang tinggi. Namun, kata dia,
pernyataan itu harus dibuktikan dalam praktik.
“Ini ujian konsistensi. Jika memang prosesnya bersih dan
berbasis merit, maka publik akan melihat adanya peningkatan kinerja dalam waktu
dekat. Tapi jika ternyata ada pejabat yang ditempatkan tidak sesuai
kompetensinya, maka wacana integritas itu akan dipertanyakan,” tegasnya.
Ia menilai, dalam tata kelola pemerintahan modern, rotasi
jabatan tidak bisa dilepaskan dari prinsip meritokrasi yakni penempatan
berdasarkan kompetensi, rekam jejak, dan kebutuhan organisasi.
Wanita yang juga merupakan Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik (FISIP) UDW Metro itu secara terbuka menyoroti potensi
ketidakmampuan sejumlah pejabat yang ditempatkan sebagai kepala dinas, namun
latar belakang dan pengalaman kerjanya dinilai tidak linier dengan jabatan baru
yang diemban.
“Masalahnya bukan pada siapa orangnya, tetapi apakah ia punya
kompetensi yang relevan. Jabatan kepala dinas bukan posisi coba-coba. Kesalahan
menempatkan orang bisa berdampak pada stagnasi program bahkan kerugian
kebijakan,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa dinas-dinas strategis seperti perhubungan,
kesehatan, perencanaan pembangunan, hingga penanaman modal membutuhkan pemimpin
yang memahami substansi teknis dan manajerial secara mendalam.
“Kalau hanya karena kedekatan, loyalitas, atau pertimbangan
non-teknis lainnya, maka itu berisiko. Pemerintahan akan berjalan lambat, dan
masyarakat yang menjadi korban,” tambahnya.
Perombakan kabinet daerah ini terjadi di tengah evaluasi publik
terhadap kinerja setahun pemerintahan Bambang–Rafieq. Sejumlah program
prioritas sebelumnya telah disorot berbagai kalangan, sehingga rotasi pejabat
dinilai sebagai langkah korektif sekaligus strategis. Namun Ari mengingatkan,
rotasi tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
“Pergantian pejabat bukan solusi instan. Yang dibutuhkan adalah
sistem evaluasi yang transparan dan terukur. Harus ada target kinerja yang
jelas untuk masing-masing kepala dinas. Kalau dalam enam bulan tidak ada
progres, ya harus dievaluasi lagi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya wali kota menjaga jarak
profesional dengan para pembantunya. “Wali kota harus berani mencopot siapa pun
yang tidak perform, meskipun itu orang dekat. Di situlah konsistensi diuji,”
tegasnya.
Lebih jauh, Ari menilai perombakan besar-besaran selalu memiliki
dua sisi, konsolidasi kekuatan atau potensi friksi internal birokrasi.
“Kalau tidak dikelola dengan baik, rolling ini bisa memunculkan
resistensi di internal ASN. Tapi kalau dikawal dengan sistem merit dan
komunikasi yang baik, justru bisa menjadi energi baru,” ungkapnya.
Menurutnya, wali kota saat ini berada di titik penting, antara
memperkuat legitimasi kepemimpinannya atau menghadapi kritik lanjutan jika
hasil kerja tidak sesuai ekspektasi.
“Sekarang bola ada di tangan wali kota. Publik tidak lagi
melihat siapa dilantik, tapi apa yang dikerjakan setelah dilantik,” tandasnya.
Perombakan Kabinet Metro Bahagia pun kini bukan sekadar catatan
seremonial pelantikan. Pelantikan tersebut telah berubah menjadi ujian nyata,
apakah kepemimpinan akan konsisten pada integritas dan kompetensi, atau justru
terseret dalam pusaran politik birokrasi yang berulang. (*)
Berita Lainnya
-
Heboh Paket MBG Minim di Metro, Satgas Sebut Terjadi Human Error
Rabu, 25 Februari 2026 -
Pengacara Korban Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Penggelapan Mobil Oleh Ari Ubenz, Diduga Libatkan Oknum Aparat
Rabu, 25 Februari 2026 -
Menu MBG Dikeluhkan, SPPG Iringmulyo Minta Maaf Lewat Selebaran
Selasa, 24 Februari 2026 -
Usai Viral, Gubernur Lampung Janji Gelontorkan Rp 10 Miliar Perbaiki Jalan Pattimura Metro Habis Lebaran
Senin, 23 Februari 2026









