• Rabu, 28 Januari 2026

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia Luncurkan Buku Antologi Whisper from Desa Payungi

Rabu, 28 Januari 2026 - 11.42 WIB
8

Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia menerbitkan buku antologi prosa berjudul Whisper from Desa Payungi. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia kembali menunjukkan kreativitas akademik melalui penerbitan buku antologi prosa berjudul Whisper from Desa Payungi. Karya ini merupakan hasil pembelajaran mata kuliah Prose Composition dan menjadi salah satu produk unggulan program studi yang mencerminkan komitmen Universitas Teknokrat Indonesia sebagai kampus inovatif, kampus berdampak, dan kampus berkelanjutan.

Antologi Whisper from Desa Payungi menghadirkan kumpulan cerita pendek berbahasa Inggris yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat Desa Payungi, sebuah desa wisata budaya yang kaya akan nilai sosial dan tradisi lokal. Desa tersebut menjadi sumber ide utama dalam pengembangan cerita, mulai dari aktivitas sosial masyarakat, relasi antarwarga, tradisi yang hidup, hingga dinamika perubahan sosial dalam kehidupan pedesaan.

Ketua Program Studi Sastra Inggris, Suprayogi, M.Hum., menjelaskan bahwa pemilihan Desa Payungi sebagai latar cerita merupakan bentuk pembelajaran sastra yang kontekstual dan relevan dengan lingkungan sekitar mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa Sastra Inggris tidak hanya dituntut menguasai teori bahasa dan sastra, tetapi juga mampu membaca serta mengolah realitas sosial menjadi karya bernilai.

“Melalui karya ini, mahasiswa belajar menjadikan lingkungan lokal sebagai sumber inspirasi sastra yang bernilai universal,” ujarnya.

Mata kuliah Prose Composition yang diampu oleh Dr. E. Ngestirosa Endang Woro Kasih, M.A., menerapkan pendekatan project-based learning. Mahasiswa didorong untuk melakukan observasi lapangan, refleksi pengalaman, serta pengolahan data sosial sebelum menuangkannya ke dalam bentuk prosa fiksi. Pendekatan ini melatih kepekaan sastra, imajinasi kreatif, dan kemampuan berpikir kritis dalam menulis karya berbahasa Inggris.

Cerita-cerita dalam antologi ini tidak hanya menampilkan keindahan Desa Payungi, tetapi juga mengangkat tema-tema kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan pembaca, seperti kebersamaan, ingatan masa kecil, perjuangan hidup, dan hubungan antargenerasi. Penggunaan bahasa Inggris sebagai medium penulisan menempatkan nilai-nilai lokal tersebut dalam perspektif global.

Salah satu mahasiswa penulis, M. Azra Lilam Putra, mengungkapkan bahwa keterlibatan langsung dengan masyarakat Desa Payungi memberi pengaruh besar dalam proses kreatifnya.

“Payungi memberi saya banyak cerita kecil yang bermakna. Menulis Whisper from Desa Payungi membuat saya belajar mendengarkan dan merasakan kehidupan orang lain sebelum menuliskannya,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa proses menulis menuntut kedisiplinan dan kepekaan tinggi. “Mengubah pengalaman lapangan menjadi cerita yang utuh dalam bahasa Inggris bukan hal mudah, tetapi diskusi dan revisi di kelas membuat tulisan kami lebih matang,” tambahnya.

Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, SE., MM., mengapresiasi lahirnya antologi tersebut sebagai bukti pembelajaran yang berdampak nyata. Menurutnya, karya sastra berbasis kearifan lokal memiliki peran strategis dalam memperkuat karakter dan literasi mahasiswa.

“Antologi Whisper from Desa Payungi menunjukkan bahwa pembelajaran di Universitas Teknokrat Indonesia tidak berhenti pada teori, tetapi menghasilkan karya nyata yang mengangkat potensi lokal ke tingkat yang lebih luas. Ini sejalan dengan visi kami sebagai kampus inovatif, kampus berdampak, dan kampus berkelanjutan,” ujarnya.

Ditampilkannya Whisper from Desa Payungi dalam kegiatan akademik kampus menegaskan bahwa pembelajaran sastra di Program Studi Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia mampu melahirkan karya kreatif yang melampaui ruang kelas. Antologi ini diharapkan dapat memperkuat portofolio akademik program studi sekaligus menunjukkan bahwa sastra berbasis kearifan lokal memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan dan diapresiasi secara luas. (**)