• Rabu, 26 Juni 2024

Solar Subsidi di SPBU Bandar Sribhawono Lamtim Langka, Diduga Ada Permainan Curang Pengepul Solar

Jumat, 17 Mei 2024 - 16.23 WIB
202

Seorang jasa ojek mengambil Solar subsidi di rumah pengepul di wilayah Bandar Sribhawono, Lampung Timur. Foto: Agus/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Timur - Keberadaan solar subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) wilayah Bandar Sribhawono dan Mataram Baru sering kosong, diduga solar subsidi tersebut banyak dilarikan ke wilayah pesisir untuk kebutuhan kapal nelayan oleh tengkulak.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Ormas Laskar Merah Putih (LMP) Kecamatan Matarambaru, Lampung Timur Samsudin. Menurutnya ada seseorang yang diduga sebagai tengkulak solar bersubsidi di Kecamatan Bandar Sribhawono bermain curang menimbun dan menjualnya secara sepihak ke nelayan.

"Kami menduga ada orang sengaja bermain solar subsidi, dengan cara melakukan pembelian solar dengan menggunakan mobil dan sampai rumah solar dikuras dipindahkan kedalam jerigen," kata Samsudin. Jumat (17/5/2024).

Bahkan kata Samsudin seorang pengepul Solar berinisial UM warga Kecamatan Bandar Sribhawono memiliki tiga unit mobil truk yang digunakan untuk membeli solar ke SPBU lalu dijual kepada nelayan.

Lanjutnya, dia melihat di rumah UM banyak terdapat puluhan jerigen kosong yang digunakan untuk menampung solar, diantaranya jerigen ukuran 35 liter, dan dikirim ke wilayah Kuala Penet.

"Dengan banyaknya pengepul Solar subsidi berdampak pada kelangkaan atau sering terjadi kekosongan solar di SPBU, tentu masyarakat umum kesulitan mendapatkan solar subsidi," jelas Samsudin.

Hasil pantauan Samsudin, solar yang ada di tempat tengkulak yang sudah dikemas dalam jerigen akan diambil oleh jasa ojek dengan menggunakan sepeda motor, dan jasa ojek dimaksud mengirim ke wilayah Kuala Penet kepada pemesan.

"Dipastikan untuk keperluan nelayan, namun nelayan juga membeli sudah dengan harga non subsidi, padahal setiap hari selalu berseliweran jasa ojek dengan membawa solar bermuatan sekitar 6 jerigen setiap hari," kata Samsudin.

Sementara itu Koordinator SPBU Bandar Sribhawono Welly saat dihubungi mengaku per hari rata-rata mendapat kuota kiriman solar dari Pertamina sebanyak 8 ton dan dalam jangka waktu tidak sampai 24 jam solar subsidi habis diburu pembeli.

Menurutnya pihak SPBU Bandar Sribhawono sudah melakukan pengawasan dengan barcode terhadap pembeli solar subsidi, dengan tujuan satu mobil tidak diperbolehkan membeli solar dua kali dalam 24 jam.

"Kalau nelayan beli kesini pakai jerigen tidak kami bolehkan, tapi kalau dia beli dengan tengkulak ya sudah bukan tanggung jawab kami. Dan kami selalu mantau agar tidak terjadi kecurangan dalam membeli solar artinya sehari kami pastikan satu mobil satu kali beli," jelas Welly. (*)