• Sabtu, 03 Januari 2026

Wisata Tanggamus Berulang Makan Korban: 2 Anak Tewas di Way Lalaan dan Remaja Nyaris Tenggelam di Pantai Cuku Batu

Jumat, 02 Januari 2026 - 21.57 WIB
19

‎Proses evakuasi Silvana yang tenggelam di Pantai Cukuh Batu Pekon Terbaya, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus. Foto: Ist.

‎Kupastuntas.co,Tanggamus - Dalam hitungan hari, wisata air di Kabupaten Tanggamus kembali memperlihatkan sisi paling berbahaya. Seorang remaja perempuan nyaris meregang nyawa di Pantai Cuku Batu Gang Bumi Jaya Pekon Terbaya, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Jumat (02/01/2026).

Peristiwa ini menyusul tragedi dua anak yang tewas tenggelam di Air Terjun Way Lalaan, Kecamatan Kotaagung Timur.

Peristiwa terbaru terjadi di Pantai Cuku Batu. Remaja bernama Silvana (15), warga Terbaya, mandi di laut bersama seorang rekannya.

‎Saat itu cuaca mendung, angin laut bertiup cukup kencang, dan gelombang perlahan meninggi. Kondisi tersebut tak menyurutkan aktivitas wisata.

‎Ketika ombak datang lebih besar, keduanya terseret arus. Rekan Silvana berhasil diselamatkan lebih dahulu oleh warga.

Silvana terseret lebih jauh hingga akhirnya pingsan di dalam air.

‎Melihat kondisi tersebut, warga sekitar bergerak cepat. Empat warga yang melihat kejadian tersebut, yakni Sakar dan Darman terjun ke laut, dibantu Miding dan Asmuri dari darat.

‎Tubuh Silvana berhasil dievakuasi ke pantai dalam kondisi tidak sadarkan diri.

‎Di tepi pantai, warga melakukan pertolongan darurat secara sederhana.

‎Tubuh korban diangkat dengan posisi kepala berada di bawah, lalu ditepuk-tepuk agar air laut yang sempat terminum keluar. Beberapa saat kemudian, korban mulai menunjukkan respon.

‎Silvana kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan sebelum dirujuk ke RSUD Batin Mangunang, Kotaagung.

‎"Hingga kini, korban sudah sadar, dapat diajak berkomunikasi, namun masih mengalami trauma dan menjalani perawatan dengan bantuan oksigen di bawah pengawasan tenaga medis," ungkap Kasubbag TU RSUD Batin Mangunang, Hendra Eka Saputra.

Insiden di Pantai Cuku Batu terjadi ketika masyarakat Tanggamus masih berduka atas tragedi di Air Terjun Way Lalaan.

‎Dua anak dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam di kawasan wisata tersebut.

‎Korban diketahui berinisial DV (9), warga Kecamatan Ulu Belu, dan DA (10), warga Pekon Talagening, Kecamatan Kotaagung Barat.

‎Keduanya terseret arus deras saat bermain air di bawah air terjun, ketika debit air meningkat akibat hujan di wilayah hulu.

Meski sempat dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit, nyawa kedua korban tidak tertolong.

‎Peristiwa ini memicu sorotan terhadap lemahnya pengawasan keselamatan di salah satu ikon wisata alam Kabupaten Tanggamus itu.

‎Rentetan kejadian ini sejalan dengan peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG Maritim Lampung sebelumnya mengeluarkan imbauan waspada gelombang tinggi di perairan barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan, termasuk wilayah pesisir Kabupaten Tanggamus.

‎BMKG memprakirakan ketinggian gelombang laut berkisar antara 2,5 hingga 4 meter, dipicu oleh pola angin barat hingga barat laut yang cukup kuat.

Kondisi ini dinilai berbahaya bagi aktivitas wisata pantai, terutama berenang dan bermain air di pesisir.

‎Selain itu, BMKG juga memperingatkan potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem yang dapat meningkatkan debit sungai dan air terjun secara tiba-tiba.

‎Masyarakat diimbau menghindari aktivitas di sekitar air terjun, sungai, dan laut saat cuaca memburuk, serta selalu memantau informasi resmi cuaca sebelum berwisata.

‎BMKG secara tegas mengingatkan bahwa perubahan kondisi alam dapat terjadi sangat cepat, dan keterlambatan merespons peringatan cuaca dapat berakibat fatal.

‎Aksi cepat warga yang menyelamatkan Silvana menuai apresiasi luas. Namun dua peristiwa ini memperlihatkan pola yang sama: keselamatan pengunjung masih sangat bergantung pada spontanitas warga, bukan pada sistem pengamanan yang terencana.

‎Dalam hitungan hari, Pantai Cuku Batu dan Air Terjun Way Lalaan menyampaikan pesan yang sama, bahwa wisata alam bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang risiko yang menuntut kewaspadaan, disiplin, dan tanggung jawab bersama. (*)