Marriot Resort & Spa Diduga Kembali Pasang Jaring Laut Ilegal, WALHI Soroti Pemerintah Lakukan Pembiaran

Ketua WALHI Lampung, Irfan Tri Musri. Foto: Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar
Lampung - Lampung Marriot Resort & Spa kembali diduga memasang jaring laut
di perairan Pantai Mutun, Desa Sukajaya, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten
Pesawaran tanpa izin alias ilegal.
Kali ini, luas area yang
dipagari mencapai 51 hektar, jauh lebih besar dari pemasangan sebelumnya yang
hanya 3 hektar. Dugaan kuat muncul bahwa pemasangan jaring ini dilakukan tanpa
izin, sehingga menimbulkan polemik di kalangan aktivis lingkungan dan masyarakat
setempat.
Jaring laut yang dipasang
oleh pihak Marriot Resort & Spa ini terdiri dari jaring serta drum plastik
yang berfungsi sebagai pelampung. Pemasangan ini menuai kritik keras, terutama
dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung, yang mempertanyakan
legalitas dan dampak lingkungan dari tindakan tersebut.
Ketua WALHI Lampung,
Irfan Tri Musri, menegaskan bahwa meskipun pemasangan jaring laut ini mungkin
memiliki niat baik, seperti menyaring sampah di laut, tindakan ini tetap ilegal
jika tidak memiliki izin resmi.
"Terlepas dari niat
baik, pemasangan jaring ini tetap harus melalui prosedur yang benar. Kalau
belum memiliki izin, ya jangan dilakukan. Apalagi ini bukan pertama kalinya
mereka memasang jaring secara ilegal. Harusnya semua izin dikantongi dulu
sebelum memulai proses pemasangan," ujar Irfan. Rabu (26/2/2025).
Lebih lanjut, WALHI juga
menyoroti adanya dugaan pembiaran dari pihak pemerintah, khususnya Dinas
Kelautan dan Perikanan.
Irfan menilai seharusnya
pemerintah lebih proaktif dalam melakukan pengawasan dan memberikan sanksi
administratif jika memang ada pelanggaran yang terjadi.
"Jika kasus ini
terus berulang, ini bisa menjadi indikasi bahwa pemerintah tidak menjalankan
tanggung jawabnya dengan baik. Seharusnya ada tindakan tegas, bukan hanya diam
dan membiarkan hal ini terjadi berkali-kali," tambahnya.
Pihaknya mendesak agar
pihak berwenang segera turun tangan dan memastikan bahwa perairan Pantai Mutun
tetap terlindungi dari aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem serta
membatasi akses masyarakat setempat.
"Harusnya pemerintah
itu kan proaktif melakukan pengawasan hal yang seperti itu, " tandasnya.
(*)
Berita Lainnya
-
Komisi II DPRD Lampung Tengah Temukan Banyak Pelanggaran Hingga Potensi PAD
Rabu, 26 Februari 2025 -
UIN RIL Luluskan 838 Wisudawan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode I Tahun 2025
Rabu, 26 Februari 2025 -
Pemkot Bandar Lampung Sesuaikan Jam Kerja ASN Selama Ramadan 2025, Ini Jadwalnya
Rabu, 26 Februari 2025 -
Pengamat Sebut Retreat Kepala Daerah Bahas Strategi Pembangunan dan Kolaborasi
Rabu, 26 Februari 2025