• Minggu, 29 Januari 2023

Sering Ditipu, Kisah Tunanetra di Bandar Lampung Jual Kerupuk untuk Bertahan Hidup

Minggu, 27 November 2022 - 15.18 WIB
688

Darman saat berjualan kerupuk di halaman masjid Jami Nurul Huda yang terletak di Jalan Ratu Dibalau, Tanjung Senang, Bandar Lampung, Minggu (27/11/2022) Foto: Ria/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Darman (42) merupakan kepala keluarga yang gigih memperjuangkan hidup keluarga kecilnya. Ia tinggal di sebuah kontrakan yang berada di Kelurahan Kota Sepang, Bandar Lampung. 

Ditengah keterbatasan karena tidak bisa melihat, ayah dua orang anak ini tetap giat keliling Kota Bandar Lampung untuk menjalankan kerupuk. Ia menembus cuaca kota yang sering tak menentu.

Saat ditemui kupastuntas.co ketika tengah terduduk di halaman Masjid Jami Nurul Huda yang terletak di Jalan Ratu Dibalau, ia bercerita kerap kali tipu oleh pembeli hingga mengalami kerugian.

"Saya sering ditipu sama pembeli, kadang ambil tiga bayar cuma satu. Atau kadang juga bayar nya pakai uang palsu. Ketika sampai di rumah istri yang kasih tahu kalau uang nya palsu," kata Darman saat dimintai keterangan, Minggu (27/11/2022).

Setiap hari, ia pergi meninggalkan rumah sekitar pukul 09.30 WIB dan kembali ke rumah pukul 17.00 WIB. Ia keliling dengan memikul kurang lebih 20 bungkus kerupuk dengan berbagai varian seperti kemplang, kerupuk uyel, makaroni hingga peyek kacang.

Setiap orang yang ingin membeli dipersilahkan untuk memilih sendiri. Kemudian ia akan memberikan gunting kecil berwarna hitam yang bisa digunakan untuk memotong tali rafia yang mengikat kerupuk ke pikulan.

Ia mengaku, keterbatasan fisiknya lah yang membuat ia tidak bisa melihat jumlah uang yang berikan oleh pembeli. Darman hanya bisa mengandalkan kejujuran dari pembeli.

"Mungkin ini yang bikin saya sering di tipu, setiap orang yang beli sama cuma kasih gunting terus dia bayar. Yan tapi banyak juga kok pembeli yang jujur kadang kasih uang lebih," ujarnya.

Berangkat dari pengalaman sering ditipu orang, ia memiliki cara tersendiri untuk dapat membedakan uang yang ia peroleh. Baik uang pemasukan maupun kembalian untuk pembeli. 

"Jadi saya ukur dulu uang nya, uang Rp20.000 dengan Rp50.000 pasti panjang nya beda. Tapi kadang yang beli langsung bilang uangnya berapa terus kembalian nya berapa. Disitu saya mengandalkan kejujuran pembeli," ceritanya.

Pria asli kelahiran Lampung ini bercerita, kerupuk yang ia jual diambil dari salah seorang tetangga yang berjualan dipasar. Satu kantong plastik ia ambil dengan harga Rp3.500 dan dijual kembali dengan harga Rp5.000 per bungkus.

"Semua varian kerupuk harga nya sama Rp5.000. Kadang kalau rezeki nya bagus ya habis, tapi sering juga gak habis. Paling pulang cuma bawa berapa puluh ribu," ucapnya.

Darman mengungkapkan, uang yang diperoleh dari bejualan kerupuk setiap hari dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagian juga ia tabung untuk membiayai anaknya yang ingin masuk ke perguruan tinggi.

"Anak pertama saya sekarang kelas tiga di SMK 1 Bandar Lampung. Katanya nanti pengen kuliah jadi saya mulai nabung dari sekarang. Semoga saja nanti bisa membiayai. Istri dirumah juga cuma bantu tetangga nyetrika dan nyuci," pungkas Darman. (*)