• Minggu, 05 Februari 2023

Harga Beras di Lampung Terus Meroket, Bulog Salurkan 10 Ribu Ton Beras ke Pasar

Jumat, 20 Januari 2023 - 08.09 WIB
207

Budi (55), seorang pedagang beras di Pasar Tugu saat melayani pelanggannya. Foto: Dok Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Harga beras di Provinsi Lampung terus meroket. Kenaikan beras mencapai hingga Rp3 ribu per kilogram. Bulog Lampung akan menyalurkan 10 ribu ton beras ke pasaran untuk menekan harga.

Di Pasar Tugu Bandar Lampung, harga beras mulai naik sejak bulan Oktober 2022 lalu. Hingga kini kenaikan harga terus berlanjut. Budi (55), seorang pedagang beras di Pasar Tugu mengatakan, harga beras terus naik sejak bulan Oktober 2022 lalu.

"Harga beras medium sebelumnya Rp8.500 per kilogram kini naik menjadi Rp11.500 per kilogram atau naik Rp3.000 per kilogram. Harga beras premium dari Rp12.000 per kilogram naik jadi Rp12.500 per kilogram," kata Budi, Kamis (19/1/23).

Budi mengatakan, kenaikan harga beras berdampak banyak masyarakat yang mengurangi jumlah beras yang dibeli. "Kalau misal sebelum naik belinya 5 kilogram, maka sekarang dikurangi jadi 3 kilogram. Kalau stok cukup, tapi memang dari distributornya sudah naik jadi kami mengikuti," ungkapnya.

Suryati (41), pedagang sembako di Pasar Perumnas Way Halim, Bandar Lampung mengungkapkan, kenaikan harga beras terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

"Naiknya sudah beberapa bulan terakhir. Untuk harga beras medium sebelumnya Rp8.500 per kilogram sekarang jadi Rp10.000 sampai Rp11.000. Beras premium dari Rp10.000 sekarang jadi Rp12.000 sampai Rp13.000 per kilogram," jelasnya.

Rosi, seorang ibu rumah tangga di Bandar Lampung mengatakan, dulu harga harga beras merek SB satu kantong isi 10 kilogram hanya Rp103 ribu. Sekarang sudah naik menjadi Rp120 ribu per kantong. “Naiknya sampai Rp17 ribu per kantong,” katanya.

Kenaikan harga beras juga terjadi di Kabupaten Pringsewu dan Kota Metro. Susi, warga Sukoharjo mengatakan, harga beras naik berkisar Rp1.500-Rp3.000 per kilogram. “Saya beli beras di Pasar Sukoharjo sudah naik sekitar Rp1.500-Rp3.000 per kilogram. Jika biasanya harga beras Rp10.000 kini menjadi Rp11.500 sampai Rp13.000 per kilogram,” kata Susi.

Cici, warga Kota Metro menuturkan, saat ini harga beras premium dan medium naik Rp1.000 per kilogram. Awalnya harga beras premium Rp11.000 kini naik jadi Rp12.000 per kilogram. Harga beras medium dari Rp14.000 naik jadi Rp15.000 per kilogram,” kata Cici.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung, Elvira Umihani menjelaskan, akan segera menggelar rapat koordinasi bersama dengan satgas pangan Polda Lampung untuk mencari penyebab harga beras terus naik.

"Kami akan koordinasi dengan satgas pangan Polda Lampung untuk mengetahui lebih jauh kemana saja beras dan gabah Lampung keluar. Kalau perda larangan gabah keluar daerah memang ada. tapi dalam perda tersebut tidak ada sanksi pidana. Sehingga kurang kuat kalau aparat penegak hukum untuk menegakkan perda tersebut," katanya.

Elvira mengatakan, sebenarnya tidak masalah jika beras dari Lampung keluar daerah. Karena Lampung menjadi salah satu daerah lumbung pangan nasional, dan ikut mendukung ketahanan pangan nasional.

"Namun yang kita khawatirkan beras dari Lampung keluar Indonesia dalam bentuk ilegal. Atau mungkin ada pihak yang mencoba mencari keuntungan pribadi dengan menahan beras di gudang dan dikeluarkan saat lebaran nanti," tegasnya.

