• Rabu, 07 Januari 2026

BNPB Catat 244 Bencana Landa Lampung Sepanjang 2025, Korban Meninggal Dunia 28 Orang

Selasa, 06 Januari 2026 - 08.27 WIB
37

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Rudy Sjawal Sugiarto. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Provinsi Lampung dilanda 244 kejadian bencana alam sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 orang dilaporkan meninggal dunia.

Berdasarkan data yang diakses dari laman bnpb.go.id, Senin (5/1/2026), banjir menjadi bencana paling dominan dengan 176 kejadian. Selanjutnya, cuaca ekstrem tercatat sebanyak 60 kejadian, tanah longsor enam kejadian, dan gempa bumi dua kejadian.

Secara rinci, Kabupaten Way Kanan mengalami empat kejadian bencana, Mesuji 12 kejadian, Tulang Bawang 28 kejadian, Lampung Tengah empat kejadian, Lampung Utara enam kejadian, Lampung Barat empat kejadian, dan Lampung Timur 50 kejadian.

Kemudian, Lampung Selatan tercatat 40 kejadian, Pesawaran 24 kejadian, Tanggamus 16 kejadian, Pesisir Barat delapan kejadian, Tulang Bawang Barat delapan kejadian, Pringsewu empat kejadian, Bandar Lampung 34 kejadian, serta Kota Metro dua kejadian.

BNPB menyebutkan, bencana alam tersebut mengakibatkan 28 orang meninggal dunia dan sebanyak 582.800 orang terdampak serta harus mengungsi.

Sementara itu, dampak kerusakan bangunan meliputi 4.892 unit rumah, terdiri atas 4.064 rumah rusak ringan, 434 rumah rusak sedang, dan 394 rumah rusak berat. Selain itu, tercatat 16 fasilitas umum mengalami kerusakan, yakni 12 satuan pendidikan dan empat rumah ibadah.

Sebelumnya, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor G/683/VI.08/HK/2025 tentang Perpanjangan Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Provinsi Lampung Tahun 2025/2026 tertanggal 29 September 2025.

Dalam Surat Keputusan tersebut, ditetapkan bahwa perpanjangan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Provinsi Lampung tahun 2025/2026 merupakan bentuk kesiapsiagaan terhadap bencana kekeringan, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kebakaran hutan, gelombang panas/dingin, serta bencana alam atau nonalam lainnya.

Status siaga darurat ini berlaku di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung selama 360 hari dan dapat diperpanjang ataupun diperpendek sesuai kebutuhan.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, meminta seluruh kepala daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana, terutama di tengah intensitas hujan yang mulai meningkat.

Mirzani mengatakan, telah menggelar apel kesiapsiagaan dan instruksi tersebut sudah diberikan sejak dua minggu lalu kepada seluruh kabupaten dan kota.

"Pada dua minggu yang lalu kami sudah instruksikan agar seluruh daerah-daerah, seluruh kabupaten, kota bersiap-siap. Segera buat satgas-satgas tanggap bencana," kata Mirzani, Senin (1/12/2025) lalu.

Mirzani juga mengajak masyarakat Lampung untuk lebih aktif memantau informasi dari BMKG yang menyediakan proyeksi cuaca secara rinci hingga tingkat kabupaten dan kecamatan.

Dengan membaca informasi tersebut, masyarakat bisa melakukan antisipasi lebih dini, terutama ketika diprediksi terjadi hujan yang berlangsung dua hingga tiga hari berturut-turut.

"Masyarakat Lampung sekarang coba mulai membaca BMKG, di situ ada proyeksi-proyeksi setiap daerah-daerah, setiap kecamatan, kabupaten. Dari situ bisa dilihat kalau dua hari, tiga hari hujan terus-menerus dan lainnya, kita sudah bisa melakukan hal-hal mitigasi," kata Mirzani mengingatkan.

Gubernur menegaskan bahwa pihaknya juga sangat konsentrasi pada upaya pengurangan aktivitas perambah di kawasan hutan. Upaya penertiban dilakukan untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi risiko bencana ekologis.

"Kami sangat konsentrasi bagaimana mengurangi perambah-perambah hutan di Lampung. Terutama penambang-penambang ilegal, tambang-tambang ilegal dan lain-lain, sudah kami tutup," tegasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Rudy Sjawal Sugiarto, menambahkan pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi.

Rudy menjelaskan, curah hujan tinggi diprediksi masih terus terjadi dengan puncak pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Curah hujan diperkirakan mulai menurun pada Februari 2026.

