• Selasa, 27 September 2022

Pemupukan Kerap Telat, Petani Jagung di Lampung Kehilangan Pendapatan Rp6,6 Juta per Tahun

Rabu, 17 Agustus 2022 - 18.59 WIB
92

Petani Jagung di Lampung Kehilangan Pendapatan Rp6,6 Juta per Tahun. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Petani jagung di Provinsi Lampung mengalami kerugian cukup besar akibat pemupukan yang kerap terlambat. Petani kehilangan pendapatan ditaksir mencapai Rp6,6 juta setiap tahun.

Pengiriman pupuk subsidi yang kerap terlambat berdampak besar terhadap para petani di Lampung. Pemupukan yang seharusnya terjadwal sesuai kebutuhan tanaman, harus molor karena stok pupuk yang kosong. Keterlambatan pengiriman pupuk subsidi ke petani ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. 

Dampak kerugian cukup besar akibat pemupukan yang terlambat salah satunya dialami oleh petani jagung. Jika pemupukan dilakukan secara teratur dan tepat waktu, petani jagung bisa mendapatkan hasil panen mencapai maksimal 9 ton per hektar.

Sedangkan jika pemupukan terlambat produktivitas jagung turun mencapai 1 sampai dengan 2 ton atau turun menjadi 8 ton per hektar.  

Wahyu, seorang petani di Negeri Katon, Pesawaran menuturkan, petani jagung sangat membutuhkan pupuk tepat waktu untuk menjaga agar hasil panen bisa maksimal. Kenyataannya, selama ini pengiriman pupuk subsidi ke petani jagung selalu terlambat setiap tahunnya.

Bahkan, sering terjadi usulan kebutuhan pupuk yang dilaporkan sesuai Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) saat pupuk subsidi dikirim jumlahnya jauh berkurang. 

“Sudah bertahun-tahun mas pupuk subsidi yang dikirim ke petani selalu terlambat. Bahkan sering pupuk yang diajukan dalam RDKK tidak sama dengan yang dikirim. Tapi petani tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Wahyu, saat dimintai keterangan, Rabu (17/8/2022). 

Wahyu juga mengatakan, dalam satu hektar tanaman jagung dibutuhkan minimal 1,2 ton untuk pupuk Urea dan Poskha. Dalam satu tahun petani menanam jagung sebanyak dua kali. 

“Kalau pemupukan normal dalam satu hektar kita mampu panen jagung sebanyak 9 ton. Sedangkan jika pemupukan terlambat panen bisa turun rata-rata 8 ton per hektar. Jika turunnya mulai 1 sampai dengan 2 ton,” lanjut Wahyu.

Wahyu menerangkan, saat ini harga jagung di tingkat petani rata-rata Rp3.300 per kilogram. Jika pemupukan terlambat pendapatan petani yang hilang bisa mencapai Rp3,3 juta per hektar atau Rp6,6 juta per tahun karena setiap tahu terjadi dua kali panen jagung. 

Jika di Provinsi Lampung luas lahan tanaman ada 475.572 hektar sesuai data 2021, maka pendapatan petani jagung yang hilang bisa mencapai Rp1.569.387.600.000 sekali panen atau sebesar Rp3 triliun lebih dalam satu tahun karena jagung bisa dipanen dua kali dalam satu tahun.

"Memang dampaknya cukup besar bagi petani jagung kalau pemupukan sering terlambat. Harapannya tentu kondisi seperti ini bisa diperbaiki agar pendapatan petani bisa naik lagi,” ungkapnya. (*)


Video KUPAS TV : Aksi Demo Petani Singkong di Depan Gedung DPRD Lampura diwarnai kericuhan