Warga Lampung Barat Kembali Keluhkan Jalan Berlumpur di Atar Kuwaw, Hambat Akses Sekolah, Kesehatan dan Ekonomi
Penampakan jalan di Pekon Atar Kuwaw, Kecamatan Batu Ketulis Lampung Barat yang masih berupa tanah merah, semakin sudah dilewati apabila diguyur hujan. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Lampung Barat - Setelah viralnya kondisi jalan
utama di Pekon Sidodadi, Kecamatan Pagar Dewa, yang hingga kini masih berupa
tanah liat karena belum tersentuh pembangunan, keluhan serupa kembali mencuat
di wilayah lain. Kali ini, sorotan publik mengarah ke Pekon Atar Kuwaw,
Kecamatan Batu Ketulis, yang disebut memiliki kondisi jalan tak kalah
memprihatinkan.
Jalan utama di Pekon Atar Kuwaw dilaporkan masih berupa tanah
liat dan kerap berubah menjadi kubangan lumpur saat musim hujan. Hingga saat
ini, akses tersebut belum mendapatkan sentuhan perbaikan dari pemerintah
daerah, sehingga menyulitkan aktivitas harian masyarakat setempat.
Satu-satunya upaya perbaikan yang ada hanyalah jalan cor
berukuran kecil hasil swadaya masyarakat. Namun, kondisi jalan cor tersebut
kini dilaporkan sudah mengalami kerusakan dan tidak lagi mampu menunjang
kelancaran lalu lintas warga sehari-hari.
Kondisi jalan yang rusak dan berlumpur itu menjadi akses utama
masyarakat Atar Kuwaw menuju berbagai fasilitas penting. Mulai dari pasar,
sekolah, fasilitas layanan kesehatan, hingga jalur utama untuk memasarkan hasil
perkebunan, terutama komoditas kopi yang menjadi sumber penghidupan warga.
Sejumlah video yang diterima Kupas Tuntas memperlihatkan betapa
sulitnya warga melintasi ruas jalan tersebut. Kendaraan roda dua tampak
kesulitan bergerak, bahkan beberapa di antaranya terjebak di lumpur tebal
sehingga membutuhkan bantuan dari pengendara lain.
Dalam rekaman video tersebut, terlihat warga harus bergotong
royong mendorong kendaraan agar bisa melewati jalan yang licin dan berlumpur.
Kondisi ini semakin parah ketika hujan turun, membuat jalan nyaris tidak dapat
dilalui tanpa bantuan.
Tak hanya warga dewasa, para pelajar juga turut merasakan dampak
buruk dari kondisi infrastruktur tersebut. Dalam beberapa video lain, tampak
pelajar dengan susah payah mengendarai sepeda motor mereka menuju sekolah.
Sebagian pelajar bahkan harus rela kotor-kotoran membantu teman
mereka yang motornya terjebak lumpur. Pemandangan itu menjadi potret nyata
betapa akses pendidikan masih menjadi persoalan serius akibat buruknya kondisi
jalan.
Dengan seragam sekolah yang dipenuhi lumpur, para pelajar tetap
berusaha berangkat ke sekolah. Meski demikian, kondisi jalan yang
memprihatinkan membuat mereka kerap datang terlambat. “Harapan kami jalan ini
bisa dibangun, kalau berangkat sekolah kami sering telat,” ujar sejumlah
pelajar dalam video yang diterima Kupas Tuntas, Senin (9/2/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga setempat. Mereka
menilai kondisi jalan di Atar Kuwaw memang tidak sepanjang ruas jalan di
Sidodadi, Kecamatan Pagar Dewa, namun dampaknya sama besar bagi kehidupan
masyarakat.
Salah seorang warga menyebutkan, ketika hujan turun, nyaris
tidak ada kendaraan yang bisa melintas tanpa alat bantu atau dorongan dari
pengendara lain. Situasi tersebut dinilai sangat berisiko dan membahayakan
keselamatan.
"Kalau sudah hujan, susah mau lewat, sering masyarakat
jatuh pas melintas karena motornya tergelincir, kalau seperti kami mungkin
sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini tapi kalau anak-anak kan kasian
mereka berangkat atau pulang sekolah lewat jalan ini," kata dia.
Warga juga mengaku kerap terpaksa menunda aktivitas penting,
termasuk membawa anggota keluarga yang sakit ke fasilitas kesehatan, karena
kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. "Kalau abis ujan
gimana mau aktivitas lewat aja susah," terangnya.
Panjang jalan yang dikeluhkan masyarakat Atar Kuwaw tersebut
disebutkan tidak sampai satu kilometer. Namun, meski relatif pendek, dampaknya
sangat besar terhadap roda perekonomian dan mobilitas masyarakat.
Distribusi hasil perkebunan, khususnya kopi, menjadi salah satu
sektor yang paling terdampak. Akses jalan yang rusak membuat biaya angkut
meningkat dan kualitas hasil panen berisiko menurun. "Iya kalau mau jual
hasil panen kopi harus sewa ojek, kalau hujan pasti ada ongkos lebih kalau mau
lewat jalan itu," sambungnya.
Kondisi ini menambah daftar persoalan infrastruktur jalan di
wilayah Lampung Barat yang dinilai belum merata. Setelah Sidodadi, kini Atar
Kuwaw menjadi contoh lain daerah yang masih tertinggal dari sisi pembangunan
dasar.
Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya merespons
keluhan setelah viral di media sosial. Mereka meminta adanya langkah nyata dan
perencanaan yang adil agar seluruh wilayah mendapatkan perhatian yang sama.
Warga menilai perbaikan jalan merupakan kebutuhan mendesak,
bukan sekadar proyek seremonial. Paling tidak, jalan tersebut dapat diperbaiki
agar bisa dilalui dengan aman dan nyaman oleh masyarakat.
Hingga kini, warga Atar Kuwaw masih menunggu kepastian kapan
akses utama mereka akan dibenahi. Sementara itu, aktivitas sehari-hari tetap
dijalani dengan segala keterbatasan dan risiko yang ada.
Masyarakat berharap jargon dan tagline pembangunan Lampung Barat
benar-benar dapat dirasakan hingga ke pelosok desa. Mereka ingin pembangunan
hadir secara nyata, bukan hanya tertulis dalam rencana dan janji. (*)
Berita Lainnya
-
Dua Pelajar Lampung Barat Sabet Medali Emas di Kompetisi Renang Piala Gubernur Lampung
Senin, 09 Februari 2026 -
Viral Jalan Rusak di Pagar Dewa, Bupati Lambar Turunkan Tim ke Lokasi
Jumat, 06 Februari 2026 -
Dorong Pendidikan Inklusif dan Berkelanjutan, Disdikbud Lambar Luncurkan Sejumlah Program Straregis
Jumat, 06 Februari 2026 -
Jalan Berlumpur Viral, DPUPR Lampung Barat Ungkap Baru 2,72 Km Terbangun
Kamis, 05 Februari 2026









