• Kamis, 23 Mei 2024

Dinas Perikanan Pringsewu Diduga Tidak Transparan Soal Bonus Uang Hadiah Juara Nasional Lomba Masak Serba Ikan

Rabu, 13 September 2023 - 16.30 WIB
362

Dwi Roliati dan Siti Rohmalina saat mengikuti Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional XVIII, di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada bulan November 2022 lalu. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Pringsewu - Keberhasilan Kabupaten Pringsewu meraih Juara Umum Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional XVIII, di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada bulan November 2022 lalu, masih menyisakan persoalan.

Pasalnya, jerih payah peserta lomba yang membanggakan Pringsewu dan Provinsi Lampung di tingkat Nasional  kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Dan bahkan nominal bonus yang mereka terima tidak sebanding dengan apa yang telah mereka perjuangkan.

Menurut Dwi Roliati, tanggal 16 November 2022, dia bersama rekannya Siti Rohmalina berangkat ke Sulawesi mewakili Provinsi Lampung untuk mengikuti lomba masak serba ikan dalam rangka Hari Ikan Nasional (Harkanas) ke-9 tahun 2022 di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Saat itu, Dwi merasa berat untuk berangkat ke Sulawesi karena harus meninggalkan anaknya yang masih sekolah ditambah lagi pada waktu itu suaminya sedang sakit.

"Pertimbangan lainnya jika saya berangkat dari mana biaya untuk kebutuhan keluarga sehari-hari karena usaha pengolahan ikan dan kripik yang  saya tekuni otomatis tutup selama 7 hari," katanya

Sebelum memutuskan untuk berangkat ke Sulawesi, ibu dari 4 anak ini sempat curhat dengan bu Debi (Kadis Perikanan Pringsewu) terkait perihal kondisi keluarganya. "Saat itu bu Debi sempat nanya saya 'butuh berapa’, tapi tidak saya jawab," imbuhnya.

Mendengar pernyataan Kadis Perikanan diatas, akhirnya Dwi Roliati memutuskan untuk berangkat. Dan sebelum berangkat Kadis Perikanan memberikan uang Rp700 ribu kemudian setelah pulang dari Sulawesi ditransfer lagi Rp800 ribu

Menurut Dwi, saat mengikuti lomba di Sulawesi banyak tantangan yang dihadapi seperti saat mengolah bahan baku sempat gagal dua kali lantaran bahan baku (udang dan sagu) bermasalah.

"Udang disana terlalu banyak mengandung kadar air kemudian kualitas sagunya kurang bagus sehingga tidak mau menyatu padahal sebelumnya beberapa kali kami coba di Pringsewu berhasil," terangnya.

Menghadapi situasi tersebut Dwi mengaku sempat stres dan untungnya saat itu mereka mendapat motivasi dari chef profesional.

Beban terberat  yang mereka hadapi ialah saat mengikuti lomba kategori menu keluarga yang dilaksanakan secara live. Dalam lomba ini harus siap menjawab berbagai pertanyaan dari 7 dewan juri.

"Saya sempat nangis menghapal materi yang begitu sulit. Untungnya perjuangan kami bisa membuahkan hasil," tukasnya.

Menurut dia, ada tiga kategori yang berhasil mereka menangkan diantaranya Juara I kategori Menu keluarga, Juara I kategori Menu Kudapan, serta Juara Harapan I untuk kategori Menu Balita.

Keberhasilan diatas sekaligus mengantarkan Provinsi Lampung meraih juara Umum.

Namun sangat disayangkan perjuangan mereka sepertinya tidak ada artinya bagi Pemerintah. "Tidak ada reward dari Pemprov Lampung dan Pemkab Pringsewu dan sampai saat ini sertifikat juara juga belum kami  terima," jelasnya.

Begitu juga dengan bonus hadiah yang dinilai tidak transparan. "Hadiah juara umum totalnya Rp56 juta, saya dikasih bonus Rp5 juta, bu Siti Rp5 juta dan kalau saya tidak salah chef dikasih Rp5 juta," ungkapnya.

Dwi berharap ada penjelasan dari dinas terkait tentang uang hadiah dari hasil lomba waktu itu. "Jika memang sebagian uang itu digunakan untuk pembinaan TP PKK tidak kami persoalkan tapi setidaknya ada kejelasan," imbuhnya.

"Setahu saya semua biaya selama mengikuti lomba di Sulawesi ditanggung oleh pemerintah," tambahnya lagi.

Menurutnya sebelum mengikuti lomba di Sulawesi, mereka mengikuti lomba tingkat Provinsi Lampung dan berhasil menyabet juara I. "Kami berdua diberi hadiah satu Freezer, itu pun tadinya mau diberikan ke PKK Kabupaten Pringsewu," tukasnya.

Terpisah Fahmi putra dari Siti Rohmalina mengatakan waktu itu ibunya mengikuti lomba di Sulawesi selama satu Minggu.

"Urusan bonus saya tidak begitu paham, tapi saat ibu menerima bonus waktu itu saya mendampingi beliau ya nilainya Rp 5 juta," singkat Fahmi.

Kepala Dinas Perikanan Pringsewu Debi Hardian belum bisa dikonfirmasi, saat ditemui di kantor Dinas Perikanan setempat Rabu (13/9/23) pagi yang bersangkutan tidak berada ditempat begitu juga saat dihubungi via seluler tidak ada respon. (*)