• Sabtu, 17 Januari 2026

Saat Pohon Jadi Korban Iklan, Aksi Bungkus Pohon Jadi Alarm Keras

Jumat, 12 Desember 2025 - 11.18 WIB
143

Sejumlah pengurus GML Kota Metro saat melakukan gerakan membungkus pohon dengan kain limbah. Foto: Arby/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Di tengah kondisi darurat lingkungan, Gerakan Masyarakat Lokal (GML) Indonesia muncul dengan aksi sederhana namun penuh kritik yaitu membungkus pohon.

Aksi yang digelar di kawasan Jalan Kutilang dan Jalan Perkutut, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, Jumat (12/12/2025) itu bukan sekadar aksi seremonial. Ini adalah sindiran telanjang kepada pemerintah yang dinilai gagal menjaga pohon-pohon kota dari perusakan, khususnya pemasangan banner dan paku iklan yang semakin merajalela.

Ketua GML Indonesia, Slamet Riadi menjelaskan bahwa gerakan membungkus pohon ini digagas sebagai bentuk edukasi sekaligus aksi kritik.

"Kita ingin masyarakat sadar bahwa pohon jangan ditebang, jangan dipaku. Pohon menghasilkan oksigen dan mencegah banjir. Tapi di Metro, pohon malah jadi tempat pasang banner,” tegas Slamet.

Pria yang juga merupakan Founder Pesantren Sampah Nusantara itu menyebutkan bahwa kain pembungkus pohon tersebut berasal dari limbah konveksi yang didaur ulang. Masyarakat memanfaatkan sampah untuk melindungi pohon, sementara pemerintah membiarkan sampah visual merusaknya.

Slamet secara frontal meminta Walkota Metro mengeluarkan instruksi kepada Satpol PP untuk membersihkan seluruh alat peraga iklan di pohon penghijauan sepanjang jalan protokol di Metro.

Menurutnya, permintaan penertiban atribut iklan pada pohon penghijauan tersebut sejatinya bukan hal baru, namun hingga kini tak kunjung menjadi prioritas pemerintah.

"Banner-banner itu merusak pohon. Satpol PP harusnya menertibkan. Jangan tutup mata. Pohon itu aset kota, bukan milik pemasang iklan,” ujarnya.

Faktanya, hampir di seluruh ruas jalan Metro, pohon-pohon penghijauan berubah menjadi kios promosi. Pemerintah seolah membiarkan ruang publik dirusak tanpa malu.

"Kalau pemerintah telat bergerak, rakyat turun tangan. Gerakan ini akan terus kami lakukan. Tidak hanya pohon mahoni, tapi semua pohon yang dirusak oleh iklan liar,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Divisi Lingkungan Hidup GML Kota Metro, Ali Sodiq, menegaskan bahwa gerakan ini akan diperluas ke semua titik pohon besar di Metro.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang menyumbangkan limbah kain untuk dijadikan pembungkus pohon.

"Ini adalah bentuk solidaritas lingkungan yang justru tidak datang dari pemerintah. Gerakan ini menjadi potret paling nyata bahwa ketika pemerintah gagal menjalankan fungsi pengawasan, masyarakatlah yang harus turun tangan. Kehadiran pohon yang dibungkus kain hanyalah gejala dari penyakit yang lebih besar, yaitu pembiaran," terangnya.

Banjir yang berulang di Metro, puting beliung yang kerap terjadi, hingga panas ekstrem bukan fenomena acak. Itu adalah konsekuensi dari lemahnya perlindungan terhadap lingkungan.

"Sayangnya, sampai kini Pemkot Metro tampak lebih cepat membuka ruang reklame berbayar ketimbang menutup aktivitas perusakan pohon. Gerakan membungkus pohon ini adalah peringatan keras. Bukan untuk masyarakat saja, tapi terutama untuk pemerintah," bebernya.

"Pohon-pohon yang selama ini diam, kini bersuara melalui kain yang membalut batangnya. Suaranya jelas, lindungi kami, sebelum kota ini kehilangan seluruh penyangga hidupnya," tandasnya. (*)