• Kamis, 05 Februari 2026

BI dan Pemprov Lampung Perkuat Sektor Pertanian, Target Pertumbuhan Ekonomi Bisa Tembus 6 Persen

Kamis, 05 Februari 2026 - 14.28 WIB
26

Kepala BI Perwakilan Lampung, Bimo Epyanto, saat dimintai keterangan dilingkungan kantor Gubernur Lampung, Kamis (5/2/2026). Foto: Ria/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung bersama Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat sinergi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dengan fokus utama pada penguatan sektor pertanian dan pembangunan ekonomi berbasis desa.

Kepala BI Perwakilan Lampung, Bimo Epyanto, mengatakan pihaknya menjalankan fungsi sebagai advisor bagi pemerintah daerah dengan memberikan masukan strategis untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Lampung.

"Sesuai dengan tupoksi kami sebagai advisor pemerintah daerah, tentu kami memberikan masukan bagaimana melakukan penguatan-penguatan terhadap pertumbuhan ekonomi Lampung," ujar Bimo saat dimintai keterangan, Kamis (5/2/2026).

Menurut Bimo, salah satu strategi utama yang ditempuh adalah memperkuat lapangan usaha unggulan Provinsi Lampung, yakni sektor pertanian, yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian daerah.

"Lapangan usaha pertanian memiliki kontribusi yang sangat besar. Namun, karena masih didominasi komoditas primer, sektor ini juga cukup rentan terhadap risiko seperti perubahan cuaca ekstrem," jelasnya.

Karena itu, BI mendorong agar komoditas pertanian tidak hanya berhenti pada produk primer, tetapi diolah menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. 

Dengan demikian, produktivitas meningkat dan dampaknya bisa dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat, terutama petani.

"Harapannya, komoditas pertanian ini tidak hanya habis dikonsumsi, tetapi juga bisa diolah menjadi produk-produk turunan. Ini yang akan menggerakkan ekonomi secara keseluruhan dan meningkatkan kesejahteraan petani," kata Bimo.

Ia menegaskan, penguatan sektor pertanian ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung dan pemerintah pusat yang menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus dimulai dari desa.

"Komoditas ekonomi pertanian itu awalnya dari desa. Jadi penguatan desa menjadi sangat relevan," tambahnya.

Dengan strategi tersebut, Bimo optimistis pertumbuhan ekonomi Lampung ke depan bisa lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, sepanjang tidak terjadi gejolak ekonomi yang signifikan.

"Kalau tidak ada gejolak dengan volatilitas tinggi, pertumbuhan ekonomi Lampung masih bisa tumbuh di kisaran 5,5 persen hingga mendekati 6 persen," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, mengatakan rapat koordinasi dengan Bank Indonesia dilakukan untuk memastikan arah kebijakan pembangunan ekonomi Lampung ke depan lebih terfokus dan berkelanjutan.

"Hari ini kami rapat koordinasi dengan Bank Indonesia. Dari beberapa waktu lalu kami meminta BI untuk mendampingi Pemerintah Provinsi Lampung, terutama dalam fokus meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depan dan menjaga keseimbangan agar kemakmuran bisa dirasakan masyarakat," ujar Gubernur.

Ia menjelaskan, sepanjang tahun 2025 Pemprov Lampung telah melakukan pemetaan dan pembenahan berbagai permasalahan yang selama ini menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi daerah.

"Kita sudah memotret dan mulai membenahi permasalahan-permasalahan yang selama ini membuat pertumbuhan ekonomi kita tidak maksimal," katanya.

Permasalahan tersebut antara lain menyangkut tata niaga komoditas strategis seperti gabah, singkong, jagung, kopi hingga pengendalian inflasi komoditas pangan seperti cabai.

"Misalnya bagaimana tata niaga gabah, singkong, jagung, kemudian inflasi cabai dan lainnya. Ini semua kita petakan," jelasnya.

Dari hasil pembahasan bersama BI, Pemprov Lampung juga menemukan bahwa lemahnya kelembagaan petani, seperti koperasi, menjadi salah satu persoalan utama di berbagai komoditas unggulan, termasuk kopi dan jagung.

"Ternyata penguatan kelembagaan seperti koperasi masih sangat kurang. Petani kita masih berjalan sendiri-sendiri, ini yang akan kita perkuat lagi," tegas Gubernur.

Ke depan, Pemprov Lampung bersama BI akan merajut kembali rantai nilai tersebut agar proses pengolahan dan nilai tambah bisa dilakukan di desa.

"Ini semua kita rapikan kembali supaya nilai tambahnya ada di desa, uangnya berputar di desa. Jadi ekonomi benar-benar tumbuh dari desa," pungkasnya. (*)