Marriot Resort & Spa Pasang Jaring Laut 51 Hektar Diduga Ilegal, DPRD: Kalau Tidak Berizin Bongkar

Anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Budiman AS. Foto: Kupastuntas.co
Kupastuntas.co,
Bandar Lampug - Lampung Marriot Resort & Spa diduga kembali memasang jaring
laut di perairan Pantai Mutun Desa Sukajaya, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten
Pesawaran, mencapai luas 51 hektar. Diduga jaring laut yang dipasang ini belum
memiliki izin alias ilegal.
Setelah
memagari perairan Pantai Mutun seluas 3 hektar dengan jaring laut, pihak
Marriot Resort & Spa diduga kembali memasang jaring laut lebih luas yakni
51 hektar di perairan yang sama. Jaring laut yang dipasang terbuat dari jaring
dan drum plastik.
Pantauan
di lapangan, jaring laut yang dipasang hanya satu lapis membentang lebih
panjang dari jaring laut pertama hingga menjorok ke tengah laut perairan Pantai
Mutun.
Di
sela-sela jaring laut itu dipasang bendera merah putih berukuran kecil sebagai
tanda menjadi pintu masuk ke areal perairan laut yang dipasang jaring laut
tersebut. Namun, tidak semua nelayan bisa secara bebas masuk ke wilayah
perairan laut yang dipasang jaring laut tersebut.
Bahkan,
lebih banyak nelayan yang dilarang untuk memasuki wilayah perairan Pantai Mutun
yang sudah dipasang jaring laut.
Sumber
Kupastuntas.co mengatakan, jaring laut yang dibuat Marriot Resort & Spa
terbaru lebih panjang dari jaring laut yang dipasang sebelumnya.
"Jika
sebelumnya jaring laut yang dipasang hanya seluas 3 hektar, jaring laut kedua
yang dibuat ini diperkirakan mencapai luas sekitar 51 hektar," kata sumber
ini, Rabu (26/2/2025).
Ia
mengungkapkan, jaring laut kedua yang dipasang ini diduga belum memiliki izin
dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
"Informasi
yang kami terima jaring laut kedua yang dibuat Marriot ini belum ada izin dari
KKP. Untuk lebih jelasnya bisa ditanya ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP)
Provinsi Lampung atau Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)," saran dia
yang minta identitasnya dirahasiakan.
Sementara,
Anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Budiman AS menegaskan bahwa apabila
jaring laut tidak sesuai prosedur maka harus dibongkar.
"Kalau
memang tidak prosedural maka kita minta bongkar segera," tegasnya.
Dia
mengatakan, penting pihaknya melakukan tinjauan ke lokasi serta melakukan
panggilan sejumlah pihak termasuk pihak hotel agar mengetahui secara menyeluruh
pokok permasalahan.
"Kita
akan minta klarifikasi, kemudian juga kita akan melakukan tinjauan ke lapangan karena
kita juga harus tau dimana itu membentangnya. Setelah tinjau lapangan, maka
kita akan klarifikasi berbagai pihak nanti," bebernya.
Ketua
DPC Demokrat Kota Bandar Lampung ini mengatakan, tidak boleh perusahaan
melakukan tindakan tidak sesuai regulasi hukum.
"Kalau
tidak sesuai prosedur ya harus bongkar, gak boleh perusahaan membikin sesuatu
tidak sesuai aturan," tutupnya. (*)
Berita Lainnya
-
Pemkot Bandar Lampung Sesuaikan Jam Kerja ASN Selama Ramadan 2025, Ini Jadwalnya
Rabu, 26 Februari 2025 -
Pengamat Sebut Retreat Kepala Daerah Bahas Strategi Pembangunan dan Kolaborasi
Rabu, 26 Februari 2025 -
Kepala MAN 1 Bandar Lampung Raih Lulusan Terbaik Program Doktor MPI UIN RIL
Rabu, 26 Februari 2025 -
UIN RIL Sukses Gelar FGD Pendirian Fakultas Kedokteran Bersama FK Unjani
Rabu, 26 Februari 2025