• Rabu, 19 Juni 2024

Menggugah Kesadaran Umat di Tengah Kemarau: Salat Istisqo, Harapan Hujan dan Rahmat, oleh Puji Raharjo

Minggu, 17 September 2023 - 19.04 WIB
1.1k

Kepala kanwil kemenag lampung Puji Raharjo. Foto: Dok

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Indonesia, negeri yang dikenal dengan kekayaan alamnya, kini tengah dilanda kemarau yang panjang. Tanah retak, sungai-sungai mengering, dan matahari bersinar terik. Namun, di balik kesulitan ini, ada pelajaran berharga yang dapat kita petik.

Kemarau bukan hanya soal kekeringan fisik, tetapi juga tantangan spiritual yang menguji kesabaran dan keimanan kita.

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, telah menghimbau umat Islam di Indonesia untuk melaksanakan salat Istisqo. Sebuah tradisi yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika menghadapi kemarau panjang.

Salat ini bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi dari harapan, kesadaran, dan kebersamaan umat dalam memohon pertolongan Allah.

Dalam kitab Fathul Qorib, dijelaskan tata cara dan kaifiyah pelaksanaan Salat Istisqo. Seorang imam atau penggantinya akan memimpin shalat dua rakaat.

Di rakaat pertama, setelah takbir iftitah, dilakukan tujuh takbir tambahan. Di rakaat kedua, dilakukan lima takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah. Setelah shalat, imam akan memberikan dua khutbah. 

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah dalam meminta hujan adalah :

 "اللَّهُمَّ اجْعَلْها سُقْيا رَحْمَةٍ وَلا تَجْعَلْها سُقْيا عَذَابٍ وَلا مَحقٍ وَلا بَلاءٍ، وَلا هَدْمٍ وَلا غَرَقٍ، اللَّهُمَّ عَلى الظِّرَابِ وَالآكَامِ وَمَنَابِتِ الشّجَرِ وَبُطُونِ الأودِيَةِ، اللَّهُمَّ حَوَالَيْنا وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنا غَيْثاً مغِيثاً هَنِيئاً مَرِيئاً مُرِيعاً سَحّاً عامّاً غَدَقاً طَبَقاً مُجَلَّلاً دائماً إلى يَوْمِ الدِّينِ، اللَّهُمَّ اسْقِنا الغَيْثَ وَلا تَجعَلْنا مِنَ القَانِطِينَ، اللَّهُمَ إنَّ بِالعِبادِ وَالبِلاَدِ مِنَ الجهْدِ وَالْجوعِ والضّنْكِ ما لا نَشْكُو إلاّ إلَيْكَ، اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضّرْعَ وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكاتِ السَّمَاءِ وَأنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنّا مِنَ البَلاءِ مَا لاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إنَّكَ كُنْتَ غَفَّاراً فَأَرْسِل السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَاراً."

"Ya Allah, jadikanlah hujan yang Engkau turunkan ini sebagai hujan rahmat, bukan hujan yang membawa adzab, bukan hujan yang menghilangkan berkah, bukan hujan yang membawa bencana, bukan hujan yang merobohkan, dan bukan hujan yang menenggelamkan. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas gunung-gunung, bukit-bukit, tempat tumbuhnya pohon-pohon, dan di lembah-lembah. Ya Allah, biarkan hujan turun di sekitar kami, namun jangan biarkan ia membahayakan kami. Ya Allah, berikanlah kami hujan yang memberi manfaat, yang menyegarkan, yang membawa kebaikan, yang lebat, yang merata di seluruh tempat, yang berlimpah, yang terus menerus hingga hari kiamat. Ya Allah, berikanlah kami hujan dan jangan biarkan kami menjadi orang-orang yang putus asa. Ya Allah, sesungguhnya hamba-hambaMu dan negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kekeringan yang kami keluhkan hanya kepada-Mu. Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman kami, berikanlah kami keberkahan dari langit dan bumi, dan hilangkanlah segala bencana yang hanya Engkau yang mampu menghilangkannya. Ya Allah, kami memohon ampunan kepada-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pengampun, maka turunkanlah hujan yang lebat kepada kami."

Dalam khutbahnya, imam disarankan untuk memulai dengan istighfar, memohon ampunan Allah, dan mengajak jamaah untuk bertaubat. Khutbah ini penuh dengan harapan dan kepercayaan bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya.

Imam juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya bersyukur dan memanfaatkan nikmat hujan dengan baik.

Sebagai umat yang percaya dan tawakal, marilah kita bersama-sama melaksanakan salat Istisqo dengan penuh kesadaran dan harapan.

Semoga Allah mengabulkan doa kita, memberikan hujan rahmat, dan meringankan beban semua makhluk-Nya.

Kita diajak untuk merenung, bahwa kemarau ini mungkin adalah cara Allah mengingatkan kita untuk kembali kepada-Nya. Untuk lebih sering berdoa, berzikir, dan memperbanyak amal shaleh.

Kemarau ini mungkin juga menjadi kesempatan bagi kita untuk lebih menghargai nikmat yang selama ini kita anggap biasa, seperti air.

Dengan salat Istisqo, kita diajak untuk bersatu, berdoa, dan berharap bersama. Ini adalah momentum bagi kita untuk mempererat tali silaturahmi, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Semoga di tengah kemarau ini, hati kita tetap basah dengan iman, harapan, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita selalu diberikan kesabaran, kekuatan, dan keberkahan dalam menghadapi setiap cobaan yang datang.

Dan semoga hujan rahmat segera turun, menyirami bumi kita, dan mengisi hati kita dengan kebahagiaan dan syukur. (*)