• Sabtu, 01 Oktober 2022

Petani Durian Montong di Lambar Raup Untung Ratusan Juta Sekali Panen

Kamis, 22 September 2022 - 11.42 WIB
140

Syahril (60) (Tengah) pemilik kebun durian montong di Pekon Kembahang, Kecamatan Batu Brak, saat dimintai keterangan, Kamis (22/9/2022). Foto: Echa/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Budidaya tanaman durian montong di Kabupaten Lampung Barat (Lambar) memang cukup menjanjikan untuk dijadikan usaha untuk bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bahkan omset yang bisa di hasilkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Syahril (60) warga Pekon (Desa) Kembahang, Kecamatan Batu Brak. Di lahan miliknya seluas satu hektare lebih Syahril mampu membudidayakan 150 batang tanaman durian montong yang di tanamnya sejak 17 tahun silam.

Syahril menceritakan awal mula dirinya menjalankan bisnis durian montong tersebut atas inisiatif salah satu pihak keluarganya yang meminta dirinya untuk menanam durian montong, namun saat itu dirinya masih ragu sebab mengingat kondisi geografis Lambar.

"Dulu ada keluarga yang menanam durian montong juga di bogor, nah mereka ingin kalau saya juga membuka usaha yang sama di Lambar tetapi saya masih ragu karena kan disini suhu nya dingin takut gagal, tetapi dia bilang kalau bogor lebih dingin jadi di coba dulu saja," kata Syahril, saat di kunjungi di kebunnya, Kamis (22/9/2022).


Setelah itu dirinya pun mulai mempersiapkan lahan yang akan digunakan sebagai tempat budidaya durian montong, bahkan ia rela merubah lahan yang tadinya digunakan untuk menanam buah jeruk menjadi buah durian montong sesuai dengan permintaan keluarganya.

Syahril juga mengatakan, modal pertama yang dikeluarkan untuk memulai usaha budidaya durian montong terbilang sangat besar, bahkan dirinya harus merogoh kocek sebesar Rp500 Juta untuk menggarap lahan hingga penanaman bibit durian montong yang di mulai sejak 2005.

Dirinya pun harus menunggu selama lima tahun untuk bisa merasakan panen pertama, sebab menurutnya idealnya rata-rata durian montong baru bisa berbuah sejak masa tanam setelah berusia 5 tahun. Panen pertama dirinya pun merasa puas terhadap hasil yang di dapat.

"Panen pertama alhamdulilah buah nya bagus dan sejak itu juga masyarakat banyak yang berdatangan untuk merasakan durian montong kita ini, karena baru pertama panen dan masyarakat yang datang begitu banyak kita sampai kewalahan melayaninya," kata Syahril

Sementara untuk penjualan, Syahril mematok harga Rp50.000 per Kg ditimbang utuh dengan kulitnya. Durian montong yang terkenal dengan rasa manisnya yang legit dan memiliki daging buah yang tebal serta isinya yang kecil memang sangat di gandrungi oleh masyarakat.

Bahkan saat ini untuk pembeli yang datang kebanyakan berasal dari luar daerah seperti Bengkulu, Tangerang, Palembang, Pesisir Barat serta dari berbagai daerah lainnya yang memang sengaja datang untuk merasakan durian montong miliknya.

Untuk masa panen sendiri ia mengatakan biasanya terjadi pada bulan April hingga Mei, dalam sekali panen dirinya mampu meraup omset sebesar Rp150 juta dan dalam satu batang pohon bisa menghasilkan sebanyak 60 biji durian montong siap panen.

"Untuk penanaman pohon kita kasih jarak 10x8 meter makanya buahnya alhamdulilah bisa banyak, untuk perawatan sendiri kita biasanya menggunakan pupuk kandang yang kita dapat dari peternak-peternak kambing jadi tidak menggunakan pupuk-pupuk kimia," katanya

Namun Syahril mengaku untuk panen tahun depan ia mengkhawatirkan akan terjadi gagal panen, sebab ada fenomena dimana ketika musim pertama kemarin belum habis buah sudah ada bunga yang tumbuh, sebab biasanya dari musim pertama ada jeda 4 bulan untuk bunga baru tumbuh.

"Jadi ini kayaknya kita gagal panen tahun depan, soalnya pas panen kemarin buah belum habis udah ngembang lagi, karena biasanya harus jeda 4 bulan dulu baru ngembang biar bisa panen di bulan April atau Mei itu tapi ini tidak jadi kemungkinan kita gagal panen," katanya

Meskipun ada kemungkinan untuk gagal panen namun Syahril mengatakan dirinya merasa tidak dirugikan, sebab budidaya durian montong yang di gelutinya merupakan milik pribadi sehingga sudah menjadi resiko ketika memang terjadi gagal panen.

"Kalau rugi sih enggak, karena kan ini milik kita sendiri dan kalaupun tahun depan gagal panen itu baru yang pertama terjadi jadi sudah resiko lah enggak apa-apa, karena dalam usaha kan tidak selalu mulus, kita juga bukan cuma jual buahnya tapi bibitnya juga kita jual," pungkasnya. (*)


Video KUPAS TV : Waspada! Ribuan Orang di Lampung Terjangkit Demam Berdarah