• Sabtu, 01 Oktober 2022

Kisah Pilu Janda 6 Anak di Way Kanan, Butuh Bantuan Hingga Kurang Perhatian Pemerintah

Jumat, 23 September 2022 - 11.48 WIB
224

Sulastri Hartini dan anaknya Deki saat ditemui di kediamannya, Desa Banjar Agung, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan, Jumat (22/09/2022). Foto: Rahman/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Way Kanan - Siapa yang tidak merasa iba dan prihatin melihat kondisi keluarga Sulastri Hartini di Kabupaten Way Kanan, Lampung, yang hidup dengan enam anak dan sangat kurang mampu dan kurang perhatian dari pemerintah.

Sulastri adalah seorang janda yang dimana menjelang masa tuanya bersama enam anaknya harus bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi yang begitu sulit dirasa.

Sulsatri (55) yang merupakan warga Desa Banjar Agung, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan, harus bertahan hidup. Dimana 4 anaknya masih bersekolah.

Kisah keluarga pahit  Sulastri ini sendiri nyaris luput dari perhatian pemerintah daerah maupun pusat.

Selain hidup tidak mampu, Sulastri juga harus rela ditinggal suaminya 3 tahun silam. Sulastri dipaksa sendiri membesarkan ke 6 anaknya.

Sulastri bersama 6 anak nya tinggal di sebuah rumah berukuran 4x6 meter berdinding papan yang berlapisan terpal yang nyaris roboh, sehingga saat hujan rumahnya bocor dimana-dimana.

Dalam keseharian, Sulastri hidup membanting tulang sendiri. ia berjualan mainan anak-anak di pasar atau pun di tempat pesta atau keramaian. Selama ini buk Sulastri dibantu oleh anaknya yang bernama deki untuk mencukupi kebutuhan sehari hari keluarga.

"Semenjak suami saya meninggal 3 tahun lalu, saya bersama anak saya yang kedua mencukupi kebutuhan sehari-hari. Anak saya jualan ikan hias, ikan cupang itu. Kalau saya jualan mainan anak anak," ujar Sulastri, saat ditemui di kediamannya, Jumat (22/09/2022).

Sulastri bercerita, di tengah kebutuhan keluarga yang semakin berat dan meskipun serba kekurangan, anak-anak nya masih tetap melanjutkan pendidikan sekolah.

"Walaupun di keluarga kami serba kekurangan, allhamdulilah anak saya yang masih sekolah ada 4 pak, termasuk si Deki, yang 1 masih SD, dan yang 1 masih SMP, dan yang satu lagi sekolah di MAN, dan si Deki kuliah di kampus Way Kanan sini," ungkapnya.

Sulastri juga mengaku anaknya yang bernama Deki harus cuti kuliah karena harus ikut bekerja membantu kebutuhan keluarga.

"Anak saya yang kuliah itu sekarang lagi cuti, iya kayak mana buat kebutuhan sehari hari saja tidak cukup. Apalagi buat biaya kuliahnya, jadi dia ikut kerja jualan bantu bantu kebutuhan rumah. Hari ini saja anak saya tidak sekolah yang SMA, sama yang SMP, tidak ada ongkos buat berangkat naik angkot," ungkapnya.

Sulastri pernah didatangi orang dari pemerintahan pusat untuk didata menerima bantuan bedah rumah dan lain-lain nya.

"Kalau didata sudah sering, sudah 2 kali rumah saya didatangi untuk didata menerima bantuan bedah rumah, sampai orang  pusat kesini itu. Bahkan saya pernah dikumpulkan di balai desa tanda tangan materai dan membayar Rp30 ribu supaya dapat bantuan," ungkapnya.

Sulastri mengaku tetap bersyukur atas apa yang diberikan tuhan kepada keluarganya. "Saya masih bersyukur diberi kesehatan, dan anak-anak yang sehat. Semoga saya dikasih umur panjang, kelak saya bisa lihat anak-anak saya sukses, untuk bantuan itu saya tidak terlalu memikirkan pak, kalau memang hak orang kecil, tolong diberikan kepada yang memang berhak menerimanya," tuturnya.

Sementara Deki, anak Sulastri yang cuti kuliah bekerja mengatakan, ia saat ini sedang cuti kuliah untuk membantu ibunya bekerja mencukupi kebutuhan sehari hari keluarga.

"Lagi cuti, bantu ibu nambah-nambah pemasukan, sekarang jualan ikan hias," ungkapnya.

Deki mengaku sudah hampir 3 bulan belakangan ini jualan ikan hiasnya mengalami penurunan, bahkan ia jarang berjualan karena ibunya sedang sakit-sakitan.

"Jaga ibu di rumah. Sebenarnya ini bukan rumah tapi gubuk namanya, kalau hujan kita kumpul jadi satu, ini kan cuma satu kamar, jadi kita tidur bareng," ungkapnya.

Deki pun berharap, agar dirinya selalu diberi kesehatan agar dapat selalu mencari rezeki buat kebutuhan keluarganya.

"Semoga selalu sehat, kasian adik-adik saya masih kecil, ibu saya juga sudah tua. Semoga saya bisa menyelesaikan pendidikan saya, biar saya sukses bisa menngangkat derajat keluarga. Biar ibu dan adik-adik saya bangga," tutupnya. (*)


Video KUPAS TV : Tiga Rumah Milik Warga Kemiling Amblas Terbawa Longsor