• Minggu, 22 Februari 2026

Dentuman Petasan di Antara Nisan

Sabtu, 21 Februari 2026 - 09.10 WIB
33

Dentuman Petasan di Antara Nisan. Foto: Ilustrasi_AI

Kupastuntas.co, Pringsewu - Malam Ramadan yang seharusnya tenang di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pringsewu Selatan, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung justru berubah menjadi riuh dentuman petasan.

Di antara barisan nisan yang sunyi, puluhan remaja berkumpul, menyalakan kembang api dan saling melempar petasan hingga memecah kesunyian malam.

Kilatan cahaya berpendar di langit gelap, disusul suara ledakan keras yang menggema hingga permukiman warga.

Sebagian warga terbangun dari tidur, sementara anak-anak dan lansia memilih menutup telinga, mencoba mengusir rasa cemas yang datang bersama setiap dentuman.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis malam dan langsung memicu kekhawatiran warga.

Selain mengganggu ketenangan, aksi perang petasan dinilai berbahaya karena berpotensi menyebabkan kebakaran maupun cedera akibat ledakan. Area pemakaman yang kering dan terbuka membuat risiko semakin besar.

Sejak Jumat (20/2/2026) pagi, aparat kepolisian dari Polsek Pringsewu Kota mulai melakukan patroli rutin di sekitar TPU.

Kehadiran polisi bukan sekadar menjaga keamanan, tetapi juga memastikan suasana Ramadan tetap berlangsung kondusif.

Kapolsek Pringsewu Kota, Ramon Zamora, mengatakan Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat ibadah dan kebersamaan, bukan ajang adu keberanian lewat petasan.

Menurutnya, tindakan yang awalnya dianggap permainan dapat berkembang menjadi konflik antarkelompok remaja.

Pendekatan persuasif pun dilakukan. Polisi menghampiri para remaja, mengajak berdialog, sekaligus memberi pembinaan mengenai bahaya petasan, baik dari sisi keselamatan maupun konsekuensi hukum. Upaya ini diharapkan mampu menekan potensi bentrokan sejak dini.

Warga sekitar, Fikri, mengaku fenomena perang petasan di TPU bukan hal baru. Hampir setiap Ramadan, kawasan tersebut menjadi titik berkumpul remaja, bahkan sebagian datang dari luar wilayah.

Suara ledakan biasanya terdengar selepas sahur, saat sebagian warga justru membutuhkan istirahat.

Kini, patroli malam ditingkatkan dengan melibatkan tokoh masyarakat dan perangkat kelurahan. Di tengah bulan suci yang identik dengan ketenangan, warga berharap TPU kembali menjadi ruang hening untuk mengenang, bukan arena dentuman yang meresahkan. (*)