Janji DPRD Lampung Timur Terkait Pengawasan Pabrik Singkong Diduga Belum Dijalankan

Ketika Ketua DPRD Lampung Timur membacakan janji akan melakukan pengecekan semua pabrik singkong dihadapan pengunjuk rasa 3 bulan lalu. Foto: Agus/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Lampung Timur - Janji yang disampaikan oleh Ketua DPRD
Lampung Timur, Ridha Rotul Aliyah, di hadapan para pengunjuk rasa terkait
anjloknya harga singkong pada Desember 2024 lalu, hingga kini belum terwujud.
Dalam kesempatan itu, Ridha menyampaikan beberapa poin komitmen yang seharusnya
menjadi langkah nyata untuk mengatasi masalah yang ada.
Salah satu poin penting yang dijanjikan oleh Ridha adalah pengawasan
terhadap timbangan perusahaan yang membeli singkong dari petani. Pengawasan ini
diharapkan dapat memastikan bahwa setiap transaksi jual beli singkong dilakukan
secara transparan dan adil, mengingat banyaknya laporan yang menyebutkan adanya
penurunan harga yang tidak wajar.
Selain itu, Ridha juga berjanji akan melakukan pengawasan terhadap
limbah yang dihasilkan oleh perusahaan, yang diduga mencemari aliran sungai di
sekitar area pabrik. Hal ini menjadi perhatian serius, mengingat dampak negatif
pencemaran limbah terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Poin selanjutnya yang dijanjikan adalah pengawasan terhadap penggunaan
air bawah tanah oleh perusahaan. Mengingat banyaknya pabrik yang bergantung
pada sumber daya alam tersebut, pengelolaan yang baik dan benar menjadi penting
agar tidak terjadi penyalahgunaan yang merugikan masyarakat sekitar.
Ridha juga menyebutkan akan melakukan pengawasan terhadap kelengkapan
izin perusahaan yang beroperasi. Pemerintah daerah harus memastikan bahwa
setiap perusahaan yang ada di Lampung Timur memiliki izin yang sah dan mematuhi
peraturan yang berlaku, untuk mencegah adanya praktik ilegal yang merugikan
masyarakat.
Selain itu, pihaknya juga akan mengawasi pembatasan tonase kendaraan
yang melintasi jalan kabupaten oleh mobil perusahaan. Hal ini penting untuk
menjaga kualitas infrastruktur jalan yang seringkali rusak akibat beban berat
kendaraan pengangkut singkong dan produk lainnya.
Janji lainnya adalah bahwa pengawasan terhadap upah minimum regional
(UMR) harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah. Pihak
perusahaan diharapkan memberikan perlindungan kepada tenaga kerja, agar hak-hak
pekerja dapat dipenuhi dengan baik sesuai aturan yang berlaku.
Namun, meskipun janji-janji tersebut dibacakan pada Desember 2024 di
hadapan para pengunjuk rasa, hingga hari ini, belum ada tindakan nyata yang
dilakukan oleh DPRD terkait pengawasan yang dijanjikan.
Anwar, salah satu pegawai dari pabrik pengolahan tapioka di Kecamatan
Labuhanratu, mengungkapkan bahwa pihak DPRD belum melakukan sidak atau
pengecekan apapun ke pabrik tersebut. "Belum ada sampai sekarang sidak
dari DPRD soal apapun," kata Anwar saat dimintai keterangan. Jumat
(28/2/25).
Di sisi lain, Hendro, pegawai dari perusahaan pengolahan tapioka di Desa
Muara Jaya, Kecamatan Purbolinggo, juga mengungkapkan hal yang sama.
Menurutnya, belum ada pihak DPRD atau instansi terkait yang melakukan kunjungan
ke pabrik tempatnya bekerja untuk mengecek masalah limbah, timbangan, tonase,
atau penggunaan air bawah tanah.
"Belum pernah ada yang datang ngecek seperti soal limbah, soal
timbangan, soal tonase dan soal air bawah tanah," terang Hendro.
Sementara itu, Anwar menambahkan bahwa mulai hari ini, Jumat
(28/3/2025), pabrik pengolahan tapioka tempatnya bekerja terpaksa tutup
sementara karena kerusakan pada mesin.
"Kami belum tahu sampai kapan perbaikan mesinnya, kalau sudah selesai ya akan dibuka lagi," ujar Anwar.
Hingga berita ini dirilis Ketua DPRD Lampung Timur, Ridha Rotul Aliyah belum memberikan jawaban kepada wartawan, pesan belum dibalas telpon tidak diangkat. (*)
Berita Lainnya
-
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Lamtim Berubah Fokus pada Lowongan Kerja Panen Tebu
Kamis, 27 Februari 2025 -
Warga Desa Gedung Ringin Lamtim Tangkap Buaya Sepanjang 3 Meter
Kamis, 27 Februari 2025 -
Ibu Pembunuh Anak Kandung di Lampung Timur Tidak Ditahan Karena Alami Gangguan Jiwa
Kamis, 27 Februari 2025 -
Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Lamtim Meningkat, Penggunaan HP Berlebih Dituding Jadi Penyebabnya
Kamis, 27 Februari 2025