• Senin, 23 Februari 2026

Kunjungi BB Pustaka Bogor, Mentan Amran Atensi pada Buku Antiquriat Terbitan Abad 16

Senin, 23 Februari 2026 - 12.08 WIB
21

Mentan Andi Amran Sulaiman saat mengunjungi BB Pustaka di Kota Bogor, Jawa Barat. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Koleksi Antiquariat (buku kuno) berjudul Historia Generalis Plantarum karya Jacques Dalechamps, naturalis asal Lyon, Prancis pada abad ke-16 menjadi salah satu literasi penting tentang pertanian Indonesia. 

Buku langka terbitan 1586, kini tersimpan baik di Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) lingkup Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian RI (BPPSDMP Kementan).

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menaruh perhatian khusus pada buku kuno sekaligus langka berjudul  Historia Generalis Plantarum, karya botani komprehensif dua volume, saat mengunjungi BB Pustaka di Kota Bogor, Jawa Barat didampingi Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP; Karo Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kementan, Mochammad Arief Cahyono dan sejumlah pejabat Kementan pada Sabtu (21/2).

"Buku Historia Generalis Plantarum merupakan salah satu karya botani terlengkap pada zamannya, mencakup deskripsi mendalam dan ilustrasi ribuan spesies tanaman, yang layak menjadi referensi pertanian Indonesia," kata Mentan Amran.

Diketahui, buku Historia Generalis Plantarum karya Jacques Dalechamps (1513 - 1588) pertama kali diterbitkan pada 1586 terdiri atas 18 buku (libros 18) yang disusun berdasarkan kelas-kelas tertentu.

Mentan Amran menambahkan, buku Historia Generalis Plantarum adalah karya penting, sebagai salah satu ensiklopedia botani Renaisans paling rinci, menggabungkan pengetahuan klasik dengan pengamatan lapangan baru.

Sementara istilah Historia Plantarum juga digunakan untuk karya John Ray (1686) dan karya klasik Theophrastus, namun Historia Generalis Plantarum tahun 1586 secara khusus dikaitkan dengan Dalechamps.

"Literasi pertanian bukan sekadar aktivitas membaca atau mengakses informasi. Literasi harus diposisikan sebagai instrumen pembangunan, sarana menghubungkan ilmu pengetahuan, kebijakan dan praktik pertanian di lapangan," ungkap Mentan Amran.

Tujuannya, ungkap Mentan, menjadikan literasi sebagai bagian dari strategi besar mendukung swasembada pangan nasional. Literasi pertanian menjadi guidance pembangunan pertanian menuju swasembada pangan.

Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengingatkan tentang eksistensi BB Pustaka yang berdiri pada abad 19 di era kolonial Hindia Belanda, tepatnya pada Mei 1842.

Santi mendorong BB Pustaka senantiasa berupaya melahirkan inovasi yang berawal dari sebuah refleksi sebagai penanda arah baru lembaga ini.

"Mengapa inovasi di BB Pustaka penting? Perpustakaan pertanian tidak bisa lagi berjalan sendiri, terpisah dari dinamika literasi dan kebutuhan lapangan, namun menjadi bagian penting dari dinamika pembangunan pertanian nasional," ungkap Santi

Hal senada dikemukakan Kepala BB Pustaka Kementan, Eko Nugroho Dharmo Putro bahwa literasi pertanian bukan sekadar aktivitas membaca atau mengakses informasi.

"Literasi diposisikan sebagai instrumen pembangunan, sarana memperpendek jarak antara ilmu pengetahuan, kebijakan dan praktik pertanian di lapangan," katanya.

Transformasi yang dilakukan, ungkap Eko Nugroho, bertujuan memperluas akses informasi, meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh serta menyesuaikan layanan dengan perkembangan teknologi digital.

"Dalam konteks swasembada pangan, literasi menjadi fondasi pengambilan keputusan yang lebih tepat dan berkelanjutan," katanya lagi. (**)