• Senin, 09 Februari 2026

Warga Lampung Barat Kembali Keluhkan Jalan Berlumpur di Atar Kuwaw, Hambat Akses Sekolah, Kesehatan dan Ekonomi

Senin, 09 Februari 2026 - 09.27 WIB
142

Penampakan jalan di Pekon Atar Kuwaw, Kecamatan Batu Ketulis Lampung Barat yang masih berupa tanah merah, semakin sudah dilewati apabila diguyur hujan. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Setelah viralnya kondisi jalan utama di Pekon Sidodadi, Kecamatan Pagar Dewa, yang hingga kini masih berupa tanah liat karena belum tersentuh pembangunan, keluhan serupa kembali mencuat di wilayah lain. Kali ini, sorotan publik mengarah ke Pekon Atar Kuwaw, Kecamatan Batu Ketulis, yang disebut memiliki kondisi jalan tak kalah memprihatinkan.

Jalan utama di Pekon Atar Kuwaw dilaporkan masih berupa tanah liat dan kerap berubah menjadi kubangan lumpur saat musim hujan. Hingga saat ini, akses tersebut belum mendapatkan sentuhan perbaikan dari pemerintah daerah, sehingga menyulitkan aktivitas harian masyarakat setempat.

Satu-satunya upaya perbaikan yang ada hanyalah jalan cor berukuran kecil hasil swadaya masyarakat. Namun, kondisi jalan cor tersebut kini dilaporkan sudah mengalami kerusakan dan tidak lagi mampu menunjang kelancaran lalu lintas warga sehari-hari.

Kondisi jalan yang rusak dan berlumpur itu menjadi akses utama masyarakat Atar Kuwaw menuju berbagai fasilitas penting. Mulai dari pasar, sekolah, fasilitas layanan kesehatan, hingga jalur utama untuk memasarkan hasil perkebunan, terutama komoditas kopi yang menjadi sumber penghidupan warga.

Sejumlah video yang diterima Kupas Tuntas memperlihatkan betapa sulitnya warga melintasi ruas jalan tersebut. Kendaraan roda dua tampak kesulitan bergerak, bahkan beberapa di antaranya terjebak di lumpur tebal sehingga membutuhkan bantuan dari pengendara lain.

Dalam rekaman video tersebut, terlihat warga harus bergotong royong mendorong kendaraan agar bisa melewati jalan yang licin dan berlumpur. Kondisi ini semakin parah ketika hujan turun, membuat jalan nyaris tidak dapat dilalui tanpa bantuan.

Tak hanya warga dewasa, para pelajar juga turut merasakan dampak buruk dari kondisi infrastruktur tersebut. Dalam beberapa video lain, tampak pelajar dengan susah payah mengendarai sepeda motor mereka menuju sekolah.

Sebagian pelajar bahkan harus rela kotor-kotoran membantu teman mereka yang motornya terjebak lumpur. Pemandangan itu menjadi potret nyata betapa akses pendidikan masih menjadi persoalan serius akibat buruknya kondisi jalan.

Dengan seragam sekolah yang dipenuhi lumpur, para pelajar tetap berusaha berangkat ke sekolah. Meski demikian, kondisi jalan yang memprihatinkan membuat mereka kerap datang terlambat. “Harapan kami jalan ini bisa dibangun, kalau berangkat sekolah kami sering telat,” ujar sejumlah pelajar dalam video yang diterima Kupas Tuntas, Senin (9/2/2026).

Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga setempat. Mereka menilai kondisi jalan di Atar Kuwaw memang tidak sepanjang ruas jalan di Sidodadi, Kecamatan Pagar Dewa, namun dampaknya sama besar bagi kehidupan masyarakat.

Salah seorang warga menyebutkan, ketika hujan turun, nyaris tidak ada kendaraan yang bisa melintas tanpa alat bantu atau dorongan dari pengendara lain. Situasi tersebut dinilai sangat berisiko dan membahayakan keselamatan.

"Kalau sudah hujan, susah mau lewat, sering masyarakat jatuh pas melintas karena motornya tergelincir, kalau seperti kami mungkin sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini tapi kalau anak-anak kan kasian mereka berangkat atau pulang sekolah lewat jalan ini," kata dia.

Warga juga mengaku kerap terpaksa menunda aktivitas penting, termasuk membawa anggota keluarga yang sakit ke fasilitas kesehatan, karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. "Kalau abis ujan gimana mau aktivitas lewat aja susah," terangnya.

Panjang jalan yang dikeluhkan masyarakat Atar Kuwaw tersebut disebutkan tidak sampai satu kilometer. Namun, meski relatif pendek, dampaknya sangat besar terhadap roda perekonomian dan mobilitas masyarakat.

Distribusi hasil perkebunan, khususnya kopi, menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Akses jalan yang rusak membuat biaya angkut meningkat dan kualitas hasil panen berisiko menurun. "Iya kalau mau jual hasil panen kopi harus sewa ojek, kalau hujan pasti ada ongkos lebih kalau mau lewat jalan itu," sambungnya.

Kondisi ini menambah daftar persoalan infrastruktur jalan di wilayah Lampung Barat yang dinilai belum merata. Setelah Sidodadi, kini Atar Kuwaw menjadi contoh lain daerah yang masih tertinggal dari sisi pembangunan dasar.

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya merespons keluhan setelah viral di media sosial. Mereka meminta adanya langkah nyata dan perencanaan yang adil agar seluruh wilayah mendapatkan perhatian yang sama.

Warga menilai perbaikan jalan merupakan kebutuhan mendesak, bukan sekadar proyek seremonial. Paling tidak, jalan tersebut dapat diperbaiki agar bisa dilalui dengan aman dan nyaman oleh masyarakat.

Hingga kini, warga Atar Kuwaw masih menunggu kepastian kapan akses utama mereka akan dibenahi. Sementara itu, aktivitas sehari-hari tetap dijalani dengan segala keterbatasan dan risiko yang ada.

Masyarakat berharap jargon dan tagline pembangunan Lampung Barat benar-benar dapat dirasakan hingga ke pelosok desa. Mereka ingin pembangunan hadir secara nyata, bukan hanya tertulis dalam rencana dan janji. (*)