• Selasa, 13 Januari 2026

Pengamat: Penyerapan Beras SPHP Rendah karena Kualitas dan Distribusi

Selasa, 13 Januari 2026 - 14.21 WIB
25

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung sekaligus akademisi ekonomi Universitas Lampung (Unila), Usep Syaipudin. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Program penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Provinsi Lampung belum berjalan optimal. Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Lampung mencatat realisasi penyaluran beras SPHP sepanjang 2025 hanya mencapai 17.759 ton dari target 43.826 ton.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Lampung, Rindo Safutra, mengatakan penyaluran beras SPHP dilakukan sebagai upaya pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di pasaran.

"Sepanjang tahun 2025, Bulog Lampung telah menyalurkan beras SPHP sebanyak 17.759 ton dari target 43.826 ton," ujar Rindo

Rindo menjelaskan, beras SPHP didistribusikan melalui 949 Toko Mitra SPHP yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung sehingga masyarakat dapat memperoleh beras dengan harga lebih terjangkau.

Meski demikian, data penyerapan menunjukkan animo masyarakat terhadap beras SPHP masih rendah. Produk tersebut dijual lebih murah dibanding beras komersial, namun belum mampu menggeser minat konsumen.

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung sekaligus akademisi ekonomi Universitas Lampung (Unila), Usep Syaipudin, menilai tingkat penyerapan yang rendah disebabkan oleh persepsi kualitas dari masyarakat.

"Menurut saya, kualitas. Karena kebutuhan pokok, tentu masyarakat akan mengutamakan kualitas. Persepsi tentang kualitas yang rendah sangat mempengaruhi minat masyarakat," kata Usep saat dimintai tanggapan Senin (13/1/25).

Selain persoalan kualitas, Usep menambahkan faktor kemasan, strategi pemasaran dan distribusi juga ikut mempengaruhi. Ia menilai efektivitas distribusi SPHP Bulog Lampung pada 2025 sebenarnya mengalami kemajuan, namun belum merata di seluruh wilayah.

"Sebagian daerah masih sulit mendapatkan akses ke SPHP sehingga distribusinya belum merata," kata dia

Menurut Usep, rendahnya penyerapan SPHP berdampak pada upaya stabilisasi harga beras di pasaran. Kondisi tersebut dapat memicu harga beras kembali naik dan mengurangi kepastian pasokan pangan di masyarakat. Selain itu, petani juga berpotensi menerima harga gabah yang tidak optimal.

Usep merekomendasikan empat langkah perbaikan agar program SPHP lebih tepat sasaran, yakni perbaikan kualitas produk, peningkatan promosi dan sosialisasi kepada masyarakat, pembenahan jalur distribusi, serta kerja sama dengan pedagang.

"Pelibatan pedagang penting agar distribusi lebih efektif dan menjangkau konsumen secara langsung," tandasnya. (*)