• Rabu, 04 Februari 2026

Ekspor Lampung 2025 Tembus Rp 111 Triliun, Ahmad Basuki Dorong Penguatan Hilirisasi

Rabu, 04 Februari 2026 - 13.32 WIB
28

Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Basuki. Foto: Ist.

‎Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Basuki, menegaskan bahwa hilirisasi komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan kopi menjadi kunci utama untuk mendongkrak nilai tambah produk lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Bumi Ruwa Jurai.

‎Hal tersebut disampaikan Ahmad Basuki menanggapi capaian ekspor Provinsi Lampung sepanjang tahun 2025 yang menembus angka USD 6,64 miliar atau setara Rp 111,3 triliun. 

Menurutnya, capaian tersebut harus diikuti dengan penguatan industri pengolahan di dalam daerah agar manfaat ekonomi nya dirasakan langsung oleh masyarakat.

‎Politisi yang akrab disapa Abas itu menilai, selama ini kekayaan alam Lampung masih terlalu banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah. Padahal, pengembangan produk turunan diyakini mampu memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih besar.

‎"Kami menyambut baik capaian ekspor Lampung yang mencapai Rp 111 triliun pada 2025. Namun ke depan, hilirisasi komoditas turunan kelapa sawit dan kopi harus menjadi kata kunci agar nilai tambahnya benar-benar dinikmati masyarakat Lampung,” ujar Abas, Rabu (4/2/2026).

‎Ia menegaskan, DPRD Provinsi Lampung mendukung penuh langkah pemerintah daerah dalam mendorong hilirisasi komoditas unggulan, baik sawit, kopi, maupun sektor pertanian lainnya.

"Hilirisasi bukan hanya soal angka ekspor, tetapi tentang bagaimana menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat ekonomi daerah secara berkelanjutan,” katanya.

‎Menurut Abas, penguatan industri pengolahan di dalam daerah juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar global. Sertifikasi dan standar internasional dinilai menjadi faktor penting untuk menaikkan nilai jual produk Lampung.

‎"Kami akan terus mengawal kebijakan yang mendukung pengembangan industri pengolahan sawit dan kopi, termasuk peningkatan kualitas, sertifikasi, dan daya saing produk di pasar internasional,” ujarnya.

‎Selain itu, Abas menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur sebagai fondasi hilirisasi. Ia mendorong pemerintah daerah memastikan kelancaran akses logistik dari sentra produksi hingga pelabuhan.

‎"Infrastruktur pendukung seperti jalan, pelabuhan, dan ketersediaan energi harus diperkuat agar pengembangan industri pengolahan berjalan optimal,” tegasnya.

‎Dengan langkah tersebut, Abas optimistis Lampung dapat bertransformasi menjadi salah satu pusat industri pengolahan kelapa sawit dan kopi nasional.

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari petani, pelaku usaha, hingga akademisi, untuk terlibat aktif dalam mendorong hilirisasi.

‎Lebih jauh, Abas menekankan bahwa tujuan akhir dari seluruh kebijakan ekonomi tersebut adalah kesejahteraan petani. Ia menyebut, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Lampung.

‎"Mayoritas masyarakat Lampung menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Tidak kurang dari satu juta penduduk Lampung adalah petani. Jika kesejahteraan petani dibenahi, insyaallah ekonomi Lampung akan melonjak signifikan,” pungkasnya. (*)