Elvira mengungkapkan, Perum Bulog Regional Lampung telah menggelontorkan beras ke beberapa mitra atau Rumah Pangan Kita (RPK) dengan harga rendah ke pasaran untuk mengendalikan harga. Namun, hal tersebut belum banyak berpengaruh terhadap penurunan harga.

"Kami sudah minta Bulog agar dapat menambah volume. Mungkin akan lebih efektif jika yang menerima langsung rumah tangga daripada disalurkan kepada mitra," ujarnya.

Perum Bulog Divisi Regional Lampung menyiapkan 10 ribu ton beras yang akan disalurkan kepada pedagang pengecer, distributor, agen, dan mitra melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Kepala Perum Bulog Divisi Regional Lampung, Etik Yulianti menjelaskan, langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memastikan harga serta pasokan pangan khususnya beras di tingkat konsumen tetap terjaga.

"Ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga beras di tingkat konsumen, agar daya beli masyarakat terjaga. Selain itu untuk mengendalikan inflasi,” kata Etik, Kamis (19/1).

Ia mengatakan, sebanyak 10 ribu ton beras yang sudah disiapkan tersebut akan dijual dengan harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp9.450 per kilogram.

"Beras yang kami siapkan sebanyak 10 ribu ton akan dijual dengan HET Rp9.450 per kilogram. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan penyaluran sampai panen raya nanti," jelasnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat tidak perlu khawatir karena pihaknya akan tetap menjaga stok beras dengan harga terjangkau, meskipun di pasaran ada kenaikan harga.

"Kenaikan harga terjadi karena belum musim panen raya, jadi ketersediaan barang di pasar tidak banyak sehingga ada sedikit kenaikan harga. Itu sebabnya operasi pasar berlangsung intensif," imbuhnya.

Ia menerangkan, untuk distribusi beras impor, Bulog Lampung masih menunggu arahan dari kantor pusat. "Untuk beras impor sendiri kami masih menunggu arahan atau izin untuk penyaluran atau distribusinya," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung mencatat produksi beras di Lampung tahun 2022 mengalami surplus 1.343.215 ton.

Plt Kepala Dinas KPTPH Provinsi Lampung, Kusnardi, mengatakan total ketersediaan beras di Lampung tahun 2022 sebanyak 2.195.123 ton. Sementara untuk kebutuhan rumah tangga sebanyak 764.366 ton, dan kebutuhan luar rumah tangga 87.543 ton. Sehingga mengalami surplus sebanyak 1.343.215 ton.

Kusnardi mengungkapkan, Provinsi Lampung sampai kini masih memasok kebutuhan beras untuk Provinsi Aceh, Bangka Belitung, Jakarta, Banten, Pulau Kalimantan, hingga Sulawesi.

"Pengiriman beras masih terus dilakukan hampir ke semua provinsi. Hampir ke seluruh pulau Sumatera. Kemudian ke pulau Jawa seperti ke Jakarta, dan Banten. Lalu ke pulau Kalimantan dan Sulawesi," kata Kusnardi, Kamis (5/1).

Luas lahan tanam padi tahun 2022 di Lampung mencapai 616.474 hektar mengalami penurunan 6,93 persen dibandingkan tahun 2021 seluas 662.391 hektar. Untuk luas panen tahun 2022 mencapai 515.938 hektar meningkat 5,39 persen dibandingkan tahun 2021 seluas 489.573 hektar.

“Luasan lahan tanam padi mengalami penurunan karena banyak lahan sawah yang kini dijadikan lokasi pemukiman warga. Cetak sawah baru sedang diupayakan di Kabupaten Lampung Timur karena di sana sudah ada Bendungan Margatiga. Sehingga banyak irigasi baru yang bisa digunakan untuk mengairi sawah,” ujarnya.

Menurut Kusnardi, produksi beras di Lampung sudah masuk dalam kategori maksimal. Karena jumlah produksi padi terus mengalami peningkatan per hektar setiap tahunnya. Sejumlah petani sudah menerapkan tanam padi tiga kali dalam satu tahun, sehingga mendongkrak produksi beras. (*)

Berita ini telah terbit di SKH Kupas Tuntas edisi Jumat 20 Januari 2023 dengan judul “Harga Beras di Lampung Terus Meroket”