• Selasa, 29 November 2022

Hidup Sebatang Kara, Mbak Cokro Andalkan Sampah Plastik untuk Bertahan Hidup

Senin, 26 September 2022 - 17.25 WIB
58

Mbak Cokro saat ditemui di sekitaran Tugu Payan Mas Kotabumi, Lampung Utara, Senin (26/9/2022). Foto: Yudha/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Utara - Di setiap pagi dan sore hari, sesosok Lansia bernama mbah Cokro mengayuh sepeda berkeliling Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara mencari sampah plastik yang dianggap tidak berguna bagi orang lain, tetapi sangat berharga baginya.

Sampah-sampah tersebut ia kumpulkan dari setiap jalan yang ia lalui di sepanjang Kotabumi. Ia berkeliling melewati Kecamatan Kotabumi Selatan, Kotabumi Kotabumi Kota dengan jarak tempuh yang cukup jauh dari rumahnya di Kelurahan Rejosari, demi mencari rongsokan sebagai sumber penghasilanya.

Sembari duduk santai di supermarket sekitaran Tugu Payan Mas Kotabumi, ia menceritakan kisah perjalanan hidupnya kepada kupastuntas.co.

"Saya mulungnya pagi sama sore, sehari paling dapat Rp15.000 ," kata Mbah Cokro, Senin (26/9/2022).

Mengejutkan, dengan penghasilan ala kadarnya ia tetap dapat bertahan dari kerasnya kehidupan dunia.

Mbah Cokro menceritakan, bahwa setiap pagi sekitar pukuk 06.00 WIB ia telah keluar rumah untuk berkeliling mengayuh sepedanya mencari rongsokan, dan kembali sampai kerumah sekitar pukul 11.00 WIB pulang untuk isitarahat dan makan.

Setelah itu, ia kembali keluar mencari rongsokan pada pukul 16.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB, hal itu terus konsisten ia lakukan.

Sebelum menjadi pemulung, mbah Cokro kerap berganti-ganti profesi selama hidupnya, dari pekerja kebun masa penjajahan Belanda, kenek BUS, supir BUS, buruh tani, hingga pemulung singkong.

"Kalau zaman Belanda dulu saya ke Sumatera Utara jadi buruh kebun teh, ya kalau sama Belanda enak makanya di tanggung," tukasnya.


Cukup mengherankan, dimana masa penjajahan bagi sebagaian orang adalah masa kesengsaraan, justru menurut mbah Cokro lebih baik dibandingkan zaman kemerdekaan saat ini.

Meskipun terbiasa dengan hidup susah, semangat perjuangan hidup mbah Cokro tak dapat diragukan untuk kehidupan generasi penerusnya yang lebih baik.

Anak Mbah Cokro, telah lulus dari pendidikan sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) di tengah keterbatasan hidup ia selama ini.

Anaknya, telah merantau ke Ibu Kota Jakarta puluhan tahun lalu untuk mencari kehidupan yang lebih layak dengan bermodalkan ijasah SMA yang dimilikinya.

Tak mau bergantung pada anaknya, itulah alasan utama ia terus bekerja diusia senja. "Ya dari pada nganggur dan dari pada nyusahain anak, lebih baik mulung," ujar mbah Cokro.

Mbah Cokro, saat ini hidup sebatang kara disebabkan oleh istrinya yang telah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu dan anaknya yang telah merantau ke Ibu Kota Jakarta, semenjak saat itu ia harus mencari makan, memasak, mengurusi rumah sebatang kara.

Mbah Cokro adalah representasi perjuangan seorang ayah menghidupi dirinya dan keluarganya untuk kehidupan yang lebih baik ditengah keterbatasan.

"Yaa alhamdulillah anak saya lulus SMA walaupun saya gak sekolah, yaa harapan saya anak saya lebih baik dari saya lebih sukses," harap mbah Cokro.

Perbincangan berkahir, mbah Cokro berpamitan pulang sembari membawa botol bekas air mineral serta beberapa roti teman kami berbincang pada hari itu.

"Saya pulang duluan ya nak," ujar mbah Cokro sembari tersenyum berpamitan. (*)