• Jumat, 30 Januari 2026

Setelah Proyek Jalan, Warga Lambar Kini Keluhkan Proyek Irigasi Milik PUPR

Jumat, 30 Januari 2026 - 11.00 WIB
119

Penampakan proyek jaringan irigasi di Kecamatan Way Tenong diduga dikerjakan asal-asalan. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Dugaan proyek bermasalah di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kembali mencuat. Setelah sebelumnya pekerjaan jalan yang baru selesai dikerjakan dilaporkan mengalami kerusakan, kini giliran proyek rehabilitasi jaringan irigasi yang dikeluhkan warga karena diduga tidak sesuai spesifikasi teknis.

Proyek yang dimaksud merupakan kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi di Kecamatan Way Tenong PWT dengan nomor kontrak 600/23/KTR/RJI.10/III.03/II/2025. Pekerjaan dilaksanakan berdasarkan kontrak tertanggal 17 September 2025 dengan nilai anggaran sebesar Rp178.025.000 dan masa pengerjaan selama 90 hari kalender.

Proyek irigasi tersebut dikerjakan oleh CV Muara Artha dan disebut telah rampung pada akhir tahun 2025. Namun, belum lama difungsikan, kualitas hasil pekerjaan mulai menuai sorotan dari masyarakat setempat yang merasa khawatir dengan ketahanan bangunan irigasi tersebut.

Berdasarkan video berdurasi 25 detik yang diterima Kupas Tuntas, terlihat kondisi konstruksi irigasi yang dinilai tidak rapi. Dalam rekaman tersebut tampak pasangan batu yang disusun tidak presisi, serta terdapat banyak rongga kosong di antara batuan yang tidak dilapisi semen secara merata.

Secara kasat mata, bangunan irigasi tersebut memang terlihat berdiri kokoh dan tidak menunjukkan kerusakan signifikan. Namun, ketika diperhatikan lebih dekat, khususnya pada bagian yang tertutup tumpukan tanah galian, ditemukan banyak rongga kosong yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi kekuatan struktur.

Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengungkap kekhawatirannya terhadap kualitas pekerjaan tersebut. Ia menilai, kondisi pasangan batu yang tidak terisi adukan semen secara penuh berpotensi menyebabkan bangunan mudah rapuh dan tidak bertahan lama.

“Kalau dilihat sekilas memang seperti tidak ada masalah, tapi setelah diperhatikan lebih dekat, banyak bagian yang kosong di dalamnya. Kami khawatir nanti cepat rusak, apalagi kalau debit air tinggi,” ujar warga saat memberikan keterangan kepada Kupas Tuntas, Jumat (30/1/2026).

Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya yang turut mempertanyakan spesifikasi pekerjaan proyek irigasi tersebut. Menurutnya, pada bagian sisi luar bangunan irigasi tidak terlihat adanya finishing yang memadai, baik berupa plesteran maupun pengacian.

“Di sisi luar tidak diplester, tidak ada pengacian sama sekali. Ini jadi pertanyaan bagi kami, apakah memang seperti itu spesifikasinya atau pekerjaannya yang tidak maksimal, dengan anggaran yang telah digelontorkan kami berhak tau dong seperti apa spesifikasinya," kata warga tersebut.

Warga menilai, kondisi itu mencerminkan adanya kekurangan dalam komposisi material yang digunakan, terutama pada campuran semen dan pasir untuk pasangan batu. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa struktur irigasi tidak memiliki daya tahan yang cukup dalam jangka panjang.

Sebagai fasilitas pendukung pertanian, keberadaan jaringan irigasi dinilai sangat vital bagi masyarakat. Oleh karena itu, warga berharap proyek yang menggunakan anggaran negara tersebut benar-benar dikerjakan sesuai standar teknis agar dapat berfungsi optimal dan berumur panjang.

Masyarakat juga meminta agar Dinas PUPR tidak hanya mengandalkan laporan administrasi dari pihak rekanan, tetapi turun langsung ke lapangan untuk meninjau hasil pekerjaan secara menyeluruh.

“Kami berharap dinas terkait bisa datang langsung melihat kondisi di lapangan, bukan hanya berdasarkan laporan. Biar jelas apakah pekerjaan ini sudah sesuai atau belum, karena kami masyarakat menilai ini belum sesuai," ujar warga lain.

Selain peninjauan lapangan, warga juga berharap adanya penjelasan terbuka dari Dinas PUPR terkait spesifikasi teknis proyek rehabilitasi jaringan irigasi tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi negatif di tengah masyarakat.

Menurut warga, keterbukaan informasi sangat penting mengingat proyek itu baru saja rampung dan menggunakan dana publik. Transparansi dinilai dapat menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengairan, pada Dinas PUPR Lampung Barat, Nyoman Sukerte, saat di konfirmasi melalui sambungan selulernya belum memberikan keterangan terkait proyek pengerjaan irigasi yang dipertanyakan warga itu. (*)