• Rabu, 26 Juni 2024

Pilu Ibu, Anak Semata Wayang Ditunggu 9 Tahun Meninggal di Taiwan

Minggu, 28 April 2024 - 17.59 WIB
279

Misti, yang disanding kepala desanya, dan Babinsa Desa Labuhanratu 8. Merasa terenyuh mendengar kematian anaknya di Taiwan. Foto: Agus/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Timur - Perempuan 55 tahun, tampak duduk di sofa berwarna coklat menghadap pintu, matanya tampak sendu berkaca kaca.

Sesekali ujung hijab yang dikenakan digunakan untuk menyeka kedua matnya, raut wajah yang penuh rindu kepda anak satu satunya tampak jelas tergambar pada raut wajah sepuh itu.

"Oalah Gusti kok yo akhir cerito anak lanang ku koyo ngono, wes 9 tahun ora ketemu malah oleh kabar, Sodiq muleh selawase (Ya Allah kok ya akhir cerita hidup anak saya seperti itu, sudah 9 tahun saya rindu tidak pernah ketemu, dapat kabar anak saya meninggal dunia)," rintihan sedih itu terdengar lirih dari mulut Misti.

Misti mengaku mendapat kabar duka kematian anaknya pada Sabtu (20/4/2024) melalui sambungan telefon. Bahkan ketika diberi kabar melalui video call, perempuan 55 tahun itu hatinya merasa terenyuh, jantungnya berdegup menahan emosi yang hampir tidak terkendali.

"Pas saya lihat anak saya lewat video call saya benar-benar gak kuat, saya nangis seperti tidak percaya kalau anak saya sudah diambil selamanya, saya hampir pingsan," tangis Misti.

Dalam foto yang terlihat, Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Anwar Sidiq, yang hanya lulus pendidikan SMP itu terkulai di atas kursi jok berwarna hitam. Kepalanya mendongak ke atas, dengan mengenakan celana jens dan baju berwarna kuning bermotif kotak.

Dalam foto tersebut PMI kelahiran 1984 itu dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Keluarga belum mengetahui penyebab kematian pahlawan devisa itu, hanya mendapat kabar anaknya sakit, namun diagnosis sakitnya belum diketahui pasti.

"Sebelum meninggal, kurang dua hari padahal masih komunikasi video call dengan saya dengan bapaknya, dia bilang bulan ini (April 2024) habis kontrak. Sodiq akan pulang dan menikah dengan pacarnya yang juga di Taiwan saat ini," cerita Misti dengan nada tersengal.

Rasa rindu bercampur duka menyeruak menari dalam hati perempuan sepuh itu. Dimana selama 9 tahun tidak pernah bertemu anak satu satunya.

Seperti tidak percaya baru saja mendapat kabar langsung dari anaknya, bahwa anaknya akan menikah ketika pulang namun justru kabar berbalik anaknya akan pulang sudah berupa jenazah.

Mulut perempuan 55 tahun itu bersuara lirih, dengan nafas tersengal menhan tangis. "Kontrak yang ketiga anakku, habis di bulan April ini. Saya dan suami saya merasa gembira, bahwa Sodiq akan pulang dan menikah tapi takdir berpihak lain," tangis Misti tidak terbendung saat menceritakan anaknya.

Karena takdir berkata lain, dimana yang seharusnya di bulan April ini bisa berjumpa dengan putra semata wayangnya, dan melampiaskan rasa rindu yang ditunggu selama 1 windu lebih itu berubah duka yang menyayat hatinya, Yang ada dalam benak pasangan suami istri Tamsir (67) dan Misti (55), anaknya akan pulang namun berada dalam peti yang tertidur kaku.

"Opo ya mengko anakku muleh koyo opo, wes nang jero peti (Nanti anaku pulang kaya apa, terus didalam peti)," semakin trenyuh Misti meraba pikirannya dan berucap lirih, sambil kedua tangannya saling mencengkram kuat, menandakan emosi yang begitu kuat.

Sementara Kepala Desa Labuhan Ratu 8, Kecamatan Labuhanratu, Lampung Timur, Suwito membenarkan bahwa Anwar Sodiq (40) yang meninggal di Taiwan 10 hari lalu merupakan warganya.

Hasil komunikasi antara keluarganya dan pihak yang mengurus jenazah Sodiq. Diperkirakan jenazah tiba di Desa Labuhanratu 8, sepuluh hari lagi. Yang pasti Sodiq berangkat ke Taiwan dengan proses resmi sehingga kepengurusan dokumen tidak begitu rumit.

"Kami sebagai kepala desa turut berduka atas meninggalnya warga kami, sebagai pahlawan devisa itu. Saya sebagai kepala desa akan terus mengawal informasi proses pemulangannya," jelas Suwito. (*)