Dalam Rangka Hari Museum Indonesia, Museum Lampung Gelar Seminar Kajian Koleksi
Suasana Seminar Kajian Koleksi Museum yang dihelat Museum Lampung dalam rangka memperingati hari Museum Indonesia tahun 2023. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Dalam rangka memperingati
hari Museum Indonesia tahun 2023, UPTD Museum Lampung menggelar Seminar Kajian
Koleksi Museum, Kamis (19/10/2023).
Dalam kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Anshori Djausal, Ketua TACB Provinsi Lampung dengan materi Tradisi Repong, Warisan Budaya Tak Benda, Bentuk Pengelolaan Sumber daya Alam Yang Berkelanjutan.
Pameteri kedua yaitu Putrawan Jaya Ningrat, Pegiat Budaya Krui Pesisir Barat menyampaikan materi tentang Peran Serta Marga dan Masyarakat Adat Dalam Pengelolaan Repong Damar.
Ketiga I Made Giri Gunadi, anggota TACB Provinsi Lampung dengan materi tentang Koleksi Museum Lampung Dalam Budaya Repong Damar.
Sedangkan peserta yaitu berjumlah 100 orang yang berasal dari 15 guru sejarah SMA/SMK di Kabupaten Lamtim, 15 guru sejarah SMA/SMK Lamteng, 15 guru sejarah SMA/SMK Peringsewu, 15 Guru sejarah SMA/SMK Pesawaran. 8 mahasiswa Unila, 8 Mahasiswa UIN, 8 Mahasiswa PGRI, 8 Mahasiswa UM Metro, dan 8 mahasiwa UM Pringsewu.
Kepala UPTD Museum Lampung, Budi Supriyanto, S.Sos. M.Hum mengatakan bahwa Seminar Kajian Koleksi Museum dalam rangka Hari Museum Indonesia yang mengangkat tema tentang pameran "Kemilau Damar Dalam Bingkai Budaya Lampung".
Ia menjelaskan bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung selalu berupaya untuk menyebarluaskan informasi yang menyangkut kekayaan warisan budaya Lampung kepada masyarakat.
"Untuk mewujudkan hal itu maka Museum Lampung menggelar Seminar Kajian Koleksi Museum Lampung. Semoga kegiatan ini dapat memacu semangat kita dalam mengembangkan budaya di daerah Lampung dan memanfaatkannya untuk kemajuan ilmu pengetahuan," jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa repong dalam terminologi Krui adalah sebidang lahan kering yang ditumbuhi beraneka-ragam jenis tanaman produktif, umumnya tanaman tua seperti damar, duku, durian, petai, jengkol, tangkil, manggis, kandis dan beragam jenis kayu yang bernilai ekonomis serta beragam jenis tumbuhan liar yang dibiarkan hidup.
"Disebut repong damar karena pohon damar merupakan tegakan yang dominan jumlahnya pada setiap bidang repong. Repong Damar yang menghasilkan getah damar berkualitas, mempunyai tempat dan peran yang sangat banyak terhadap laju peningkatan perekonomian dan distribusi pendapatan, khususnya untuk masyarakat di wilayah Pesisir Barat," jelas Budi.
Nilai-nilai adat repong damar pewarisannya diserahkan kepada anak tertua laki-laki. Hal ini dikarenakan anak tertua laki-laki dianggap mempunyai tanggung jawab penuh untuk keluarganya.
"Penerapan tradisi repong damar dilakukan dalam pembukaan lahan harus mengikuti proses pengelolaan melalui tiga fase, yaitu fase darak, yaitu pembukaan lahan; fase kebun, yakni penanaman bibit pohon produktif (damar, duku, durian, jengkol); fase repong, yakni proses terakhir dalam pembukaan lahan yang sudah berbentuk kebun yang menyerupai hutan alami yang ditumbuhi berbagai tanaman produktif baik kayu, damar, duku, dan lain-lain. Untuk dapat di ambil getahnya, pohon damar harus ditunggu minimal sampai berusia 15 tahun," jelasnya. (**)
Berita Lainnya
-
Tenggat Akhir Wajib Halal Bulan Oktober 2024, Lampung Gelar Kampanye Halal Serentak
Selasa, 02 April 2024 -
Mahasiswa Universitas Teknokrat Jadi Pemateri Tentang Robotik di SMAN 15 Bandar Lampung
Senin, 01 April 2024 -
Pemerintah Daerah Aceh dan Petani Sambut Gembira Atas Tambahan Alokasi Pupuk Subsidi
Minggu, 31 Maret 2024 -
Tarif Listrik April-Juni 2024 Tetap, Pemerintah Perhatikan Daya Beli Masyarakat dan Dukung PLN Jaga Mutu Pelayanan
Jumat, 29 Maret 2024



