• Senin, 19 Januari 2026

Plt Bupati Lampung Tengah dan Senyum Sumringah, Oleh: Arby Pratama

Senin, 19 Januari 2026 - 16.11 WIB
106

Jurnalis Kupas Tuntas Grup, Arby Pratama (Kiri) dan Plt. Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri (Kanan). Foto: Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Tengah - Pagi itu, Senin (19/1/2026) matahari belum terlalu tinggi. Udara masih menyisakan sisa-sisa dingin malam, namun denyut aktivitas di rumah dinas Wakil Bupati Lampung Tengah sudah terasa hidup. 

Saya datang bersama rekan, bukan sekadar untuk meliput, melainkan untuk membaca suasana, menangkap isyarat zaman, dan seperti biasa, mencari makna di balik gestur-gestur kecil para penguasa.

Di gazebo tunggu belakang rumah dinas, sejumlah pejabat sudah berkumpul. Diskusi berlangsung ringan namun sarat pesan. Bicara tentang pembangunan, tata kelola, transisi kepemimpinan, dan tentu saja masa depan Lampung Tengah. 

Ada yang bicara teknokratis, ada yang normatif, ada pula yang menyelipkan kepentingan. Seperti biasa, politik tak pernah benar-benar telanjang, politik selalu dibungkus narasi. Namun momen paling berkesan justru datang bukan dari forum formal, melainkan dari ruang makan.

Menjelang siang, saya dipersilakan menghadap Pelaksana Tugas Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri. Tidak ada sambutan yang dibuat-buat, tidak ada pidato, tidak ada protokoler yang kaku. Yang ada hanyalah sebuah senyuman ringan, tulus, dan entah mengapa terasa berbeda. Senyum yang tidak sedang menjual pencitraan.

Ia menyambut saya dengan ekspresi yang nyaris seperti menyambut teman lama. Di hadapan protokol dan stafnya, Komang membuka percakapan dengan kalimat sederhana namun penuh makna, "Dari Kupas Tuntas ya? Orangnya Pak Sihotang," sapanya sambil tersenyum sumringah. 

Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Tapi bagi seorang jurnalis, itu adalah sinyal bahwa ia mendengar, ia mengingat dan ia memperhatikan. Dari situ, percakapan kecil kami mengalir. Tidak panjang, tidak politis dan tidak penuh basa-basi. Namun justru di situlah saya menangkap sesuatu yang jarang dimiliki banyak pemimpin, kharisma yang tidak dipaksakan.

Dalam dunia politik, banyak orang bisa berbicara. Banyak yang pandai merangkai kalimat. Banyak yang lihai mengutip teori. Tapi hanya sedikit yang mampu menciptakan rasa percaya hanya lewat kehadiran.

Komang Koheri, siang itu, tidak menjelaskan visi besarnya. Ia tidak memaparkan angka-angka. Ia tidak menjanjikan proyek-proyek raksasa. Tapi ia melakukan satu hal yang jauh lebih penting, yaitu membuat orang merasa dilihat. Dan di dunia kekuasaan, itu adalah mata uang paling mahal.

Saya tiba-tiba teringat satu konsep lama dalam politik, yaitu tentang kharisma. Bukan karisma ala baliho, bukan karisma ala iklan layanan masyarakat, melainkan karisma yang lahir dari sikap, bukan dari spanduk. Kharisma yang tidak perlu diumumkan.

Sebagian orang menyebutnya keberuntungan, sebagian menyebutnya takdir dan saya menyebutnya hoki politik. Tidak semua pemimpin besar lahir dari perencanaan matang. Tidak semua tokoh besar disiapkan sejak awal, ada yang muncul karena keadaan, karena krisis, karena kebutuhan zaman. Dan justru di sanalah karakter diuji.

Komang Koheri hari ini berada di persimpangan itu. Ia bukan sekadar Plt, ia bukan hanya pelaksana teknis. Ia sedang berdiri di titik krusial, antara transisi dan transformasi. Dan di titik seperti itu, yang paling dibutuhkan bukan sekadar kepintaran, melainkan ketenangan.

Senyumnya siang itu bukan senyum basa-basi. Senyuman Komang adalah senyum orang yang tahu bahwa beban di pundaknya besar, tetapi memilih untuk tidak membaginya kepada semua orang. Itulah pemimpin yang matang, tidak mengeluh dan tidak menjual kesusahan.

Lampung Tengah tidak kekurangan rencana, tidak kekurangan dokumen, tidak kekurangan konsep. Yang sering kurang adalah keteladanan emosional. Rakyat tidak selalu mengingat detail program, tapi rakyat selalu ingat bagaimana mereka diperlakukan. Dan di situlah politik menemukan maknanya yang paling manusiawi.

Jika Komang Koheri mampu menjaga aura itu tetap sederhana, ramah, hadir sebagai manusia, bukan sebagai jabatan, maka ia punya peluang besar untuk bukan hanya memimpin, tetapi juga mengikat. Mengikat kepercayaan, mengikat harapan dan mengikat masa depan.

Senyum sering dianggap remeh dalam politik. Padahal, ia adalah bahasa kekuasaan yang paling jujur. Senyum bisa menipu, ya. Tapi senyum juga bisa menyembuhkan. Dan siang itu, saya melihat senyum yang tidak sedang mencari kamera.

Saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana yaitu, terkadang, masa depan tidak diumumkan lewat pidato. Masa depan hadir lewat gestur kecil, seperti senyum yang tulus kepada seorang jurnalis yang datang tanpa undangan, dan dari situlah saya berani menulis opini ini. Komang Koheri bukan hanya sedang memimpin Lampung Tengah, ia sedang diuji oleh sejarah.

Apakah ia akan menjadi sekadar pengisi waktu, atau justru menjadi simbol awal dari sesuatu yang lebih baik. Waktu akan menjawab. Namun satu hal pasti, pemimpin besar tidak selalu lahir dari ambisi besar. Kadang, ia lahir dari senyum yang jujur di ruang makan. (*)