• Sabtu, 20 Juli 2024

Uniknya Tradisi Ruwatan Sumber Mata Air Dua Desa di Tanggamus, Ini Tujuannya

Minggu, 07 Juli 2024 - 09.45 WIB
484

Warga Pekon Talang Rejo dan Tanjung Anom, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus menggelar tradisi ruwatan sumber mata air. Foto: Sayuti/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus - Masyarakat Pekon Talang Rejo dan Tanjung Anom, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus, menggelar kegiatan Sedekah Desa berupa Ruwat Sumber Mata Air di sumber mata air yang terletak di Pekon Talang Rejo pada Minggu pagi (7/7/2024).

Di tengah pagi yang hening, dengan embun menggantung di ujung daun sisa hujan semalam, gemercik suara mata air yang jernih mengiringi sekitar seratus warga dan tokoh masyarakat Pekon Talang Rejo dan Tanjung Anom yang datang berduyun-duyun membawa aneka makanan (berkat/oko) dengan berbagai menu dan sayur, serta tumpeng lengkap dengan ayam bekakak.

Pada pagi yang basah itu, mereka menggelar kegiatan selametan atau ritual yang bertujuan untuk menjauhkan diri dari bala, penyakit, dan musibah, serta mensyukuri segala nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini rutin mereka lakukan setiap tanggal 1 Muharram, yang oleh warga setempat disebut Suran atau Suroan.

Ritual diawali dengan meletakkan sesajen berupa ayam bekakak, kopi, teh, serta dupa dengan membakar kemenyan. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran, zikir, sholawat, serta doa yang dipimpin oleh seorang tokoh agama. Ritual ini ditutup dengan makan bersama.

Inilah tradisi ruwatan sumber mata air atau kenduri sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat mata air yang berlimpah. Tradisi ini dilakukan tepat di hari Jumat Kliwon bulan Suro bertepatan dengan 1 Muharram 1446 Hijriah, dengan harapan besar agar sumber mata air ini terjaga hingga anak cucu.

Kepala Pekon Tanjung Anom, Sumardi, didampingi Kepala Pekon Talang Rejo, Helmi, memberi wejangan tentang pentingnya sumber mata air bagi penghidupan banyak orang. Sumardi mengatakan, air menjadi medium utama bagi manusia, seperti untuk mandi, mencuci, memasak, bersuci, dan lain sebagainya, sehingga menempatkan air sebagai sumber kehidupan.

"Selain sebagai sumber kehidupan, air berfungsi sebagai sarana konservasi yang dapat meningkatkan kualitas tanah dari kering dan tandus menjadi subur, sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia melalui tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang dihasilkannya serta hewan-hewan," kata Sumardi. "Untuk itu, kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam melestarikan sumber air, menjaga kebersihan sekitar mata air agar tetap terlindungi, terawat, dan terus mengalir," tambahnya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan, lanjut Sumardi, adalah dengan melakukan konservasi kawasan sumber air yang ada hingga dapat terawat dengan baik.

Mbah Togog (75), tokoh masyarakat setempat, mengatakan kegiatan selamatan atau ruwatan sumber mata air ini rutin dilakukan sejak lama secara turun-temurun. Semua dilakukan sebagai komitmen warga untuk melindungi sumber mata air.

"Air adalah sumber penghidupan, anugerah dari Allah bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk hewan dan tumbuhan. Untuk itu, kita mutlak harus menjaganya," katanya.

Melalui selamatan ini, warga juga berharap debit air di sumber mata air Amust atau Wetan Kali tetap deras mengalir dan menghidupi warga yang rata-rata bekerja sebagai petani. (*)