• Kamis, 08 Januari 2026

45 Sekolah di Kota Metro Masuk Daftar Penguatan Sarpras 2026

Rabu, 07 Januari 2026 - 13.21 WIB
213

45 Sekolah di Kota Metro Masuk Daftar Penguatan Sarpras 2026. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Metro - Revitalisasi sekolah akhirnya tidak lagi sekadar jargon kebijakan. Tahun 2026 menjadi titik balik bagi wajah pendidikan dasar dan menengah di Kota Metro, setelah 45 satuan pendidikan yang terdiri dari 30 SD dan 15 SMP resmi masuk daftar penguatan sarana dan prasarana (sarpras) melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Bagi Pemerintah Kota Metro, program ini bukan semata proyek fisik, melainkan upaya mengembalikan martabat ruang belajar, tempat anak-anak seharusnya merasa aman, sehat, dan fokus menimba ilmu.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Metro, Dr. Agus Septiana, menegaskan bahwa penentuan sekolah prioritas tahap pertama dilakukan dengan indikator objektif, bukan pertimbangan non-teknis.

“Presentase kerusakan yang tercatat dalam aplikasi revitalisasi yang bersumber dari Dapodik menjadi dasar utama. Data ini diinput langsung oleh satuan pendidikan, diverifikasi, dan menjadi rujukan penentuan prioritas,” kata Agus, saat dikonfirmasi awak media, Rabu (7/1/2026). 

Dengan pendekatan tersebut, Dinas Pendidikan berupaya memastikan sekolah dengan kerusakan terberat tidak tersisih oleh faktor kedekatan, tekanan, atau lobi, sebuah praktik yang kerap menjadi stigma dalam program pembangunan sektor publik.

Dari 45 sekolah yang diusulkan, lima SD dengan tingkat kebutuhan paling mendesak ditetapkan sebagai tahap pertama revitalisasi 2026. Mereka dipilih karena kerusakan ruang belajar, sanitasi, dan fasilitas pendukungnya berada pada level yang langsung berdampak pada keselamatan dan kenyamanan siswa.

Data internal Dinas Pendidikan menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan, hampir setengah ruang kelas SD di Metro masuk kategori rusak.

Pertanyaan pun muncul tentang mengapa kondisi ini baru didorong melalui revitalisasi besar pada 2026. Agus tidak menampik adanya persoalan perencanaan di masa lalu.

“Sebelum 2026, kualitas data usulan dan kesesuaian dengan Dapodik belum memadai. Akibatnya, banyak kerusakan tidak tergambar utuh dalam sistem nasional,” ujarnya.

Evaluasi itu mendorong perubahan serius. Sejak 2025, Dinas Pendidikan mulai melakukan pembinaan intensif kepada operator Dapodik sekolah, agar data kondisi sarpras benar-benar mencerminkan fakta lapangan. Langkah ini menjadi krusial karena dalam sistem digital Kemendikdasmen, data adalah pintu masuk utama bantuan.

Revitalisasi Metro 2026 juga menempatkan toilet dan sanitasi sebagai prioritas utama, sebuah pengakuan jujur atas persoalan mendasar yang selama ini kerap dianggap sepele. Menurut Agus, kondisi sanitasi sekolah negeri masih jauh dari ideal.

“Keterbatasan anggaran BOS dan APBD membuat pemeliharaan toilet tidak maksimal. Ditambah lagi perilaku siswa yang merusak fasilitas, sehingga sanitasi cepat kembali rusak,” katanya.

Namun Pemkot Metro membaca persoalan ini lebih dalam. Toilet bukan sekadar bangunan pelengkap, melainkan penentu kesehatan, kenyamanan, dan rasa hormat terhadap peserta didik. Tanpa sanitasi layak, sekolah kehilangan wajah kemanusiaannya.

Pembangunan laboratorium komputer juga masuk dalam menu revitalisasi. Namun kritik lama kembali mengemuka tentang banyak lab berdiri tanpa perangkat, listrik tak memadai, atau guru yang siap mengajar. Dinas Pendidikan menyatakan pembelajaran dari pengalaman sebelumnya.

“Kami melakukan monitoring dan pembinaan agar laboratorium benar-benar berfungsi untuk pembelajaran, bukan sekadar ruang fisik,” tegas Agus.

Revitalisasi 2026 diharapkan menjadi lompatan nyata, di mana lab komputer bukan hanya simbol modernisasi, tetapi ruang hidup untuk literasi digital siswa.

Program revitalisasi kedepannya akan dijalankan dengan skema swakelola dan penyaluran dana langsung ke sekolah. Skema ini membuka ruang partisipasi masyarakat, namun sekaligus menuntut pengawasan ketat. Dinas Pendidikan menyiapkan mekanisme pengawalan bersama berbagai pihak.

“Monitoring dan pemantauan dilakukan bersama stakeholder, Kejaksaan, fasilitator, konsultan perencana, dan sekolah,” jelas Agus.

Pengawasan ini penting mengingat total 410 komponen pekerjaan diusulkan terdiri dari 329 rehabilitasi dan 81 pembangunan, angka yang rawan disalahgunakan bila tanpa kontrol ketat.

Tahap pertama revitalisasi menyasar lima SD dengan paket pekerjaan besar dan menyentuh kebutuhan paling dasar. Pertama ialah UPTD SD Negeri 1 Metro Selatan dengan rehabilitasi 13 komponen, fokus ruang kelas dan toilet. Kedua, SD Kristen 1 Metro dengan rehabilitasi 12 komponen dan pembangunan laboratorium komputer.

Ketiga, SD Pertiwi Teladan dengan rehabilitasi 16 komponen dan pembangunan kantin. Keempat, UPTD SD Negeri 2 Metro Timur dengan paket terbesar yaitu 18 rehabilitasi, pembangunan lab komputer, kantin, dan tiga ruang kelas baru. Terakhir, UPTD SD Negeri 12 Metro Pusat dengan rehabilitasi 14 komponen dan pembangunan lab komputer serta kantin.

Lima sekolah ini menjadi etalase awal keseriusan Metro dalam membangun ruang kelas aman, toilet layak, UKS berfungsi, perpustakaan hidup, dan fasilitas penunjang hadir nyata.

Wakil Walikota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, menegaskan revitalisasi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menciptakan rasa aman.

“Ukuran suksesnya sederhana. Anak masuk kelas tanpa takut, guru mengajar tanpa cemas, dan orang tua percaya sekolah itu aman,” ujarnya.

Baginya, revitalisasi harus berakhir pada pengalaman konkret dimana anak datang ke sekolah dengan tenang, belajar tanpa khawatir, dan pulang dengan gembira.

Revitalisasi 45 sekolah di Metro bukan sekadar deretan angka dan paket pekerjaan. Ia adalah pengakuan jujur atas ketertinggalan, sekaligus janji perbaikan yang diawasi bersama.

"Jika dijalankan dengan disiplin data, pengawasan terbuka, dan keberanian menempatkan kebutuhan paling dasar sebagai prioritas, maka 2026 bisa menjadi tahun ketika sekolah-sekolah di Metro kembali menjadi ruang yang layak disebut tempat belajar, bukan sekadar tempat hadir. Dan di sanalah, mutu pendidikan sesungguhnya bermula," tandas Rafieq. (*)