• Senin, 22 April 2024

Angka Stunting di Pringsewu 2022 Turun Jadi 16,2 Persen

Kamis, 26 Januari 2023 - 15.46 WIB
207

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pringsewu, Rahmadi, saat dimintai keterangan, Kamis (26/01/2023). Foto: Yudha/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Pringsewu - Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pringsewu, Rahmadi menyampaikan, angka stunting di Kabupaten Pringsewu di angka 16,2 persen tahun 2022, jumlah ini turun 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya 2021 yaitu sebanyak 19,2 persen.

Ia menjelaskan, pihaknya melakukan pencegahan stunting dimulai dari Ibu Hamil, menyusui, anak-anak, remaja, atau bisa disebut dengan 8000 HPK. Hal itu sesuai dengan Keputusan Presiden (Kepres) nomor 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting.

"Di Kabupaten Pringsewu, kita telah membentuk tim penanganan stunting sampai ketingkat Pekon (Desa), yang  di bantu oleh pihak perangkat Pekon, Bidan Desa yang siap melakukan pelayanan pencegahan stunting tersebut," ujar Rahmadi, saat dikonfirmasi, Kamis (26/01/2023).

Di rumah Sakit juga, Rahmadi mengklaim telah memiliki klinik anti stunting, hal itu dapat dipergunakan oleh warga masyarakat Pringsewu. Apabila di tingkat Pekon belum dapat ditangani secara maksimal penangulangan pencegahan stunting tersebut, dapat dirujuk ke rumah sakit.

"Kemudian ada beberapa upaya kita di Posyandu, di TK, PAUD untuk mencegah stunting tersebut. Dengan dibantu beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada, karena penanganan stunting ini tidak bisa hanya Dinas Kesehatan saja," terangnya.

Ada intervensi spesifik juga intervensi sensitif. Intervensi spesifik banyak dilakukan oleh Dinas Kesehatan seperti pemberitaan makanan tambahan, tablet tambah darah, dan intervensj sensitif dilakukan oleh OPD lain.

"Kami menghimbau kepada warga masyarakat, khususnya Ibu hami untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kehamilan minimal 6 kali selama kehamilan. Nanti juga anak-anak remaja kita berikan tablet tambah darah, begitupun upaya lain," ujarnya.

Ia juga mengatakan, pihaknya kedepan akan berupaya untuk bekerjasama dengan pihak luar, baik itu pemerhati kesehatan, ataupun Perbankan, yang dapat memberikan bantuan-bantuan dan dapat disalurkan kepada masyarakat.

Ditambahkan Nova, angka stunting di Pringsewu juga mengalami kenaikan dan penurunan sejak tahun 2019.

"Berdasarkan data SSGI atau Survei status gizi indonesia (penelitian menggunakan  metode sampel) yang dilakukan oleh Litbang Kemenkes atau sekarang namanya BKPK. Pada tahun 2019 stunting di angka 17 persen, di tahun 2020 tetap ada SSGBI tetapi tidak dilakukan pengukuran karena pamdemi. Lalu di tahun 2021 stunting diangka 19 persen, dan di tahun 2022 sebedar 16,2 persen," ungkap Nova.

Nova menambahkan, data stunting yang dikeluarkan oleh SSGI adalah data yang diakui oleh Kemenkes. Meskipun, pengambilan data hanya menggunakan sample saja.

"Jadi datanya hanya presentaese yang dikeluarkan oleh SSGI, hal itu karena metode penelitianya hanya pengambilan sample saja disuatu daerah, tidak ada jumlah jiwa by name by address. Dan pengambilan samplenya hanya di bulan Februari dan Agustus," jelasnya.

Sedangkan berdasarkan data yang tertera dalam aplikasi Kemenkes, data by name by addres tahun 2020 angka stunting di Pringsewu itu sebanyak 7,57 persen atau 2145 balita. Lalu di tahun 2021 sebesar 6,54 persen atau sebanyak 1845 balita, dan di tahun 2022 sebanyak 5,5 persen atau 640 balita. (*)


Video KUPAS TV : Puluhan Tahun, Ratusan Keluarga di Lambar Harapkan Penerangan Listrik PLN