• Rabu, 21 Januari 2026

Pendapatan Sopir Angkot di Bandar Lampung Terus Menurun, Dampak Maraknya Ojek Online

Rabu, 21 Januari 2026 - 13.41 WIB
17

Pendapatan Sopir Angkot di Bandar Lampung Terus Menurun. Foto: Yudi/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Modernisasi layanan transportasi di Kota Bandar Lampung mulai dirasakan dampaknya oleh para sopir angkutan kota (angkot) di Bandar Lampung.

Sejumlah sopir mengaku pendapatannya menurun dalam beberapa tahun terakhir akibat maraknya ojek berbasis aplikasi.

Elwis, salah satu sopir angkot jurusan Teluk Betung yang biasa mangkal di kawasan Ramayana, mengatakan penurunan pendapatan terjadi sejak semakin banyaknya ojek online beroperasi di wilayah kota.

"Ya, semenjak banyak ojek online, pendapatan sopir angkot ini menurun drastis," kata Elwis saat ditemui di pangkalan angkot Ramayana, Rabu (21/1/2026).

Elwis tidak merinci secara pasti penurunan yang dialami. Namun, ia memastikan sebelum adanya layanan ojek aplikasi, pendapatan sopir angkot masih mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Sebelum ada ojol itu tinggi, tapi semenjak ada mereka, penghasilan sopir angkot ini sudah turun drastis," ujarnya.

Selain soal pendapatan, para sopir kini harus menunggu lebih lama untuk mendapat penumpang. Ia menyebut satu kali perjalanan bisa menunggu hingga berjam-jam di pangkalan.

"Sekarang juga harus 'ngtem' (menunggu) sampai berjam-jam," keluhnya.

Tidak hanya itu, munculnya wacana pemerintah provinsi menghadirkan taksi listrik di Kota Bandar Lampung juga menambah kekhawatiran para sopir angkutan konvensional tersebut. Meski tidak menolak rencana itu, mereka meminta pemerintah memberikan perlakuan yang adil.

"Kalau saya sih ikut saja. Pun angkot ini nantinya tidak diperbolehkan lagi, ya sudah. Tapi kalau bisa ojol ini dikurangi, ada solusi dan keadilan lah," ungkapnya.

Senada dengan itu, Faizon, sopir angkot jurusan Tanjungkarang–Rajabasa, mengeluhkan situasi yang sama. Ia mengatakan penurunan penumpang semakin terasa sejak tiga tahun terakhir.

"Kadang-kadang dari pagi sampai siang belum dapat satu setoran. Sekarang orang lebih banyak pesan ojol, cepat dan langsung dijemput," ujarnya.

Hal tersebut menyebabkan sejumlah sopir memilih pulang karena tidak memiliki biaya bahan bakar untuk kembali beroperasi.

Faizon juga berharap rencana kehadiran taksi listrik tidak membuat angkutan konvensional tersingkir tanpa solusi.

"Kita ikut saja rencana-rencana baru itu, tapi jangan sampai yang lama ini malah habis. Pemerintah kalau bisa kasih jalan tengah biar kami tidak tersingkir," tegasnya.

Para sopir angkutan meminta pemerintah hadir memberikan kebijakan yang berimbang agar transportasi konvensional tetap memiliki ruang di tengah arus modernisasi. (*)