• Kamis, 22 Januari 2026

Kamar Terlihat Kosong tapi Dinyatakan Penuh, RS Urip Sumoharjo Beri Penjelasan

Rabu, 21 Januari 2026 - 22.39 WIB
17

petugas Admisi RS Urip Sumoharjo. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Keluhan keluarga pasien terkait ketersediaan kamar rawat inap kerap diterima petugas rumah sakit. Salah satunya ketika sistem informasi digital menampilkan adanya tempat tidur (bed) kosong, namun pihak rumah sakit menyatakan kamar dalam kondisi penuh.

Menanggapi hal tersebut, bagian Admisi RS Urip Sumoharjo Lampung menjelaskan bahwa bed kosong tidak selalu berarti dapat langsung digunakan oleh pasien.

“Sering ada keluarga pasien bertanya, kenapa dibilang penuh padahal di digital information terlihat ada kamar kosong. Ini yang sering menimbulkan salah paham,” ujar petugas Admisi RS Urip Sumoharjo.

Menurut pihak rumah sakit, terdapat sejumlah ketentuan medis dan standar pelayanan yang harus dipatuhi sebelum sebuah bed dapat digunakan.

Pertama, perbedaan jenis kelamin. Rumah sakit wajib menjaga privasi dan kenyamanan pasien. Jika dalam satu kamar seluruh pasien berjenis kelamin laki-laki, maka bed kosong di kamar tersebut tidak dapat diisi oleh pasien perempuan, begitu pula sebaliknya.

Kedua, perbedaan jenis penyakit. Pasien dengan penyakit infeksius seperti tuberkulosis (TBC), pneumonia berat, atau infeksi menular lainnya harus dirawat di ruang khusus dan tidak boleh dicampur dengan pasien non-infeksi. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan dan menjaga keselamatan pasien lain.

Ketiga, standar akreditasi rumah sakit. Setiap rumah sakit wajib mematuhi standar pelayanan dan mutu nasional, termasuk pengaturan jarak antar bed, kategori kamar, serta fungsi ruang perawatan sesuai dengan kondisi medis pasien.

“Jadi, jika diinformasikan kamar penuh, bukan berarti datanya salah atau bed sengaja dibiarkan kosong. Bisa jadi bed tersebut belum siap digunakan atau tidak sesuai dengan kebutuhan medis pasien,” jelasnya.

RS Urip Sumoharjo menegaskan bahwa seluruh prosedur pelayanan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan mutu layanan bagi pasien.

“Kami memahami kondisi keluarga pasien, namun kami juga harus memastikan seluruh pelayanan sesuai standar demi keamanan semua pihak,” tutupnya. (*)