• Selasa, 03 Februari 2026

Proyek Jembatan Mangkrak, Pelajar ke Sekolah Naik Perahu Klotok, Bupati Ela: Butuh Rp 80 Miliar

Selasa, 03 Februari 2026 - 08.13 WIB
23

Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Lampung Timur - Bertahun-tahun, para pelajar di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, harus berangkat ke sekolah dengan menyeberangi Sungai Batang Hari menggunakan perahu klotok.

Kondisi tersebut terjadi karena jembatan yang sempat dibangun tidak pernah selesai alias mangkrak.

Video para pelajar yang membawa sepeda motor menaiki perahu klotok saat menyeberangi Sungai Batang Hari pun viral di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, para pelajar terlihat harus "bertaruh nyawa" setiap hari untuk menuju sekolah dengan menyeberangi sungai yang lebar menggunakan perahu klotok sederhana.

Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun. Jembatan tersebut sejatinya menghubungkan Desa Kali Pasir dengan Desa Tanjung Tirto, Kecamatan Way Bungur.

Dalam video yang beredar luas, tampak sejumlah pelajar berdesak-desakan di atas perahu klotok bersama sepeda motor masing-masing.

Warga setempat menuturkan, pemandangan pelajar menyeberangi sungai menggunakan perahu klotok sudah menjadi hal yang lumrah.

Menurut warga, pengelola perahu klotok menggratiskan ongkos bagi anak sekolah yang hendak menyeberang. Sementara bagi masyarakat umum, dikenakan tarif sebesar Rp5.000 untuk sekali perjalanan.

"Itu untuk anak sekolah gratis. Untuk umum, kendaraan motor bisa naik di perahu, tapi tetap ada batasannya, tidak bisa lebih," kata seorang warga yang meminta namanya tidak ditulis, Senin (2/2/2026).

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menilai situasi ini sangat membahayakan keselamatan, terutama bagi anak-anak sekolah yang setiap hari harus melintasi sungai untuk berangkat dan pulang sekolah.

Ela mengaku telah berulang kali meninjau langsung lokasi penyeberangan. Ia menegaskan pemerintah daerah terus berupaya agar pembangunan jembatan dapat segera direalisasikan.

"Jembatan di lokasi itu panjangnya kurang lebih 100 meter. Kalau dikerjakan sendiri oleh pemerintah kabupaten, kami belum mampu karena keterbatasan anggaran. Saya juga sudah beberapa kali meninjau ke lokasi," kata Ela, Minggu (1/2/2026).

Ela menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur telah mengajukan pembangunan jembatan permanen kepada pemerintah pusat sejak beberapa tahun lalu melalui Kementerian Pekerjaan Umum, termasuk melalui skema bantuan presiden. Namun hingga kini, pembangunan tersebut belum terealisasi karena keterbatasan anggaran.

Seiring meningkatnya perhatian publik akibat video viral tersebut, sejumlah instansi mulai bergerak. Kodim, Kodam, serta Kementerian Pekerjaan Umum telah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi penyeberangan sungai tersebut.

"Sebagai bentuk afirmasi dan solusi sementara, sambil menunggu jembatan permanen, kami mengusulkan pembangunan jembatan gantung yang diberi nama Jembatan Merah Putih," ujar Ela.

Ia menambahkan, rencananya Jembatan Merah Putih akan dibangun oleh pemerintah pusat pada triwulan pertama atau kedua tahun 2026.

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) juga telah berkoordinasi dan dijadwalkan turun ke lokasi untuk melakukan pengukuran teknis sebagai tahap awal pelaksanaan.

"BPJN sudah berkoordinasi dan besok akan turun untuk mengukur lokasi. Ini agar masyarakat tidak lagi bergantung pada perahu kecil yang sangat berisiko," ujarnya.

Ela melanjutkan, untuk pembangunan jembatan permanen dibutuhkan anggaran sekitar Rp80 miliar. Sementara itu, Pemkab Lampung Timur baru mampu mengalokasikan sekitar Rp18,99 miliar atau hampir Rp19 miliar, sehingga masih memerlukan dukungan penuh dari pemerintah pusat.

Ia menegaskan penanganan di wilayah tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial. Selain pembangunan jembatan, perbaikan tanggul sungai juga menjadi bagian penting dalam solusi jangka panjang.

"Masalahnya bukan hanya jembatan. Tanggul sungainya juga harus dibenahi karena selama ini pendek dan kurang kuat. Itu yang menyebabkan banjir di Kecamatan Purbolinggo dan Way Bungur saat hujan deras," jelasnya.

Ela menambahkan, derasnya arus sungai kerap menyebabkan tanggul longsor sehingga banjir terus berulang. Karena itu, pembangunan jembatan permanen nantinya harus diawali dengan penyusunan feasibility study (FS) dan detailed engineering design (DED) agar konstruksi benar-benar aman dan berkelanjutan.

Menurutnya, pembangunan Jembatan Merah Putih dapat menjadi solusi sementara yang aman bagi warga dan pelajar, sekaligus menjadi langkah awal penanganan infrastruktur serta pengendalian banjir secara komprehensif di wilayah tersebut. (*)

Berita ini telah terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas edisi Selasa 03 Februari 2026 dengan judul “Proyek Jembatan Mangkrak, Pelajar ke Sekolah Naik Perahu Klotok”