• Jumat, 13 Februari 2026

Revitalisasi Eks Tambak Udang Dipasena Lampung Mulai Bergerak, Investor dan Perbankan Turut Terlibat

Jumat, 13 Februari 2026 - 15.14 WIB
22

Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing pada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Nazdan,saat dimintai keterangan, Jum'at (13/2/2026). Foto: Ria/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mendorong percepatan revitalisasi kawasan eks tambak udang Dipasena yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra budidaya udang terbesar.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing pada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Nazdan, menjelaskan bahwa kawasan Dipasena memiliki sejarah panjang sebagai pusat budidaya tambak udang berskala besar.

Namun, sejak sekitar tahun 2010, produksi mulai mengalami penurunan akibat berbagai faktor, termasuk konflik sosial dan berakhirnya operasional perusahaan yang sebelumnya menaungi kawasan tersebut.

"Sekarang perusahaan yang dulu menaungi Dipasena sudah tidak ada. Masyarakat berusaha mandiri dalam membudidayakan udang vaname dan mereka dinaungi oleh Perhimpunan Petambak Pembudidaya Udang Wilayah Lampung (P3UW)," ujarnya saat dimintai keterangan, Jum'at (13/2/2026).

Menurutnya, potensi kawasan Dipasena masih sangat besar. Infrastruktur dasar seperti jaringan kanal, sisa bangunan pelabuhan ekspor-impor, cold storage, pabrik es, rumah sakit, sekolah, hingga kantor masih ada, meskipun sebagian besar sudah tidak berfungsi optimal dan hanya menyisakan struktur bangunan.

"Sayang sekali kalau fasilitas sebesar itu tidak dibantu pemerintah dan investor untuk menjadi jaya kembali. Untuk membangun kawasan tambak sebesar Dipasena dari nol tentu membutuhkan anggaran sangat besar. Artinya, dengan sentuhan revitalisasi, mudah-mudahan bisa bangkit kembali," katanya.

Upaya revitalisasi Dipasena kini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah pusat melalui Kementerian PPN/Bappenas menyatakan dukungan terhadap program tersebut.

Bahkan Menteri Bappenas secara langsung menyampaikan komitmennya dalam mendorong revitalisasi tambak eks Dipasena.

Di sisi lain, sektor swasta juga mulai menunjukkan keseriusan. PT Sakti Biru Indonesia (SBI), perusahaan yang bergerak di bidang budidaya udang vaname, melirik potensi besar Dipasena dan menggandeng investor untuk terlibat dalam proses revitalisasi.

PT SBI menerapkan standar operasional prosedur (SOP) budidaya modern, mulai dari persiapan tambak, penebaran benih, manajemen pakan, hingga proses panen. Para petambak yang dibina mengikuti SOP tersebut agar produksi lebih terukur dan berkelanjutan.

"PT SBI ini diisi oleh orang-orang yang ahli di bidang budidaya udang vaname. Mereka membina petambak agar mengikuti SOP secara menyeluruh," jelas Nazdan.

Untuk mendukung permodalan, PT SBI juga menggandeng perbankan, yakni BRI, guna membantu pembiayaan petambak binaan.

Saat ini, PT SBI baru membina beberapa puluh pembudidaya, sementara jumlah petambak di kawasan tersebut masih mencapai ribuan orang.

"Program pembinaan dimulai sejak tahun lalu dan telah menghasilkan dua kali panen dengan hasil yang dinilai cukup baik. Ke depan, pembinaan akan diperluas, dimulai dari Kampung Dipasena Makmur sebagai percontohan," jelasnya.

Ia mengatakan Pemerintah Provinsi Lampung dalam hal ini berperan sebagai fasilitator dan pendukung. Gubernur Lampung turut menangkap pentingnya revitalisasi kawasan tersebut dan memberikan dukungan dari sisi regulasi, perizinan, serta menjaga iklim investasi agar tetap kondusif.

"Posisi kami sebagai pemerintah daerah adalah mendukung dan memfasilitasi, terutama dalam suasana efisiensi anggaran. Kami membantu dari sisi regulasi dan kemudahan perizinan agar investor merasa aman dan nyaman berinvestasi," ujar Nazdan.

DKP Provinsi Lampung juga menyambut positif dukungan dari Bappenas, BRI, dan PT SBI sebagai bentuk kolaborasi multipihak dalam menghidupkan kembali Dipasena.

Salah satu kebutuhan mendesak dalam revitalisasi adalah perbaikan sarana produksi, seperti ketersediaan benih dan pakan berkualitas.

Namun, tantangan terbesar terletak pada pemeliharaan jaringan kanal yang menjadi sistem sirkulasi air tambak. Panjang saluran kanal di kawasan Dipasena diperkirakan mencapai hampir 3.000 kilometer.

Saat ini, perawatan dilakukan secara mandiri oleh petambak melalui P3UW. Mereka menyisihkan sebagian hasil panen untuk membeli alat berat seperti ekskavator dan melakukan pengerukan kanal secara swadaya.

"Kanal itu kunci. Kalau saluran airnya bagus dan semuanya beroperasi normal, produksi bisa sangat besar," katanya.

Menurut para pembudidaya, apabila seluruh tambak beroperasi optimal dengan kondisi kanal yang baik, produksi Dipasena bisa mencapai 100 ton per hari.

Secara historis, produksi udang Dipasena sempat menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2018 tercatat sebesar 8.622 ton, meningkat menjadi 9.965 ton pada 2019, kemudian naik lagi menjadi 12.514 ton pada 2020 dan mencapai puncaknya pada 2021 sebesar 16.209 ton.

Namun setelah itu, produksi mengalami penurunan. Tahun 2022 tercatat 9.923 ton, turun menjadi 5.160 ton pada 2023, kembali menurun menjadi 4.164 ton pada 2024, dan hingga Agustus 2025 baru mencapai 2.144 ton.

Ke depan, Dipasena diharapkan tumbuh sebagai kawasan Minapolitan, yakni kawasan budidaya perikanan terpadu yang inklusif dan terbuka bagi berbagai pelaku usaha.

"Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, perbankan, dan masyarakat, revitalisasi tambak eks Dipasena diharapkan mampu mengembalikan kejayaannya sebagai sentra produksi udang nasional dan memperkuat peran Indonesia dalam pasar udang internasional," tutupnya. (*)