• Selasa, 24 Februari 2026

Menu MBG Dikeluhkan, SPPG Iringmulyo Minta Maaf Lewat Selebaran

Selasa, 24 Februari 2026 - 13.20 WIB
171

Potret isi menu MBG siswa SDN 2 Metro Timur yang hanya tiga butir telur puyuh rebus, satu buah apel merah. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Metro - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai bentuk nyata keberpihakan negara terhadap generasi muda, kembali menuai sorotan di Kota Metro. Kali ini, keluhan datang dari orangtua siswa di SDN 2 Metro Timur yang mempertanyakan kelayakan menu yang diterima anak-anak mereka pada Selasa (24/2/2026).

Alih-alih menerima paket makanan lengkap sebagaimana tercantum dalam daftar menu, para siswa hanya mendapatkan tiga butir telur puyuh rebus, satu buah apel merah, dan selembar kertas berisi permohonan maaf dari pihak SPPG Iringmulyo yang diselipkan di dalam box MBG.

Peristiwa tersebut terjadi di wilayah operasional SPPG Iringmulyo, Kecamatan Metro Timur. Ironisnya, dalam selebaran resmi yang dibagikan, pihak SPPG justru menjelaskan adanya kendala internal sehingga menu hari itu tidak dapat didistribusikan secara utuh.

Dalam surat tersebut tertulis bahwa menu Selasa, 24 Februari 2026, untuk porsi besar seharusnya berisi dua lembar roti tawar, tiga butir telur puyuh, satu slice keju, dan satu buah apel. Sementara porsi kecil terdiri dari roti manis, tiga butir telur puyuh, dan apel. Namun realisasi di lapangan jauh dari yang dijanjikan. Roti dan keju tidak tampak di dalam kotak makanan yang diterima siswa.

Isi surat permohonan maaf dalam selebaran itu berbunyi:

"Sebelumnya mohon maaf Bapak dan Ibu wali murid dikarenakan kami dari SPPG terdapat kendala internal terkait satu menu sebelumnya yang tidak terduga di luar kemampuan kami. Maka dari itu menu yang kami berikan hari ini belum semua kami distribusikan sebab kami mengganti menu sebelumnya dan untuk bahan baku baru harus memesan terlebih dahulu. Untuk menu kekurangan akan kami distribusikan berbarengan dengan menu besok. Sekian konfirmasi dari kami. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan kami," tulis pihak SPPG dalam selebaran kertas tersebut.

Permintaan maaf itu justru memantik kekecewaan baru. Pasalnya, ini bukan kali pertama menu MBG dipersoalkan. Sebelumnya, orangtua siswa juga mengeluhkan tidak adanya susu dalam paket makanan, bahkan disebut hanya dibagikan kepada guru. Iwan, salah satu orangtua siswa, mengaku heran dengan kondisi tersebut.

“Bukannya makin baik, ini kok semakin berkurang. Kemarin susunya tidak ada, katanya cuma untuk guru saja. Sekarang malah cuma apel dan tiga telur puyuh yang dibungkus plastik klip. Maksudnya apa," ujarnya kepada awak media.

Ia menilai ada yang tidak beres dalam pengelolaan program tersebut. Terlebih, publik mengetahui bahwa anggaran MBG disebut mencapai Rp15 ribu per siswa.

“Kalau mau korupsi ya kira-kira dong. Sudah dianggarkan Rp15 ribu per siswa, kok hasilnya begini. Ini tidak bisa dibiarkan. Harus segera dilaporkan ke koordinator SPPG Kota Metro,” tegasnya.

Kritik serupa juga diarahkan kepada Pemerintah Kota Metro agar tidak tutup mata terhadap dugaan penyimpangan anggaran. Terlebih, saat ini memasuki bulan Ramadan di mana menu MBG dikemas dalam bentuk kering. Orangtua mempertanyakan rasionalitas harga paket yang dinilai jauh dari nominal yang disebutkan.

Program MBG sendiri merupakan bagian dari kebijakan nasional yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebagai upaya peningkatan gizi anak dan penanganan stunting. Dengan semangat tersebut, publik berharap implementasinya di daerah berjalan transparan dan akuntabel.

Sementara itu, Kepala SDN 2 Metro Timur, Zulkarnaen, membenarkan adanya kekurangan menu pada hari tersebut. Ia menyebut pihak sekolah telah lebih dulu berkoordinasi dengan SPPG sebelum pembagian dilakukan.

“Kebetulan sebelum dibagikan sudah koordinasi dulu. Ternyata memang bahannya kurang dan di dalam kotak MBG ada surat pemberitahuan,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Menurutnya, pihak SPPG berjanji akan melengkapi kekurangan tersebut pada distribusi hari berikutnya.

“Jadi kata SPPG-nya besok akan dipenuhi. Kita sudah berkomunikasi, maka di setiap box MBG ada surat permohonan maaf untuk pemenuhan hari ini akan dilengkapi besok,” tandasnya.

Meski demikian, persoalan ini menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana sistem pengawasan distribusi MBG di tingkat kota. Apakah kendala internal cukup menjadi alasan atas berkurangnya menu yang seharusnya diterima siswa.

Program yang menyentuh langsung kebutuhan dasar anak-anak sekolah semestinya dikelola dengan perencanaan matang dan kontrol ketat. Ketika isi kotak makan tak lagi sesuai daftar menu, kepercayaan publik ikut terkikis.

Kini, masyarakat menanti langkah tegas dari koordinator SPPG Kota Metro dan Pemerintah Kota Metro untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar apel dan telur puyuh, melainkan komitmen terhadap kualitas gizi dan masa depan anak-anak. (*)