• Senin, 15 Juli 2024

166 Jemaah Haji Indonesia Wafat di Tanah Suci, PPIH Imbau Jaga Kondisi di Tengah Panas Ekstrem

Jumat, 21 Juni 2024 - 10.24 WIB
22

Ilustrasi. Foto: Islami.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Kementerian Kesehatan RI melaporkan penambahan kasus baru kematian jemaah haji sebanyak 22 orang, sehingga jumlahnya mencapai 166 jiwa. Data ini didapatkan dari total 213.275 jemaah haji dalam kloter 553, 75,9 persen di antaranya merupakan kelompok berisiko seperti lansia dan pengidap komorbid.

Ada 43 orang yang mengidap penyakit jantung kronis, 20 orang mengalami sepsis yang parah, 21 orang terkena syok kardiogenik, dan 18 acute respiratory distress syndrome. Sisanya, 12 orang gangguan aritmia jantung, 8 orang syok hipovolemik, 6 kasus pneumonia, 4 kasus intracerebral haemorrhage, 4 kasus pulmonary embolism, dan 4 kasus kegagalan pernapasan akut.

Sementara jemaah haji yang dirawat inap di RS Arab Saudi totalnya mencapai 780 pasien, tiga penyakit terbanyak yang dikeluhkan adalah pneumonia, gangguan jantung iskemik, dan diabetes melitus.

Dari total tersebut, masih ada 104 pasien yang dirawat. Pelayanan Klinik Kesehatan Haji Indonesia mencatat tren yang tidak jauh berbeda. Pneumonia, hipertensi, hingga diabetes melitus menjadi penyebab terbanyak jemaah haji membutuhkan perawatan.

Jemaah yang melakukan rawat jalan di KKHI mencapai 1,387 orang, sementara mereka yang dirawat inap berada di kisaran 600 pasien.

"Tempat-tempat suci saat ini mencatat suhu tertinggi sejak awal haji yang mungkin mencapai 49 derajat Celcius, dan kami mengimbau para jemaah untuk tidak sering terkena terik matahari," kata Kementerian Kesehatan Saudi, menurut laporan pemerintah. saluran Al-Ekhbariya yang berafiliasi.

Tak hanya itu, baru baru ini juga beredar video viral di media sosial X yang memperlihatkan beberapa jemaah haji diduga meninggal dunia tergeletak di jalanan di Arab Saudi. Jasad tersebut diduga meninggal dunia akibat serangan panas menyusul cuaca ekstrem hingga lebih dari 50 derajat celcius yang menerjang negara tersebut di musim haji tahun ini.

"Mayat di mana-mana di jalan Mekah... 22 jamaah haji telah meninggal sejauh ini karena panas matahari. Mayat orang-orang yang baru saja meninggal disimpan di pinggir jalan di Mekah. Pemerintah Saudi dikritik karena membiarkan jenazah di pinggir jalan di bawah sinar matahari." kata salah satu akun X, @navalkant, dikutip dari The Free Press Journal.

Sebelumnya, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) pun telah mengimbau para jemaah haji untuk memulihkan dan menjaga stamina selama melakukan ibadah. 

Anggota Media Center Kementerian Agama Widi Dwinanda mengatakan, setelah menyelesaikan fase mabit di Mina dan melontar jumrah, jemaah akan melakukan tawaf Ifadhah dan Sa’i sebagai rangkaian rukun haji. 

“PPIH mengimbau agar jemaah dapat memulihkan kondisi dan stamina fisik terlebih dahulu sebelum pelaksanaan tawaf Ifadhah dan ibadah lainnya,” kata Widi dalam keterangan resmi Kemenag di Jakarta, Rabu (19/06/2024) dikutip dari Viva.co.od. 

Dia mengatakan, Masjidil Haram saat ini juga kondisinya padat jemaah dari berbagai belahan dunia yang akan tawaf Ifadhah. Sebab itu, kata dia, jemaah harus mempertimbangkan kondisi kepadatan Masjidil Haram saat akan tawaf Ifadhah. 

“Tidak perlu tergesa-gesa untuk langsung tawaf Ifadhah setelah dari Mina, dengan stamina prima fisik setelah istirahat, jemaah dapat menjalankan tawaf dan ibadah lainnya dengan aman dan lancar,” ujar Widi.  

Dia menyampaikan, tawaf Ifadhah dilaksanakan setelah bus shalawat yang akan mengantar jemaah dari hotel ke Masjidil Haram dan sebaliknya kembali beroperasi. Bus shawalat kembali beroperasi pada 14 Zulhijah atau 20 Juni 2024 mulai pukul 00.30 Waktu Arab Saudi.  

“Selama tidak ada layanan bus shawalat, jemaah dapat menjalankan salat 5 waktu di masjid sekitar hotel sembari mempersiapkan diri untuk tawaf Ifadhah dan tawaf Wada,” kata dia.  

“Bagi jemaah Nafar Tsani, sembari menunggu dijemput bus yang akan membawa ke hotelnya di Makkah dapat memanfaatkan kesempatan waktu di Mina untuk  bersyukur kepada Allah atas segala rahmat yang telah diterima, sehingga dapat menyelesaikan mabit dan melontar jumrah dengan sempurna,” tutupnya. (*)