• Sabtu, 31 Januari 2026

Jembatan Mbah Bono di Desa Nyukang Harjo Lamteng Kembali Putus Diterjang Banjir

Jumat, 30 Januari 2026 - 14.34 WIB
55

Jembatan Mbah Bono sebelum dan sesudah diterjang banjir. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Lampung Tengah - Jembatan Mbah Bono di Desa Nyukang Harjo, Kecamatan Selagai Lingga, Kabupaten Lampung Tengah, kembali putus diterjang banjir, Jumat (30/1/2026), sekitar pukul 07.00 WIB.

Jembatan kayu di atas Way Sekampung itu hanyut setelah debit air sungai meningkat akibat hujan deras sejak malam sebelumnya.

Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan keterangan warga, jembatan tersebut hampir selalu rusak setiap musim hujan.

Namun hingga kini, tidak ada pembangunan jembatan permanen yang mampu bertahan dari banjir tahunan Way Sekampung.

Putusnya jembatan langsung melumpuhkan akses warga ke Pasar Nyukang dan ke sekolah-sekolah di Nyukang Harjo.

Sejumlah anak sekolah terpaksa berbalik arah dan pulang karena tidak dapat menyeberang sungai.

“Anak-anak tidak bisa sekolah. Mau lewat jalur lain harus memutar jauh,” kata Tini, seorang guru di Dusun Gedongsari, Desa Negeri Jaya.

Warga yang tetap harus beraktivitas terpaksa memutar melalui jalur Rokal. Dari titik itu, warga harus menyeberang sungai menggunakan getek. Namun jalur darurat tersebut tidak selalu bisa digunakan.

“Kalau air besar, getek juga hanyut. Artinya akses benar-benar terputus,” ujar Tini.

Jembatan Mbah Bono selama ini menjadi penghubung sejumlah desa, termasuk Desa Sidoarjo, Negeri Jaya, ke Desa Nyukang Harjo. Jembatan ini juga merupakan jalur ekonomi utama warga menuju pasar.

Ketika jembatan putus, distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok ikut terhambat.

Siti Khomsiah, warga setempat, menyebut kondisi ini sudah berulang selama bertahun-tahun. Menurut dia, setiap banjir besar datang, jembatan kayu tersebut nyaris pasti hanyut.

“Sudah sering. Setiap kejadian selalu ramai dibicarakan, tapi setelah itu tidak ada perbaikan yang benar-benar tahan banjir,” kata Khomsiah.

Data kebencanaan daerah menunjukkan wilayah sepanjang aliran Way Sekampung termasuk kawasan rawan banjir musiman.

Namun, jembatan yang dibangun di titik tersebut masih menggunakan konstruksi kayu sederhana, tanpa pengaman arus atau fondasi permanen.

Warga mempertanyakan mengapa solusi yang dibangun tidak pernah berubah, meski kerusakan terjadi berulang dan berdampak langsung pada hak dasar warga, terutama pendidikan dan akses ekonomi.

Mereka mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk membangun jembatan gantung atau jembatan Bailey sebagai solusi sementara, sembari menyiapkan jembatan permanen yang tahan banjir.

"Kalau terus jembatan kayu, ya setiap banjir  akan hanyut. Anak-anak selalu jadi korban,” ujar Agus, warga lainnya.

Hingga Jumat siang, belum terlihat penanganan darurat di lokasi. Pemerintah daerah belum memberikan keterangan resmi terkait rencana perbaikan, penganggaran, maupun solusi jangka panjang untuk Jembatan Mbah Bono, meski kerusakan dengan pola yang sama terus berulang dari tahun ke tahun.

Putusnya jembatan ini kembali membuka pertanyaan lama, sampai kapan akses vital warga desa harus bergantung pada infrastruktur sementara di wilayah yang secara rutin dilanda banjir. (*)