Hanya 20 Persen Lulusan SMA/SMK Kuliah, Rektor Unila Dorong Peningkatan APK Pendidikan Tinggi di Lampung
Rektor Unila Lusmeilia Afriani dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico dan pejabat lain dalam acara Dies Natalis ke-58 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila. Foto: Sri/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Rektor Universitas Lampung (Unila), Lusmeilia Afriani, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan, khususnya pada jenjang perguruan tinggi di Provinsi Lampung yang masih tergolong rendah.
Hal itu disampaikan Lusmeilia saat memberikan sambutan pada Dies Natalis ke-58 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila di Bandar Lampung, Kamis (29/1/2026).
“Masih ada pekerjaan rumah besar bagi kita semua. APK masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi masih cukup rendah,” ujar Lusmeilia.
Ia mengungkapkan, dari sekitar 110 ribu lulusan SMA dan SMK di Lampung setiap tahunnya, hanya sekitar 20 persen yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Lampung saat ini berada di peringkat 35 dari 38 provinsi dalam hal minat masyarakat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memperbaikinya,” katanya.
Menurut Lusmeilia, masyarakat tidak seharusnya merasa cukup ketika anak hanya menamatkan pendidikan sampai SMA atau SMK. Pendidikan tinggi dinilai menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) daerah.
“Perlu motivasi yang kuat. Di sinilah FKIP Unila diharapkan dapat menjadi motor penggerak pendidikan di Lampung, berbasis riset, kepekaan sosial, dan kolaborasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menilai rendahnya APK pendidikan tinggi dipengaruhi oleh sejumlah persoalan mendasar, salah satunya rendahnya aspirasi pendidikan anak sejak usia dini.
“Salah satu yang paling krusial adalah rendahnya mimpi dan cita-cita pendidikan anak,” kata Thomas.
Berdasarkan riset yang dilakukannya, banyak anak usia sekitar tujuh tahun di daerah belum memiliki gambaran untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi atau berkuliah di kota besar.
“Ketika ditanya ingin menjadi apa, jawabannya masih sangat sederhana dan belum mengarah pada pendidikan tinggi. Ini berdampak pada rendahnya harapan lama sekolah,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa data riset menunjukkan hanya sekitar enam persen lulusan sekolah yang mampu lolos Ujian Tertulis Berbasis Kompetensi (UTBK) setiap tahun.
Di sisi lain, siswa dengan kemampuan akademik dan kondisi ekonomi yang baik justru cenderung memilih melanjutkan pendidikan ke kota besar dan enggan masuk ke perguruan tinggi lokal.
“Masalah muncul ketika mereka tidak lolos seleksi nasional, sementara perguruan tinggi lokal belum sepenuhnya mampu mengakomodasi karena perbedaan standar nilai dan keterbatasan daya tampung. Akibatnya, banyak anak akhirnya tidak melanjutkan kuliah atau beralih ke perguruan tinggi swasta,” katanya.
Thomas menilai kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam penguatan SDM lokal di Lampung. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk mendorong peningkatan APK pendidikan tinggi secara berkelanjutan. (*)
Berita Lainnya
-
Dana BOP PAUD 2026 di Bandar Lampung Tembus Rp11,9 Miliar, Sasar 19.862 Peserta Didik
Kamis, 29 Januari 2026 -
BATIQA Hotel Lampung Hadirkan Valentine Blind Date Bersama Make Over Lampung, Solusi Seru Rayakan Hari Kasih Sayang untuk Para Single
Kamis, 29 Januari 2026 -
Karyawan Bawa Kabur Motor dan Uang Majikan di Bandar Lampung
Kamis, 29 Januari 2026 -
PAUD di Lampung Diguyur Bantuan Dana 57,3 Miliar
Kamis, 29 Januari 2026









