• Selasa, 28 Mei 2024

Lagi, Warga Suoh Lambar Kembali Diserang Harimau Sumatera

Jumat, 05 April 2024 - 16.35 WIB
1.7k

Petugas kepolisian menunjukkan Kadi yang baru saja selamat dari serangan harimau sumatera di Suoh Lampung Barat. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Peristiwa serangan harimau sumatera kembali terjadi di Pekon (Desa) Tugu Ratu, Kecamatan Suoh,  kali ini serangan binatang buas itu dialami Kadi, saat ia hendak memperbaiki turbin di lahan perkebunan.

Pembina Satgas Lembah Suoh dan BNS Lampung Barat, Sugeng Hari Kinaryo Adi membenarkan hal tersebut, ia mengatakan peristiwa tersebut terjadi Jumat (5/4/2024) sekitar pukul 14:00 WIB.

"Kejadian baru tadi sekitar pukul 14.00 WIB korban mau memperbaiki turbin di atas pangkalan barat naik motor, tiba-tiba ada harimau yang nerjang dan mau menerkam," kata dia kepada wartawan.

Sugeng menjelaskan, saat hendak diserang harimau korban langsung lompat dari motornya. Beruntung korban tidak terkena luka sedikit pun dari serangan harimau itu, hanya jok motornya saja yang sobek akibat cakaran raja hutan itu.

"Saat diserang dia loncat. Kemudian dia langsung nyabut golok lalu kemudian harimaunya lari, korban tidak apa-apa hanya kena jok motornya saja, itu joknya terlihat sampe robek kena cakar harimau," jelasnya.

Sementara itu, salah satu warga Pekon Tugu Ratu mengatakan, korban merupakan seorang petani kopi, ia mengatakan kejadian tersebut membuat korban mengalami trauma karena kejadian nya begitu cepat.

"Kejadian di perkebunan tepatnya di atas wilayah SD Tugu Ratu. Korban diserang harimau tapi alhamdulillah masih selamat tetapi korban jadi trauma karena memang serangan harimau ini jadi momok bagi masyarakat," jelasnya.

"Karena Sebagai petani kopi tentu hal ini menjadi kekhawatiran bagi kami, karena pada saat ini petani kopi sudah mulai panen kita panen harus sering di kebun dengan ada konflik satwa harimau ini, tentunya jadi ketakutan bagi kami," sambungnya.

Ia berharap pihak terkait benar-benar serius menangani persoalan harimau ini agar masyarakat benar-benar merasa aman saat menjalankan aktivitas tak merasakan was-was saat berkebun, terlebih jelang musim kopi.

"Karena kalau mau ke kebun tentunya kami ga berani, tapi kalo tidak ke kebun buah kopi jadi busuk, tentunya itu menjadi kerugian bagi kami saat ini upaya penangkapan oleh pihak terkait belum membuahkan hasil maksimal," ujarnya.

"Seharusnya personel kembali ditambah untuk menangkap dan mengatasi masalah. Karena upaya dari kemarin belum ada hasilnya, Itu menjadi harapan kami semua agar konflik ini cepat berakhir. Karena ini berkaitan dengan panen kopi," tandasnya. (*)