• Senin, 23 Februari 2026

Usai Viral, Gubernur Lampung Janji Gelontorkan Rp 10 Miliar Perbaiki Jalan Pattimura Metro Habis Lebaran

Senin, 23 Februari 2026 - 16.18 WIB
210

Gubernur Lampung, Rahmad Mirzani Djausal saat meninju kondisi jalan Pattimura yang rusak parah. Foto: Arby/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Desakan publik yang menggema di berbagai platform media sosial dan media massa akhirnya memaksa Pemerintah Provinsi turun tangan. Setelah kondisi Jalan Pattimura di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara viral karena rusak parah dan dikeluhkan warga selama bertahun-tahun, Rahmad Mirzani Djausal turun langsung ke lokasi, Senin (23/2/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.

Kedatangan orang nomor satu di Provinsi Lampung yang akrab disapa Iyay Mirza itu bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia menyusuri badan jalan yang berlubang, bergelombang, dan tergenang air di sejumlah titik. Lubang-lubang menganga terlihat ditutup sementara dengan material seadanya, sementara sisi kiri kanan jalan dipenuhi saluran yang tersumbat.

Di hadapan warga dan jajaran pejabat yang mendampingi, Gubernur tak menampik kondisi memprihatinkan tersebut. Ia bahkan mengakui bahwa Jalan Pattimura saban tahun diperbaiki, namun kerusakan terus berulang.

“Iya hari ini kita melakukan pengecekan. Jalan Pattimura ini kan setiap tahun kita lakukan perbaikan, kok rusak terus. Saat kita cek ternyata banyak saluran-saluran yang tidak pernah dibersihkan dan banyak ditutup oleh warga sehingga airnya menggenang dan naik ke jalan sehingga merusak jalan. Ini sedang kita perbaiki lagi jalannya,” ujar Mirza.

Menurutnya, persoalan utama bukan semata pada konstruksi jalan, melainkan pada sistem drainase yang tidak berfungsi optimal. Banyak saluran air tertutup bangunan atau sedimentasi yang tak pernah dinormalisasi. Akibatnya, air hujan meluap dan merendam badan jalan hingga merusak struktur aspal.

Tak ingin polemik berlarut, Gubernur memastikan perbaikan total akan dilakukan usai Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Anggaran yang digelontorkan pun tidak kecil.

“Habis lebaran kita perbaiki. Sekitar Rp10 miliar kita gelontorkan. Perbaikannya nanti rigid, habis lebaran. Diperbaiki kanan kiri jalan, termasuk irigasinya,” tegasnya.

Skema rigid pavement atau pengecoran beton dipilih agar konstruksi lebih kuat dan tahan terhadap genangan air maupun beban kendaraan berat. Perbaikan disebut tidak hanya menyasar badan jalan, tetapi juga pembenahan drainase secara menyeluruh agar masalah klasik tidak terulang.

Sementara menunggu proses lelang dan pengerjaan permanen, Pemprov Lampung melakukan penanganan darurat dengan menutup lubang-lubang besar agar arus mudik dan mobilitas warga menjelang lebaran tetap aman.

“Untuk saat ini yang diperbaiki menutupi lubang-lubang, supaya nanti lebaran bisa nyaman. Jadi penanganan ini hanya sementara sampai nanti teman-teman bekerja sehabis lebaran,” tambahnya.

Bagi warga Banjarsari, janji ini bukan yang pertama kali mereka dengar. Jalan Pattimura sudah bertahun-tahun menjadi keluhan. Tambal sulam kerap dilakukan, namun tak pernah menyentuh akar persoalan. Dalam hitungan bulan, aspal kembali terkelupas dan lubang baru bermunculan. Kokom, salah satu warga setempat, menyampaikan harapannya langsung kepada Gubernur.

“Terima kasih Pak Gubernur sudah mau turun melihat langsung kondisi Jalan Pattimura yang rusak ini. Kami warga berharap bapak bisa menepati janji melakukan perbaikan total sehabis lebaran,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa jalan tersebut sudah lama rusak dan belum pernah diperbaiki secara menyeluruh.

“Jalan ini sudah lama sekali rusak, sudah bertahun-tahun dan tidak pernah sekalipun diperbaiki total. Perbaikan yang rutin cuma tambal sulam dan tidak lama itu rusak lagi. Kami mohon Pak Gubernur bisa benar-benar menepati janji perbaikan jalan ini habis lebaran,” imbuhnya.

Viralnya Jalan Pattimura menjadi bukti bahwa tekanan publik kini tak bisa dipandang sebelah mata. Media sosial dan Media massa menjelma menjadi ruang kontrol yang efektif terhadap kebijakan dan respons pemerintah.

Jalan Pattimura bukan sekadar akses penghubung antarwilayah di Metro Utara. Jalan tersebut merupakan urat nadi ekonomi warga, jalur aktivitas pelajar, pedagang, hingga kendaraan logistik. Kerusakan bertahun-tahun bukan hanya soal infrastruktur, melainkan soal rasa keadilan pelayanan.

Pasca peninjauan ini, warga menunggu bukan lagi sekadar tambal sulam, melainkan bukti konkret bahwa janji perbaikan total benar-benar ditepati. Jika tidak, viral berikutnya mungkin tak hanya soal lubang di jalan, tetapi lubang kepercayaan terhadap pemerintah. (*)