• Sabtu, 01 Oktober 2022

Intip Usaha Miftahul Sidik Asal Pringsewu, Budidayakan Jamur Tiram, Raup Untung Jutaan Rupiah

Kamis, 22 September 2022 - 17.03 WIB
42

Miftahul Sidik saat memegang baklog (media tempat tumbuh jamur tiram) di gudang budidaya jamurnya. Foto: Gamel/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Pringsewu - Pintar menangkap peluang dan berani mencoba kata yang tepat untuk disandangkan pada pemuda berusia 26 tahun asal Pekon Wonokriyo, Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu yakni Miftahul Sidik, sebab di usia muda Ia sudah memiliki usaha sendiri yaitu budidaya jamur tiram.

Sidik sapaan akrabnya mulai membudidayakan jamur tiram sejak tahun 2019 dengan memanfaatkan gudang yang terletak di samping rumahnya.

Ia mengatakan bahwa usahanya ini sempat terimbas dampak dari pandemi covid-19 tahun 2020 lalu, sehingga membuat usahanya ini berhenti sejenak. Tetapi keadaan tersebut tidak membuat ia patah semangat, Sidik pun mulai kembali mengelola usahanya tersebut hingga kembali bangkit sampai sekarang.

"Awal mulai 2019 sebelum pandemi, tapi tidak lama pandemi kan muncul jadi ikut kena imbas. Tapi setelah itu saya coba mulai usaha lagi dan alhamdulillah sampai sekarang masih berlanjut," Ucap Sidik, Kamis (22/9/22).

Usaha jamur tiram yang dinamakan "chana mushroom" ini memasarkan hasil produknya masih di sekitar wilayah Pringsewu dan Jatimulyo, Lampung Selatan.

"Kalau sudah panen kita jual ke cafe-cafe sekitar, ke pondok juga untuk olahan makanan mereka di sana, juga pada tukang sayur keliling, tapi untuk pemasaran masih di sekitar Pringsewu dan Jatimulyo," Katanya.

Sidik membeberkan secara singkat proses bagaimana dirinya dapat memproduksi jamur tiram. Pertama, bahan atau media yang dipakai adalah serbuk dari pohon karet.

Kemudian, serbuk pohon karet itu dicampur dengan berbagai nutrisi diantaranya dedek, gamping, jagung giling maupun beras yang sudah digiling.

"Setelah itu, dilakukan proses fermentasi dengan cara diungkep selama 2 sampai 3 hari untuk pembusukan bakteri. Lalu dilakukan sterilisasi (dikukus) untuk menghilangkan jamur liar didalam baklognya agar nanti saat tumbuh hanya jamur tiramnya saja," Terangnya.

Dan terakhir, ketika semua sudah siap maka bahan yang sudah diproses dimasukan ke dalam plastik berukuran 1 kg lalu ditutup dan diletakan di dalam gudang atau ruangan yang bersuhu lembab agar jamur tumbuh dengan sendirinya.

"Untuk masa tanam jamur hingga jamur itu tumbuh dan dapat mulai dipanen itu memakan waktu selama kurang lebih 50 hari," Ujarnya.

Ketika jamur tumbuh, maka jamur tersebut bisa dipanen dalam jangka waktu 4 bulan berturut-turut, dan setelah itu biasanya baklog akan mati karena nutrisi didalamnya sudah habis dimakan oleh jamur yang tumbuh itu, sehingga akan digantikan dengan yang baru.

"Panen bisa 4 bulan berturut-turut misalkan hari ini panen, besok bisa panen lagi karena jamur ini kan cepat tumbuhnya. Satu hari rata-rata bisa panen sampai 5 kg tapi kalau lagi bagus-bagusnya bisa sampai 70 kg," Lanjutnya.

Sidik juga mengatakan bahwa keuntungan atau omset yang dirinya dapat dari hasil usahanya ini dalam satu bulan bisa menghasilkan hingga 4,5 juta rupiah.

"Sebulan sekitar segitu, sudah dikurangi modal dan lain-lainnya," Singkatnya.

Disampaikanya bahwa harga jamur sendiri untuk saat ini bisa mencapai Rp15 ribu per kilonya.

"Tapi nanti kalau musim hujan biasanya per kilo itu Rp10 ribu karena stoknya mulai banyak," Lanjutnya.

Sementara itu, dalam menjalankan proses budiaya jamur tiram sendiri terkadang tidak terlepas dengan gangguan hama seperti hama ulat dan gurem (hewan kecil seperti kutu), dimana hal ini jika tidak diatasi maka akan merusak proses pertumbuhan jamur.

"Biasanya akan terlihat kalau diserang hama dan lokasinya berada di bagian depan baklognya, saat ada hama maka segera kita semprot obat," Terangnya.

Jika ada yang berminat memasan jamur tiram Sidik, bisa menghubungi kontak whatsapp di 0853-6666-0830 atau datang langsung di kediamannya di Pekon Wonokriyo, Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu. (*)