• Sabtu, 14 Februari 2026

Revitalisasi Tambak Dipasena Dongkrak Ekonomi Lampung, Tapi Target 8 Persen Tak Bisa Bertumpu pada Satu Sektor

Sabtu, 14 Februari 2026 - 11.51 WIB
22

Akademisi Ekonomi Universitas Lampung (Unila) sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin. Foto: Ist

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Dukungan Pemerintah Provinsi Lampung terhadap revitalisasi tambak Dipasena di Kabupaten Tulang Bawang dinilai sebagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali kejayaan sektor perikanan budidaya di Lampung.

Akademisi Ekonomi Universitas Lampung (Unila) sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin, mengatakan, revitalisasi tambak Dipasena merupakan langkah maju untuk mengembalikan posisi Lampung sebagai salah satu lumbung udang nasional.

Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian daerah, terutama dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

“Revitalisasi tambak Dipasena adalah langkah maju untuk mengembalikan kejayaan Lampung sebagai salah satu lumbung udang nasional. Pemerintah dan seluruh stakeholder harus belajar dari permasalahan masa lalu agar pengelolaannya ke depan lebih baik,” ujar Usep, Sabtu (14/2/2026).

Ia menegaskan, meski revitalisasi tambak akan mendorong pertumbuhan ekonomi, namun capaian target pertumbuhan hingga 8 persen tidak serta-merta bisa diraih hanya dengan mengandalkan sektor tersebut.

“Untuk pertumbuhan ekonomi 8 persen, menurut saya tidak otomatis tercapai ketika tambak ini sudah beroperasi. Namun bahwa ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi, iya, pasti. Hanya saja besarannya tidak langsung 8 persen,” jelasnya.

Usep menilai, ada hal yang lebih penting daripada sekadar angka pertumbuhan, yakni meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Lampung.

Revitalisasi tambak, kata dia, harus mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi lokal, mulai dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan daya beli, hingga tumbuhnya sektor pendukung.

Untuk benar-benar mendekati target pertumbuhan 8 persen, lanjutnya, diperlukan langkah lanjutan seperti pengembangan industri pengolahan hasil perikanan, perluasan akses pasar, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Pengembangan industri hilir sangat penting agar nilai tambah tidak berhenti di produksi udang mentah saja. Selain itu, akses pasar dan peningkatan kualitas SDM juga menjadi kunci agar manfaat revitalisasi ini maksimal,” pungkasnya. (*)