Bayi Asal Lamtim Penderita Jantung Bocor dan Paru-Paru Kempes Butuh Uluran Tangan Dermawan

Bayi usia 1 bulan mengalami jantung bocor dan paru-paru kempes di Desa Labuhanratu Dua, Way Jepara, butuh uluran tangan dermawan. Foto: Agus/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Lampung Timur – Di tengah terik matahari
yang menyengat, Sarif dan Emilia, pasangan suami istri warga Dusun Way Handak,
Desa Labuhanratu Dua, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, duduk di
depan rumah mereka.
Mereka tak lagi tahu harus berbuat apa, selain berharap kepada Tuhan dan meminta uluran tangan dari pemerintah. Sejak lahir, anak mereka yang bernama Fais Jaya harus menanggung penderitaan akibat penyakit kelainan jantung bocor dan paru-paru kempes. Sebuah penyakit yang jarang terjadi pada bayi seusianya, namun menjadi kenyataan pahit yang harus mereka hadapi.
Fais Jaya, yang baru berusia satu bulan, telah dirawat di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung selama beberapa hari. Dokter yang menangani bayi itu memvonisnya dengan dua penyakit serius tersebut, yang menurut mereka sangat sulit untuk diobati tanpa tindakan medis lanjutan.
Sarif menceritakan betapa beratnya perjuangan anaknya, yang harus bertahan dengan selang yang terpasang di hidung untuk proses memasukan susu dan perutnya untuk membantu membuang kotoran pernapasan.
"Tanggal 3 Februari 2025, anak kami lahir dengan kondisi seperti ini. Sejak itu, kami harus menjalani perawatan intensif. Dokter sudah memberi tahu bahwa dia menderita penyakit jantung bocor dan paru-paru kempes. Kami hanya bisa pasrah dan berharap ada jalan keluar," ujar Sarif dengan mata yang penuh keputusasaan. Minggu (23/3/25).
Namun, meski sudah menjalani perawatan intensif di rumah sakit, masalah tidak selesai begitu saja. Sarif dan Emilia merasa kewalahan, karena kondisi ekonomi mereka sangat terbatas. Sarif bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, sementara Emilia harus merawat Fais Jaya yang terus membutuhkan perhatian penuh.
"Saya hanya buruh serabutan. Setiap hari, saya mencari rezeki seadanya, tidak pasti. Kadang ada, kadang tidak. Tapi sekarang, saya harus lebih banyak di rumah merawat anak saya. Kami kedepan harus mengeluarkan biaya untuk kontrol ke rumah sakit dengan jadwal yang sudah ditentukan dokter, yang tentu saja bukan hal yang murah," tambah Sarif.
Pihak rumah sakit memberikan instruksi untuk kontrol rutin kepada Fais Jaya di Rumah Sakit Abdul Moeloek, namun biaya transportasi dari Lampung Timur ke Bandar Lampung harus ditanggung sepenuhnya oleh Sarif dan Emilia. Biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari, seperti susu dan obat-obatan, semakin menambah beban keluarga kecil ini.
"Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya hanya bisa mengandalkan BPJS untuk perawatan medis, tapi biaya operasional dan transportasi kami harus bayar sendiri. Saya berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah, terutama Dinas Sosial, untuk membantu kami. Kami tidak bisa hidup dengan begini, kami perlu bantuan," katanya dengan suara yang penuh harapan.
Sarif dan Emilia juga harus bekerja ekstra keras dalam merawat Fais Jaya yang tak bisa lepas dari alat bantu pernapasan. Setiap dua jam sekali, mereka harus memberi susu melalui botol yang terhubung dengan selang, sebuah rutinitas yang memakan waktu dan tenaga, namun juga menunjukkan betapa besar cinta mereka kepada anak yang sedang berjuang untuk hidup.
Di sisi lain, warga sekitar merasa prihatin dengan kondisi Fais Jaya dan keluarga ini. Mereka berharap pemerintah bisa memberikan bantuan segera agar Fais Jaya bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik. "Kami semua merasa prihatin. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah atau instansi terkait. Jika dibiarkan seperti ini, kami khawatir kondisi Fais Jaya akan semakin memburuk," ungkap kerabatnya.
Seiring berjalannya waktu, Sarif semakin cemas dan tak tahu apa yang harus dilakukan. "Kami hanya bisa berdoa dan berharap ada pertolongan. Sebagai orang tua, rasanya sangat berat melihat anak kami seperti ini. Namun, kami tak punya pilihan lain selain terus berjuang," ujar Sarif sambil menatap Fais Jaya yang terbaring lemah di kasur.
Kisah tragis ini menunjukkan betapa kerasnya hidup keluarga Sarif dan Emilia. Mereka tidak hanya berjuang melawan penyakit yang diderita oleh anak mereka, tetapi juga berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Harapan mereka hanya satu: agar pemerintah dan masyarakat peduli dan memberikan bantuan yang sangat mereka perlukan. Bagi siapapun yang tergerak hatinya dan ingin memberikan bantuan bisa menghubungi nomor ini 088287217839, terima kasih. (*)
Berita Lainnya
-
Pemkab Lampung Timur Mulai Perbaiki Lima Titik Jalan, Bupati Ela: Untuk Menunjang Perekonomian Daerah
Kamis, 27 Maret 2025 -
Gagal Beraksi, Pencuri di Agen BRI Link Sukadana Lamtim Melarikan Diri
Rabu, 26 Maret 2025 -
Pedagang Beras Raup Keuntungan Berlipat Jelang Waktu Pembayaran Zakat Fitrah
Rabu, 26 Maret 2025 -
Polisi Lamtim Sidak Pasar Cegah Penimbunan Bahan Pokok
Selasa, 25 Maret 2025