• Jumat, 24 Mei 2024

Film Invisible Hopes Menguak Potret Kelam Ibu yang Melahirkan Anak di Penjara, Mengajak Kita Semua Peduli

Selasa, 12 September 2023 - 20.04 WIB
107

Nobar Film Invisible Hopes di Bioskop CGV Transmart Bandar Lampung, Selasa (12/9/23). Foto: Okta/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung ajak masyarakat dan lembaga terkait lebih peduli dan perjuangkan hak anak yang lahir di jeruji penjara. Hal itu diungkapkan dalam acara nonton bareng (nobar) film berjudul Invisible Hopes yang mengungkapkan kehidupan seorang ibu dan anak yang terlahir di dalam penjara, di Bioskop CGV Transmart Bandar Lampung, Selasa (12/9/2023) sore.

Ketua panitia nobar, Selly Fitriani mengatakan film ini dibuat untuk mengungkapkan ke masyarakat tentang kisah kehidupan narapidana perempuan yang hamil dan melahirkan anak dibalik jeruji besi penjara.

Film ini juga menunjukkan para narapidana yang mengalami penderitaan selama menjalani masa kehamilannya.

"Kondisi sel yang kurang layak, asupan gizi yang kurang, akses kesehatan yang terbatas ditambah stress menjalani proses hukum dan masa hukuman," Kata Selly.

Lebih lanjut jelasnya, sebagian besar para perempuan hamil tersebut tidak mendapatkan materi dan moril dari keluarga di luar penjara.

"Mereka harus berjuang sendiri di dalam penjara. Tidak ada bantuan khusus yang mereka terima dari rutan maupun lapas," Katanya.

Dimaksudkan dengan adanya film ini, agar masyarakat umum dan berbagai pihak terkait mengetahui kondisi para ibu dan anak dibalik jeruji besi.

Selain itu dengan adanya film Invisible Hopes ia berharap dapat meningkatkan kepedulian dan mendorong untuk melakukan sesuatu bagi pemenuhan hak para perempuan hamil terutama hak anak-anak yang terlahir dan hidup di balik jeruji penjara.

"Semoga kita lebih peduli terhadap pemenuhan hak anak dan perempuan disana, " Ungkapnya.

Sutradara dan produser film Invisible Hopes, Lamtiar Simorangkir mengungkapkan baru mengetahui tentang kehidupan ibu dan anak yang terlahir dipenjara sekitar tahun 2017.

"2017 saya baru mengetahui ternyata ada dan banyak anak-anak yang harus lahir dan dibesarkan dibalik jeruji penjara," Ungkapnya.

"Oleh karena itu kami merasa bahwa ini perlu diangkat, masyarakat perlu tau, negara perlu diingatkan lagi bahwa anak-anak ini harus kita lindungi, dipenuhi HAMnya dan kami melakukan ini melalui film ini," Sambungnya.

Ia berharap dengan dibikinnya film ini dapat membawa harapan yang lebih baik di Indonesia.

"Kami membuat film ini bagaiamana kita bisa bersama mencari solusi yang lebih baik bagi pemenuhan hak anak-anak yang lahir dan dibesarkan dalam penjara," Tuturnya.

Selanjutnya ia mengatakan bahwasanya Lampung merupakan provinsi ke-17 di Indonesia dalam penayangan film invisible hopes ini.

"Ini adalah provinsi ke-17 di Indonesia, kami ingin mendorong untuk bersama-sama berkomitmen melakukan langkah konkrit juga memberikan rekomendasi apa yang bisa kita lakukan bersama bagi anak-anak ini," Kata Tiar.

Selain nobar, dilakukan juga diskusi dari berbagai pihak yang hadir dalam nobar ini dengan maksud menghasilkan rekomendasi untuk pemerintah terkait pemenuhan hak anak yang terlahir di penjara.

Perwakilan dari Akademisi, Yulianti menyampaikan pendapatnya untuk kedepan mereka (anak-anak tersebut) dikembalikan ke keluarganya, anak-anak tersebut berhak dapat makanan yang sehat.

"Pemerintah yang bertanggungjawab di penjara bisa manusiawi, bisa mengambil langkah ada semacam pengklasteran untuk anak-anak karna merekakan tidak bersalah dan tidak tau apa-apa," Ungkapnya.

Kemudian dari Kepala dinas PPA Provinsi Lampung, Maryamah merekomendasikan perlu adanya diskusi bersama (duduk bareng) secara kolektif antara seluruh dinas yang mempunyai tanggung jawab terhadap perempuan.

"Saya berharap ini menjadi tanggung jawab bersama. Ini perlu dianggarkan bersama. Seluruh pengusaha seluruh Indonesia juga perlu turun tangan," Ucapnya.

"Kita juga perlu bersama-sama melakukan pemetaan, lalu pembagian peran, oleh karna itu kita perlu duduk bersama untuk diskusi sesuai dengan yang perlu diberlakukan oleh lapas tersebut," Sambungnya.

Ketua Gerakan mahasiswa Kota Bandar Lampung (Gemkai), Luki Simbolon menyampaikan bahwa anak-anak yang lahir di penjara tersebut baiknya langsung dikeluarkan dari penjara dan mendapatkan hak kehidupan diluar.

"Selain mereka kekurangan gizi,  anak-anak yang dibesarkan di lingkungan di sel penjara akan mudah merekam kehidupan di sana dan itu tidak baik untuk tumbuh kembangnya," Ungkapnya.

Sebelumnya film invisible hopes ini telah memenangkan Piala Citra pada festival film Indonesia dan piala maya untuk kategori film dokumenter panjang terbaik dan kategori penyutradaraan terpanjang perdana pada tahun 2022. (*)