• Sabtu, 01 Oktober 2022

Tukiran dan Haryati Jadi Pemulung Demi Biayai Sekolah Anak

Senin, 12 September 2022 - 10.29 WIB
151

ukiran (47) dan Haryati (49) adalah pasangan suami istri yang tinggal di Desa Sukanegri, Kecamatan Gunung Labuhan, Kabupaten Way Kanan menggantungkan hidup nya dari sampah untuk mencukupi kehidupan sehari hari dan kebutuhan ketiga anaknya yang masih sekolah. Foto : Rahman/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Way Kanan - Tukiran (47) dan Haryati (49) adalah pasangan suami istri yang tinggal di Desa Sukanegri, Kecamatan Gunung Labuhan, Kabupaten Way Kanan menggantungkan hidup nya dari sampah untuk mencukupi kehidupan sehari hari dan kebutuhan ketiga anaknya yang masih sekolah.

Saat didatangi di kediamannya, senyum mereka merekah menyapa orang-orang yang lewat didekatnya, dan tanpa malu hayati tetap melanjutkan pekerjaannya, memilah dan memilih hasil dari mulung nya pada hari itu.

Tangan kecil Haryati tetap lincah menarik dan membersihkan sampah yang didapatnya meskipun tangan kanan nya mengalami kecacatan dari kecil dan pak Tukiran pun bercerita sudah memulung sudah hampir 20 tahun lamanya.

"Mulai mulung sudah lama mas, dari tahun 2002. iya lumayan dari mulung ini mas kalau dijual, sekilonya sekitar Rp1.500, dijualnya di Gudang sini ada bos nya," ujarnya saat memberikan keterangan Senin (12/09/2022).

Tukiran dan Haryatai mengumpulkan sampah di jalan lintas tengah sumatera  sampai bukit Lampung Utara menggunakan gerobak dorong.

"Iya mulung nya di jalan mas, dari Baradatu sampai Bukit Lampung Utara, tak tau berapa jauh itu mas, gak kerasa lagi karena sudah setiap hari dikerjakan,''ujarnya.

Tukiran pun bercerita penghasilan yang didapat setiap hari nya hanya 30 ribu rupiah.

"Penghasilan dari mulung setiap harinya tidak nentu mas, paling besar itu 30 ribu, jadi kadang tidak langsung dijual, dikumpukan dulu sudah beberapa hari baru kemudian dijual,"ungkapnya.

Ia mengungkapkan, saat memulung dirinya pernah mengalami kejadian yang kurang mengenakan, gerobaknya hancur ditumbur oleh pengendara mobil.

"Iya belum lama ini gerobak saya hancur mas ditumbur dan allhamduliah saya tidak apa apa, itu bak gerobak saya baru itu saya perbaiki lagi, saya ganti bak nya,"ungkapnya.

Selain memulung, Tukiran memiliki pekerjaan sampingan yakni upahan atau paroan hewan ternak milik tetangganya.

"Saya upahan juga mas, paroan kambing punya tetangga jadi nantinya bagi hasil, jadi setiap habis saya pulang mulung langsung cari rumput buat makan kambing,"kata dia.

Tukiran kembali bercerita keluarganya pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa PKH, namun bantuan tersebut sudah tidak pernah diterima keluarganya kembali hampir 2 tahun belakangan ini, padahal bantuan PKH tersebut sangat membantu dan menopang hidup dikeluarganya.

"Untuk bantuan pemerintah saya dapet mas, tapi sudah hampir 2 tahun ini keluarga saya tidak dapat lagi, padahal bantuan PKH itu sangat membantu keluarga saya, karena bantuan itu untuk biaya anak anak saya sekolah, gak tau kenapa bantuan saya itu gak keluar lagi. Semoga saya dan istri saya sehat terus mas, biar bisa menyekolahkan anak saya sampai selesai dan sukses,"tutupnya. (*)


Editor :