• Jumat, 01 Maret 2024

Gunung Anak Krakatau Sering Erupsi, Kepala Pos Pantau: Tidak Terkait Ring of Fire

Kamis, 07 Desember 2023 - 17.45 WIB
53

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lamsel, Andi Suardi saat dimintai keterangan. Kamis (7/12/2023).

Kupastuntas.co, Lampung Selatan - Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Andi Suardi mengatakan, seringnya erupsi Gunung Anak Krakatau, tidak terkait dengan ring of fire. Kamis (7/12/2023).

Ring Of Fire atau Cincin Api Pasifik, atau Lingkaran Api Pasifik, yakni pertemuan tiga lempeng tektonik dunia seperti Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik.

Andi Suardi menyebutkan, letak GAK memang berada pada ring of fire yakni rangkaian gunung berapi dan lokasi aktivitas seismik, atau gempa bumi, di sekitar tepi Samudra Pasifik.

"Kalau ada di ring of fire iya, tapi kan itu punya dapur magma masing-masing. Jadi mereka aktif di gunung masing-masing. Kebetulan saja mungkin tahun ini banyak energinya dikeluarkan (erupsi)," kata Andi Suardi.

Gunung Anak Krakatau sendiri, termasuk dari 129 gunung dengan status aktif di Indonesia bersama Gunung Marapi, Gunung Kerinci dan Gunung Merapi.

"Erupsi masih fluktuatif ya, kadang banyak kadang sedikit. Selasa (5/12/2023) kemarin, pukul 12.41 WIB ada 23 kali erupsi tingginya 2.000 meter diatas puncak. Sedangkan hari Rabu (6/12/2023) dari pukul 00.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB baru 8 kali," lanjut Andi Suardi.

Andi Suardi menyebutkan, puncak terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau yakni pada tanggal 27 November 2023 sebanyak 60 kali erupsi.

Biasanya, Gunung Anak Krakatau kerap kali mengalami erupsi setiap bulannya khususnya bulan Desember. Namun pada bulan Agustus, September dan Oktober sempat berhenti.

"Kemarin saja hampir 3 bulan tidak ada erupsi biasanya hampir setiap bulan terjadi erupsi. Tahun 2023 ini lebih sering tidak hanya di bulan Desember saja," urainya.

Meski demikian, Andi Suardi menegaskan, belum ada laporan dari masyarakat terkait dampak abu akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Pulau terdekat Pulau Sebesi juga tidak ada laporan, kebetulan angin tidak terlalu kuat jadi material utamanya lebih banyak jatuh di gunung saja," imbuhnya.

Untuk itu, Andi Suardi meminta masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir pantai untuk tetap tenang dan waspada serta beraktivitas seperti biasa.

"Jangan terpancing dengan isu-isu yang tidak bertanggungjawab," pintanya.

Hingga kini, Gunung Anak Krakatau masih berada di level 3 atau siaga dan ia menghimbau agar masyarakat mematuhi jarak aman dari Gunung Anak Krakatau.

"Himbaunya sama ya, seperti biasanya melarang wisatawan, nelayan, masyarakat mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 Kilometer dari kawah aktif," tandasnya. (*)