"Diperkirakan pada akhir tahun ini curah hujan akan sangat tinggi dan hidrometeorologi seperti hujan, puting beliung, tanah longsor, dan banjir rob masih akan mendominasi kejadian bencana di Lampung,” kata Rudy, Senin (1/12/2025) lalu.

Ia menerangkan, hingga Oktober 2025 kejadian bencana masih didominasi banjir dengan 114 kejadian, banjir rob 4 kejadian, angin kencang 136 kejadian, tanah longsor 38 kejadian, dan gempa bumi 5 kali.

"Kita juga sudah berkoordinasi dengan teman-teman di kabupaten/kota untuk selalu siaga 24 jam. Kita juga mengaktifkan posko yang ada di kabupaten/kota untuk merespons laporan dari masyarakat,” ujarnya.

Rudy mengungkapkan, seluruh daerah di Lampung rawan terjadi bencana hidrometeorologi sehingga semua wilayah diminta untuk selalu waspada dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

"Daerah yang rawan untuk pemetaan hampir seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung terdampak hidrometeorologi seperti banjir dan puting beliung. Laporan yang masuk melalui pusdalops hampir setiap hari ada kejadian,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya mengupayakan ketersediaan buffer stock dan telah bersurat kepada BNPB agar memberikan dukungan, mengingat Pemprov Lampung sudah menetapkan status siaga darurat hidrometeorologi.

Menurutnya, status siaga darurat ditetapkan pada bulan Oktober dan akan diperpanjang hingga enam bulan ke depan agar ada payung hukum ketika terjadi keadaan darurat.

"Kita sudah bisa berkoordinasi dengan BNPB terkait dukungan logistik dan peralatan menghadapi bencana hidrometeorologi di tahun 2025 dan awal 2026,” jelasnya.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan BNPB untuk memanfaatkan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang akhir-akhir ini banyak digunakan di beberapa provinsi terdampak banjir.

"Kita sudah merasakan manfaat dari OMC ini pada awal tahun 2025 ketika terjadi banjir besar di beberapa daerah. Dengan melakukan OMC selama 5 hari, kita bisa meminimalisir dampak luas dari bencana tersebut,” imbuhnya.

Polda Lampung juga telah menyiagakan seluruh jajarannya menghadapi potensi bencana alam yang meningkat pada musim penghujan.

Kapolda Lampung, Irjen Pol Helfi Assegaf, menegaskan penyiagaan ini difokuskan pada wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung yang tersebar di 114 titik di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung.

Dari total titik rawan itu, sekitar 85 persen merupakan daerah langganan banjir setiap tahun. Helfi menegaskan seluruh personel telah diperlengkapi peralatan penanganan darurat dan siap digerakkan kapan saja.

"Seluruh personel, baik dari Polda maupun Polres, sudah disiapkan lengkap dengan peralatannya dan siap digunakan sewaktu-waktu,” kata Irjen Helfi, Rabu (5/11/2025) lalu.

Kapolda menyebut setiap Polres sudah memiliki tim yang dibentuk bersama unsur TNI, BPBD, Basarnas, dan tenaga medis. Ia menekankan pentingnya kerja lintas sektor agar penanganan bencana bisa dilakukan cepat dan terkoordinasi.

"Setiap Polres sudah tahu timnya masing-masing. Semuanya sudah disiapkan dan diatur sesuai surat perintah yang akan saya terbitkan,” ujarnya.

Polda Lampung juga telah mengajukan tambahan perlengkapan ke Mabes Polri, terutama pelampung perorangan untuk anggota di lapangan.

Helfi juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah rawan banjir.

Ia meminta warga segera berkoordinasi dengan pihak berwenang ketika debit air meningkat dan memperhatikan aspek keselamatan listrik di rumah.

"Masyarakat perlu waspada, terutama saat hujan deras dan air mulai naik. Koordinasi dengan PLN penting agar listrik segera dipadamkan di wilayah terdampak,” imbaunya.

Selain itu, Kapolda mengingatkan warga agar mengamankan barang berharga saat proses evakuasi. Polisi juga akan mengamankan rumah warga yang ditinggalkan agar tidak dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.

"Unit Reserse dan Lalu Lintas akan bertugas melakukan patroli pasca banjir serta mengatur arus lalu lintas di lokasi terdampak,” terangnya. (*)

Berita ini telah terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas, edisi Selasa 06 Januari 2026 dengan judul "BNPB Catat 244 Bencana Landa Lampung Sepanjang 2025”