107 Warga Metro Lampung Positif DBD, Dua Meninggal Dunia
Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Eko Hendro, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/12/2023). Foto: Arby/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Metro - Sepanjang Januari hingga Desember 2023 tercatat sebanyak 107 warga Kota Metro terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Dua diantaranya meninggal dunia.
Dari data yang dihimpun Kupastuntas.co, ratusan warga Kota Metro tersebut terserang penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus Betina.
Data tersebut tercatat mulai 1 Januari hingga 8 Desember 2023. Angka kasus DBD tahun 2023 lebih besar dibandingkan tahun 2022 yang hanya 88 kasus.
Kasus tertinggi terjadi pada bulan Januari dan Februari 2023, yang mana pada dua bulan tersebut tercatat 42 warga terserang DBD.
Kemudian pada bulan Maret, April dan Mei tercatat sebanyak 32 kasus. Sementara pada Juni, Juli dan Agustus sebanyak 25 kasus serta pada bulan September, Oktober dan November hanya 20 kasus.
Tak hanya itu, pada tahun 2022 tidak ditemukan korban jiwa akibat dari virus DBD. Sementara pada tahun 2023 sebanyak dua orang dinyatakan meninggal dunia akibat DBD.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Metro, Eko Hendro menjelaskan, Kota Metro merupakan wilayah endemik DBD.
"Kota Metro merupakan daerah endemik DBD, jadi setiap tahun DBD selalu ada di Kota Metro. Itu menjadi salah satu permasalahan kita yang menjadi program prioritas," kata dia saat dikonfirmasi Kupastuntas.co, Selasa (12/12/2023).
Ia menjelaskan, sebanyak dua orang telah dinyatakan meninggal dunia akibat DBD, itu diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun dan terakhir di bulan September 2023 lalu.
"Yang meninggal tahun ini datanya ada dua orang, untuk kasusnya dari awal tahun sampai tanggal 8 Desember 2023 kemarin ada 107 kasus," ungkapnya.
Menurutnya, kasus DBD di Kota Metro telah melampaui target nasional. Sehingga pihaknya terus berupaya memaksimalkan pelaksanaan program satu rumah satu jumantik (1R1J).
"Insidentil DBD kita, sudah di atas target nasional, oleh karena itu kita mempunyai suatu program yang akan kita optimalkan dan namanya program gerakan satu rumah satu Jumantik," ujarnya.
"Artinya apa, setiap rumah harus memiliki juru pemantau jentik, siapapun dia. Karena apa, satu rumah yang tidak bebas jentik akan beresiko terhadap rumah di sekitarnya dengan radius 100 meter. Dan itu sangat beresiko kalau rumah kita tidak memiliki satu jumantik," imbuhnya.
Guna menurunkan angka kasus tersebut, pihaknya juga bakal mengerakkan progam 1R1J secara merata di Kota Metro, khususnya pada musim penghujan.
"Jadi semua yang ada di kota Metro itu, setiap rumah diharapkan punya satu jumantik. Tujuannya agar dapat memastikan rumahnya bebas dari jentik, karena kalau rumahnya bebas jentik insya Allah akan menurun kasus DBD itu," paparnya.
Dirinya juga mengklaim bahwa pihaknya telah rutin menjalankan program bersih-bersih setiap pekannya. Ia menegaskan bahwa penanganan DBD bakal menjadi program prioritas tahun 2024.
"Kita setiap minggunya melakukan kegiatan Girij kok, kita punya data dan dokumennya di setiap Kecamatan rajin setiap bulannya mengadakan gerakan itu. Karena DBD itu merupakan penyakit yang mematikan kalau tidak cepat dalam penanganannya, permasalahan ini akan menjadi prioritas kami di tahun depan," sambungnya.
Ia mengimbau agar masyarakat dapat menjalankan program hidup bersih dan sehat dengan gerakan mengubur, menguras dan menutup (3M).
"Kami menghimbau kepada masyarakat yang pertama pemerintah kota metro melalui Dinas Kesehatan menghimbau masyarakat agar memiliki satu jumantik di setiap rumah. Jadi jangan mengandalkan kader kesehatan saja karena tidak mampu," terangnya.
Eko juga menilai bahwa upaya membasmi nyamuk demam berdarah dengan fogging bukan merupakan solusi utama.
"Fogging itu sebenarnya tidak efektif, karena yang efektif itu adalah gerakan 3M dan kebersihan lingkungan. Tapi kalau ada yang kena DBD pasti kita melakukan penyelidikan epidemiologi, kalau memang positif maka harus kita fogging untuk membunuh nyamuk dewasa," bebernya.
Kepala Dinkes Kota Metro tersebut juga menyebut bahwa fogging hanya dapat dilakukan jika ditemukan kasus positif DBD lebih dari satu orang.
"Kalau tidak ditemukan penularan, maka itu tidak perlu di fogging. Kalau ada penularan maka kita tetap harus kita fogging karena di situ pasti ada nyamuk dewasanya," tandasnya. (*)
Berita Lainnya
-
Metro Kota Kecil, Dinamika Politiknya Tinggi
Sabtu, 09 Mei 2026 -
Sawah Diserang Tikus, BPP Metro Barat Sebut Faktor Lingkungan Jadi Penyebab Utama
Jumat, 08 Mei 2026 -
Diserang Tikus, Puluhan Hektare Sawah di Metro Barat Terancam Gagal Panen
Jumat, 08 Mei 2026 -
Dugaan Korupsi JIT Metro Menguak, Jaksa Periksa 34 Saksi dan Sita 99 Dokumen
Jumat, 08 Mei 2026








