• Senin, 22 April 2024

Sejumlah Fakta Dibalik Tewasnya Pasutri Asal Lampung Korban Dukun Berkedok Pengganda Uang

Sabtu, 08 April 2023 - 10.31 WIB
246

Slamet Tohari alias Mbah Slamet, dukun palsu berkedok penggandaan uang saat digiring polisi menuju tempat Ia mengubur para korbannya. Foto: Kompas

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Empat dari 12 korban pembunuhan sadis yang dilakukan dukun palsu berkedok penggandaan uang, Slamet Tohari alias Mbah Slamet di Banjarnegara, Jawa Tengah merupakan warga Kabupaten Pesawaran, Lampung. Korban merupakan 2 pasangan suami istri (Pasutri) yang tergoda untuk menggandakan uang.

Polisi mengungkap sejumlah fakta di balik hilangnya kedua pasutri tersebut hingga akhirnya ditemukan menjadi korban kebengisan Mbah Slamet. Berikut detikSumut rangkum fakta-faktanya.

1. Diajak Seseorang

Awalnya korban bernama Irsad dan Suheri dikenalkan kepada Mbah Slamet oleh seseorang bernama Kijo, warga Lampung Tengah.

Hal itu disampaikan Kapolres Pesawaran, AKBP Pratomo Widodo, Kamis (6/4/2023). Pratomo menjelaskan, korban atas nama Irsad dan Suheri merupakan sahabat. Keduanya diperkenalkan dengan Mbah Slamet yang dikatakan bisa menggandakan uang oleh Kijo.

"Dari hasil keterangan dua pihak keluarga korban ini, mereka dikenalkan dengan Mbah Slamet dari Kijo, warga Lampung Tengah di pertengahan tahun 2021. Kemudian mereka diajak ke Padepokan Mbah Slamet di Tulungagung, Jawa Tengah," kata dia, Kamis (6/4/2023).

2. 2 Kali Temui Mbah Slamet

Keduanya, Irsad dan Suheri, yang merupakan sahabat berangkat ke Padepokan Mbah Slamet pada pertengahan tahun 2021. Usai bertemu Mbah Slamet di Banjarnegara, Irsad dan Suheri kemudian pulang ke Lampung. Lalu Pada Agustus 2011 keduanya kembali ke tempat Mbah Slamet dengan membawa istri masing-masing yakni Wahyu Triningsih istri Irsad dan Riani istri Suheri.

"Agustus 2021, mereka (para korban) berangkat kembali ke Padepokan Mbah Slamet dengan membawa masing-masing istrinya untuk melakukan penggandaan uang," terangnya.

3. Keluarga Kehilangan Kontak

Usai berangkat pada Agustus 2021, pihak keluarga mengaku kehilangan kontak dengan keduanya. Terakhir korban berkomunikasi dengan keluarga pada September 2021 dan mengatakan akan segera pulang.

"Dari keterangan pihak keluarga juga, para korban ini sempat menghubungi di bulan September 2021 bahwa mereka akan pulang ke Lampung. Suheri dan Riani menghubungi keluarga di tanggal 8 September 2021 sementara Irsad dan Wahyu Triningsih menghubungi keluarga ditanggal 12 September 2021," ujar Kapolres.

Usai kontak terakhir itu, para korban tidak lagi menghubungi pihak keluarga hingga pihak keluarga mengetahui dari media mereka menjadi korban pembunuhan Mbah Slamet.

4. Tidak Mengaku ke Dukun kepada Keluarga

Sebelum berangkat ke padepokan, kedua pasutri tersebut tidak mengaku berangkat ke Jawa Tengah untuk bertemu dukun Mbah Slamet untuk menggandakan uang.

Irsad kepada keluarga mengaku ditawari pekerjaan sebagai pengajar sulam tapis yang dibayar perjam. Sedangkan Suheri kepada anaknya mengaku mendapat pekerjaan proyek renovasi rumah.

Abang kandung Irsyad, Helmi kepada wartawan, Rabu (5/4/2023) mengatakan Irsad sudah setahun berangkat ke Jawa, katanya ada yang menawarkan pekerjaan sebagai guru sulam tapis.

"Mereka sudah setahun lalu meninggalkan rumah, bilangnya ada yang nawarin kerjaan," kata Helmi.

Sementara korban Suheri dan Riani kepada keluarganya mengaku berangkat ke Jawa untuk proyek pembangunan.

"Ayah waktu itu pamitannya mau ada proyek di sana, ayah kan pemborong. Bilangnya proyek bangun rumah di Padepokan," kata anak Suheri, Rani, Kamis (6/4/2023).

5. Mbah Slamet Ngaku Uang Hasil Ritual Dirampok

Polisi juga mengungkap dukun pengganda uang Slamet Tohari alias Mbah Slamet menipu para korbannya termasuk 2 pasutri asal Lampung dengan mengklaim ritual penggandaan uang berhasil namun uang tersebut dirampok.

"Dalam kronologi peristiwa sebelum 4 korban yakni Irsad dan Wahyu Triningsih serta Suheri dan Riani dibunuh. Pelaku ini mengklaim bahwa ritualnya berhasil, namun uang tersebut dirampok. Kabar itu disampaikan oleh korban Suheri kepada korban Irsad, itu terjadi di bulan April 2021," kata Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, Jumat (7/4/2023).

6. Gadai Mobil untuk Penggandaan Uang

Pasangan Suheri dan Riani pun sampai rela menggadaikan mobil mereka untuk bertemu dengan Mbah Slamet. Uang hasil penggadaian mobil itu lalu dibawa ke padepokan untuk digandakan.

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad mengatakan penggadaian mobil itu terjadi di tanggal 25 Juli 2021.

"Korban Suheri ini menggadaikan mobil ditanggal 25 Juli 2021. Mobil itu digadaikan dengan harga Rp. 15 Juta, uang itu kemudian dibawanya ke Padepokan di Tulung Agung, Jawa Tengah untuk bertemu dengan Slamet Tohari alias Mbah Slamet," katanya.

Kemudian, Suheri bersama istrinya Riani berpamitan kepada putri sulungnya untuk berangkat ke Padepokan dengan berdalih ada pekerjaan proyek pembangunan rumah milik Mbah Slamet.

"Pasangan Suami Istri ini kemudian berangkat ke Padepokan setelah berpamitan dengan anaknya. Suheri mengatakan kepada sang anak ada pekerjaan proyek bangun rumah di Padepokan Mbah Slamet," ujar Pandra.

7. Keluarga Berangkat ke Banjarnegara

Keluarga kedua pasutri korban pembunuhan oleh dukun palsu pengganda uang, Mbah Slamet itu pun bertolak ke Polres Banjarnegara untuk melakukan tes DNA. Keberangkatan keluarga didampingi oleh personel Polres Pesawaran.

Kombes Zahwani Pandra Arsyad mengatakan Polda Lampung melalui Polres Pesawaran akan mendampingi keluarga para korban pembunuhan Mbah Slamet.

"Rencananya, para keluarga yang berangkat ini untuk melaksanakan tesDNA guna kecocokan data ante mortem pada TimDVIDokpolBiddokkes Polda Jateng guna mencocokkan dengan jenazah," terangPandra, Kamis (6/4/2023). (Detik)