• Sabtu, 29 November 2025

Jejak Doa, Jejak Rezeki

Sabtu, 29 November 2025 - 08.42 WIB
22

Jejak Doa, Jejak Rezeki. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Lampung Selatan - Kota Baru, Kabupaten Lampung Selatan berubah menjadi lautan manusia pada Jumat 28 November 2025 pagi.

Dari kejauhan, suara azan yang diperdengarkan dari Masjid Al Hijrah seolah menyambut satu per satu rombongan yang datang dari ribuan kilometer jauhnya.

Jalan Terusan Ryacudu tak henti bergetar oleh deru mesin bus yang membawa harapan, doa, dan kerinduan spiritual para jemaah.

Di sela hiruk pikuk itu, Lampung menyadari dirinya sedang menjadi tuan rumah bagi tamu dari seluruh penjuru dunia.

Bagi sebagian orang, Ijtima Ulama Dunia 2025 adalah perhelatan besar yang penuh zikir dan doa. Namun bagi masyarakat Lampung, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada sektor informal, momen ini menghadirkan denyut ekonomi yang jarang datang dua kali dalam setahun.

Di sisi jalan, Usman, jemaah asal Kisaran, Sumatera Utara, baru saja turun dari bus yang membawanya selama empat hari empat malam.

Matanya lelah, namun wajahnya tetap memancarkan semangat. "Alhamdulillah kami baru sampai dari Kisaran. Perjalanan empat hari empat malam,” ujarnya sambil tersenyum menahan penat.

Di sekelilingnya, puluhan ribu jemaah lain terus berdatangan, memenuhi setiap jengkal lahan di sekitar kawasan Kota Baru.

Akademisi sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin, melihat hadirnya puluhan ribu jemaah bukan semata kerumunan spiritual.

Ada denyut ekonomi yang ikut bergetar di setiap langkah mereka. Menurutnya, momen ini memicu efek berganda yang langsung dirasakan pelaku usaha kecil.

"Secara prinsip, ketika ada kerumunan orang di satu tempat, pasti ekonomi bergerak. Karena setiap orang butuh konsumsi, makan-minum, tempat tinggal, menginap, transportasi, dan kebutuhan lainnya,” tegas Usep.

Warung-warung kecil yang biasanya sepi kini kehabisan stok. Pemilik homestay lokal kebanjiran tamu.

Sopir angkutan kota, ojek pangkalan, hingga pengusaha bus menikmati peningkatan pendapatan.

Salah satu sopir bus asal Metro, mengaku sudah sibuk sejak dua minggu lalu. Banyak rombongan pesan bus dari berbagai daerah.

Namun, di balik hiruk-pikuk ekonomi jangka pendek, Usep melihat manfaat yang lebih panjang umurnya. Bagi Lampung, acara ini adalah investasi reputasi.

"Kalau masyarakat sekitar bisa memberikan kesan yang baik, keramahan itu akan dibawa pulang ke daerah atau negara asal para jamaah. Lampung mendapatkan promosi gratis dan nama baiknya akan terangkat,” katanya.

Ia mengingatkan, kesan baik adalah modal yang tak terlihat, tapi sangat menentukan. Sebab pelayanan buruk juga mudah melekat dan sulit dihapus.

Karena itu, aparat keamanan, Satpol PP, panitia, hingga warga sekitar terlihat bekerja ekstra menjaga kenyamanan.

Di simpang-simpang jalan, petugas mengatur lalu lintas yang mengular akibat ratusan bus dari berbagai provinsi, di antaranya Sumatera Utara, Jambi, Aceh, Palembang, Jawa Tengah, yang tiba hampir bersamaan.

Di gerbang tol Kota Baru, panitia memberikan arahan agar kendaraan tidak berhenti sembarangan.

Ketika siang menjelang, ribuan jemaah mulai memadati halaman masjid. Mereka diarahkan menuju blok masing-masing untuk mengikuti ta’lim sebelum Salat Jumat berjamaah.

Di titik ini, spiritualitas mencapai puncaknya. Puluhan ribu orang bersatu dalam satu saf, satu doa, dan satu harapan.

Selepas Salat Jumat, pembukaan Tabligh Akbar Indonesia Berdoa 2025 berlangsung khidmat.

Dari siang hingga malam, kegiatan berjalan tanpa henti, zikir, istirahat bersama jemaah, salat berjamaah, hingga Infirodi Amal dini hari yang diisi tahajud dan doa panjang.

Di antara keramaian itu, Lampung seolah berdiri di antara dua wajah: wajah spiritual yang menenangkan, dan wajah ekonomi yang bergerak tanpa henti. Keduanya berjalan berdampingan, saling menguatkan.

Usep menutup analisisnya dengan doa dan harapan. "Partisipasi masyarakat sangat penting. Kita doakan bersama supaya acara berjalan sukses dan Lampung menunjukkan dirinya sebagai tempat yang asik dan aman untuk dikunjungi,” ucapnya.

Ijtima Ulama 2025 bukan hanya tentang ribuan doa yang mengalun di Masjid Al Hijrah. Ia adalah jejak pengalaman, jejak pertemuan, jejak ekonomi, dan jejak kebaikan yang jika dijaga, akan terus bergaung dalam ingatan para jemaah ketika mereka pulang ke kampung masing-masing.

Dan di tengah keramaian itu, Lampung menemukan dirinya sebagai tuan rumah yang bukan hanya menghidangkan kenyamanan, tetapi juga membuka pintu rezeki. (*)