Rumah Warga di Way Dadi Kebanjiran, Diduga Dampak Pembangunan Proyek PT HKKB
Tampak lingkungan di Kelurahan Way Dadi, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung lokasi tempat proyek PT HKKB disebut sempat kebanjiran dampak dari pembangunan proyek. Foto: Sri/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar
Lampung - Sejumlah rumah warga yang berada di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan
Way Dadi, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung kebanjiran pada Sabtu (24/2/24)
kemarin.
Banjir tersebut diduga
akibat timbunan tanah proyek yang dilakukan oleh PT. Hasil Karya Kita Bersama (HKKB)
di bekas lahan hutan kota di wilayah setempat.
Marna, salah satu warga
yang rumahnya terkena banjir pada Sabtu lalu mengatakan puluhan tahun tinggal
di Way Dadi Sukarame tidak pernah mengalami banjir.
"Tapi kemarin
disini banjir setinggi lutut orang dewasa, dan baru pertama kali banjir,
kalau dulu gak banjir. Karena dulu kalau di depan situ ada pohon yang bisa
menahan banjir," ucap dia, saat ditemui Kupastuntas,co, Rabu (28/2/2024).
Marna mengaku, banjir
tersebut karena ada timbunan tanah oleh PT. HKKB, selain itu saat hujan kemarin
tembok pagar yang mengelilingi timbunan tanah itu jebol sehingga menimbulkan
banjir.
Ia berharap, meski
nantinya jadi dibangun perumahan, pihak pengembang harus memikirkan bagaimana agar
rumah warga di sekitar lokasi tidak kebanjiran.
"Tapi kalau tidak
bisa atasi banjir ini ya kita minta jangan ada pembangunan," pintanya.
Hal yang sama
disampaikan, Pemilik toko obat ‘Sami Sehat’ yang bangunannya tepat dibelakang
tembok yang jebol.
Menurutnya, pada hari
Sabtu dan Minggu di lokasi itu banjir hampir setinggi lutut orang dewasa, tak
hanya air tapi lumpur juga masuk ke dalam rumah.
"Tapi kemarin
untungnya barang-barang elektronik dan lainnya kita singkirkan ke tempat yang
aman. Sehingga tidak ada kerusakan," kata dia.
Ia juga menyampaikan,
banjir baru kali ini terjadi, karena timbunan tanah dari proyek itu jebol.
Ketika ditanya, apakah
setuju dengan akan dibangunnya perumahan dan ruko di depan tokonya itu, Ia
mengaku tidak setuju.
"Kalau saya
pribadi tidak setuju, karena wahana yang dulunya untuk tempat olah raga dan
hutan kota kini berubah," kata dia. (*)
Berita Lainnya
-
Dosen Teknik Sipil Teknokrat Dipercaya Jadi Pengawas Independen Pengelolaan SDA untuk PLTA Batutegi Berkelanjutan
Selasa, 07 April 2026 -
Perkuat Kemitraan Kamtibmas, Dirbinmas Polda Lampung dan Sudin Revitalisasi Shelter Ojol di Enggal
Selasa, 07 April 2026 -
Kasus PSMI Disorot, DPRD Lampung Minta Kejati Lindungi Nasib Petani
Selasa, 07 April 2026 -
Kasus DBD di Bandar Lampung Capai 33 Kasus, Dinkes Imbau Warga Waspada
Selasa, 07 April 2026








